Oleh: Ahmad Zainul Khofi*
Beberapa pekan terakhir ini, jalan Situbondo-Banyuwangi adalah titik kemacetan yang berdampak dahsyat. Terlepas dari adanya perbaikan sejumlah jembatan, beragam rekayasa dan permainan pernah dilakukan di sana. Namun tetap saja membuat banyak pengendara jalan seperti merasakan “derita romusha” yang dilakukan oleh rakyat lokal sendiri.
Sebagai seorang pengguna jalan yang hendak menuju Banyuwangi atau dari Banyuwangi ke daerah barat, entah itu untuk kepentingan penyebrangan kapal, wisata, bisnis, dan sebagainya, adalah lintasan yang wajib dilalui, tak dapat dihindari. Banyak keperluan yang mengharuskan melintasi jalan ramai Situbondo-Banyuwangi itu. Lokasinya merupakan jalan pantura alias penghubung antar kota/kabupaten, juga antar provinsi.
Kepadatan (mobilitas) itu tidak seimbang dengan kemacetan yang panjang dan dibuat-buat. Setiap pagi, siang, sore, sampai malam kepadatan roda dua dan empat tak bisa terelakkan.
Suatu ketika, malam hari, saya dari Situbondo melakukan perjalanan ke Banyuwangi, tiba di jalan itu, kami terjebak macet. Sontak, dua orang anak muda berkendara motor menghampiri dan berkata “mas mau jalan alternatif, seharga bensin?”.
Sambil menolaknya, hati ini berdentum “ada yang nggak beres di sini”. Memang sedari awal saya perhatikan banyak oknum pemuda (rakyat) setempat berlalu-lalang kesana kemari tak kenal arah dan bagaikan lalat yang ada dalam botol tertutup. Pun saya tak melihat satupun aparat keamanan yang stand by melaksanakan tugasnya untuk menertibkan lalu lintas di jalan itu
Perasaan saya itu semakin diperjelas setelah melihat kondisi di kedua belah jalan–arah timur ke barat dan barat ke timur–sama-sama berhenti, tak ada kendaraan yang melintas sama sekali, kecuali grup para oknum pemuda (rakyat) tadi yang berlalu lalang seakan mencari mangsa. Ini sangat aneh, karena apabila antrian jalan itu ditertibkan, maka salah satu belahnya akan ada yang bergerak, berjalan secara bergantian, kalau ini tidak sama sekali, pun di waktu yang tak sebentar. Yang ada hanyalah penyegatan oleh petugas-petugas yang terkadang pun meminta uang di setiap pos nya. Hal itu memang tidak memaksa pengendara untuk mengeluarkan uang, namun mereka telah membuat kondisi para pengguna jalan itu sangat tidak nyaman dan terganggu.

Saat ini apabila Anda ingin melintasi jalan itu, maka saya menyarankan untuk mempersiapkan sejumlah bekal, diantaranya: uang receh untuk petugas-petugas yang suka pungutan liar (pungli), uang bensin untuk mereka jika ingin lewat jalan alternatif, makanan dan minuman untuk menemani Anda menyaksikan drama permainan macet, energi yang cukup untuk mengeluarkan emosi, dan waktu yang banyak. Malam itu, hanya di kemacetan jalan itu saja, saya menghabiskan waktu kurang lebih dua jam yang ketika di kondisi normal waktu itu cukup untuk perjalanan Situbondo-Banyuwangi.
Sungguh memprihatin, apa yang dilakukan oleh beberapa oknum tersebut, setempat, kekompakan yang diturunkan dan strategi yang diterapkan, akhirnya bermuara pada perbuatan anarkisme.
Dunia malam kemacetan di Jalan Situbondo-Banyuwangi itu membawa sekelumit dampak positif dan negatif, di satu sisi memberikan keuntungan bagi oknum-oknum yang bermain di dalamnya. Di sisi lain, tak sedikit memberikan dampak negatif bagi para pengendara, pengunjung, pembisnis, seterusnya dan seterusnya. Dalam skup kecil, mereka para pengguna jalan merasa rugi oleh waktu dan energi yang terbuang sia-sia. Dalam skup yang lebih besar, mobilitas perekonomian negara secara tidak langsung mengalami perlambatan, contoh kecilnya adalah stok Bensin Pertalite di SPBU beberapa daerah setempat sering kosong dikarenakan suplai yang terlambat. Masih sebagian kecilnya, belum lagi sebagian-sebagian yang besar.
Lantas siapa yang bersalah (pelaku) dan siapa yang harus bertanggungjawab atas masalah yang terjadi itu? Tentu kita tidak bisa berpikir secara biner, perlu menimbang dengan berbagai perspektif. Misalnya, kita tidak bisa langsung menyalahakan para oknum pemuda (warga) setempat yang melakukan permainan tersebut, sementara oknum aparat keamanan bukannya hadir melaksanakan amanah tugasnya untuk menertibkan kondisi kemacetan di jalan itu, ia hilang entah kemana perginya, mungkin tertidur pulas di atas kasur berdolar.
Sebagai solusi, harusnya semua elemen baik masyarakat setempat dan pemerintah bergerak serempak demi misi kemanusiaan, kenyamanan bersama. Bukan malah menjadikannya sebagai tontonan dan mencari uang untuk kepentingan individu. Di sisi lain kurang peduli pada kemaslahatan umat, tentu itu berakibat buruk dan berdampak besar baik secara langung dan tidak langsung bagi individu pengendara hingga ketakstabilitasan perekonomian negara. Sekali lagi, hal yang masih mengganjal adalah “Quo vadis aparat kemanan dan ketertiban umum?”.
*) Penulis merupakan pegiat literasi filsafat-sospol dan anggota kelompok kajian Mujaddid Paiton, Probolinggo.


