Gen Z di Persimpangan Zaman: Bagaimana Agama Menjadi Kompas Moral di Era Digital

  • Bagikan
Nadila Tri Wahyuni

Oleh : Nadila Tri Wahyuni*

Derasnya arus teknologi informasi telah membentuk wajah baru kehidupan generasi muda, khususnya Generasi Z. Tumbuh bersama internet dan media sosial, Gen-Z dikenal adaptif, kreatif, dan terbuka terhadap perubahan. Namun, di balik keunggulan terseb0ut, tersimpan tantangan moral yang tidak ringan. Fenomena perundungan siber, penyebaran hoaks, budaya pamer, hingga menurunnya kesantunan berkomunikasi menjadi potret nyata krisis etika di ruang digital. Dalam konteks inilah, agama kembali menemukan relevansinya sebagai penuntun moral di tengah perubahan zaman.

Agama sejatinya tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga menjadi sumber nilai universal dalam kehidupan sosial. Nilai kejujuran, keadilan, kasih sayang, dan saling menghormati yang diajarkan agama tetap relevan meskipun dunia terus berubah. Bagi Gen-Z yang hidup dalam budaya viral dan serba cepat, agama berfungsi sebagai kompas moral agar tidak mudah hanyut dalam tren yang bertentangan dengan etika. Di tengah maraknya misinformasi, misalnya, ajaran untuk tabayyun atau memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya menjadi sangat penting.

Lebih dari itu, agama berperan besar dalam membentuk karakter dan identitas diri generasi muda. Media sosial kerap menciptakan tekanan untuk tampil sempurna demi validasi publik. Banyak anak muda akhirnya mengalami kecemasan, stres, bahkan krisis identitas. Agama hadir menawarkan perspektif berbeda: bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh jumlah pengikut atau penilaian orang lain, melainkan oleh kualitas moral dan amal kebaikan. Kesadaran ini membantu Gen-Z membangun kepercayaan diri yang sehat serta sikap rendah hati dan empati.

Dalam kehidupan sosial, agama juga menjadi fondasi etika komunikasi. Interaksi digital yang minim kontrol sering membuat orang bebas berujar tanpa memikirkan dampaknya. Ajaran agama tentang adab berbicara, larangan menghina, dan kewajiban menjaga perasaan sesama menjadi sangat relevan untuk menata ulang etika bermedia sosial. Jika nilai ini diinternalisasi, Gen-Z berpotensi menciptakan ruang digital yang lebih sehat, inklusif, dan menghargai perbedaan.

Menariknya, Gen-Z dikenal memiliki kepedulian tinggi terhadap isu sosial dan kemanusiaan. Ketika semangat ini dipadukan dengan nilai agama seperti tolong-menolong dan kepedulian terhadap sesama, lahirlah gerakan sosial yang lebih tulus dan berkelanjutan. Aktivisme tidak lagi sebatas tren atau pencitraan, melainkan berakar pada kesadaran moral yang mendalam.

Agama juga mengajarkan pengendalian diri, sesuatu yang sangat dibutuhkan di era serba instan. Kesabaran, disiplin, dan kemampuan menahan diri membantu Gen-Z tidak bertindak impulsif, baik dalam menyikapi konflik di media sosial maupun dalam menghadapi godaan konten negatif. Lebih jauh, agama memberi arah hidup dan harapan di tengah tekanan akademik, sosial, dan ekonomi yang semakin kompleks.

Pada akhirnya, agama tetap memiliki peran yang tidak tergantikan dalam membentuk etika masyarakat di era Gen-Z. Tantangannya bukan terletak pada ajarannya, melainkan pada cara penyampaiannya. Agama perlu disampaikan secara bijak, kontekstual, dan dialogis agar dapat diterima sebagai sumber inspirasi moral, bukan sekadar aturan kaku. Jika nilai-nilai agama mampu diintegrasikan secara positif dalam kehidupan Gen-Z, maka Indonesia akan memiliki generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara etika dan bermartabat.


*) Nadila Tri Wahyuni adalah mahasiswa Program Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang


Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.comatau download App HarianjatimCom

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
Booking todo incluido ofertas al caribe.