Oleh: Rosyidatul Hasanah*
Guru merupakan sosok yang paling penting dalam pendidikan di Indonesia, terutama guru PAI yang merupakan tiangnya pendidikan. Guru PAI merupakan guru yang mengajarkan ilmu agama Islam dan akhlak yang baik serta mengajarkan etika yang baik terhadap masyarakat. Guru PAI buakan lah guru biasa, Ia memiliki peran yang sangat penting bagi masyarakat, terutama bagi umat Islam. Namun di zaman sekarang, sudah banyak sekali calon-calon guru PAI yang melenceng dari ajaran atau syariat Islam. Mereka memang mempelajari ilmu agama Islam, memahaminya, dan dapat menjelaskan dengan baik tentang ilmu tersebut, namun sikap dan etika mereka tidak mencerminkan bahwa mereka adalah seorang guru PAI.
Padahal, seorang guru PAI seharusnya dapat memberikan contoh terhadap peserta didiknya dan kepada masyarakat. Sehingga nilai-nilai agama Islam masih melekat pada masyarakat yang menjadikan iman mereka kuat atau kokoh di tengah zaman yang semaik modern. Hal ini bisa berdampak terhadap negara Indonesia, yang mana suatu negara menjadi lebih maju dikarenakan masyarakatnya menjunjung tinggi nilai-nilai agama Islam. Bayangkan saja jika negara kita saat ini bisa seperti itu, sudah dapat dipastikan negara Indonesia akan menjadi aman dan tentram. Karena pada dasarnya ilmu agama Islam memiliki dampak yang sangat besar bagi masyarakat, tak hanya untuk rakyat biasa namun juga untuk kepemerintahan Indonesia. Maka sudah dipastikan bahwa negara Indonesia akan menjadi negara yang lebih maju, keuangan negara utuh karena tidak adanya korupsi, hukum tidak tumpul ke atas dan lancip ke bawah, dan lingkungan lebih aman karena tidak adanya tindakan kriminal.
Maka tugas dari guru PAI adalah mendidik anak-anak generasi muda dan kepada masyarakat tentang pentingnya nilai-nilai agama Islam dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya sebagai profesi, namun sebagai seorang pendakwah yang menyebarkan ilmu agamanya kepada masyarakat untuk mewujudkan negara maju yang berlandaskan syariat agama Islam. Namun, persoalannya sekarang adalah kualitas guru PAI yang dipertanyakan oleh masyarakat Indonesia, yang mana anak Gen Z sekarang hanya mempelajari ilmu agama Islam, namun tidak mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari mereka. Hal inilah yang menjadikan guru PAI sering dipertanyakan keberadaannya, apakah mereka hadir untuk mendidik atau hanya formalitas untuk sebagai profesi saja.
Pada tahun 2025 ini, sudah sering sekali kita menemukan calon atau guru PAI muda yang sikapnya dianggap melenceng jauh dari syariat Islam. Padahal, para peserta didik dan masyarakat bisa belajar tak hanya dari ucapan dan penjelasan dari guru, melainkan dengan cara mereka melihat tinkah laku seorang guru, sifat, dan sikapnya untuk mereka tiru. Jika guru PAI berperilaku tidak selayaknya seorang guru PAI, maka peserta didiknya pun akan berperilaku sama seperti guru tersebut. Ada beberpa permasalahan yang sampai sekarang masih belum terselesaikan, yang pertama adalah berkata kotor.
Di kehidupan anak muda atau Gen Z di zaman sekarang, berkata kotor sudah menjadi kebiasaan yang sering sekali mereka ucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari menyapa, berbincang, dan bercanda dengan teman, pasti tidak lepas dengan kata-kata kotor. Hal ini membuat mereka menormalisasikan perilaku buruk yang seharusnya dihilangkan dan ditinggalkan. Dalam agama Islam, berkata kotor adalah hal yang dilarang diucapkan dan dilakukan oleh umat Islam khususnya, tak hanya karena nilai kesopanan atau etika, melainkan sudha tercantum dalam Qs. Al-Humazah ayat 1 yang berbunyi:
وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ
“Celakalah bagi setiap pengumpat lagi pencela”
Bayangkan saja, seorang guru mengajarkan kepada muridnya jangan pernah berkata kotor, namun dirinya sendiri masih menormalisasikan sikap tidak terpuji itu. Maka sama saja dengan kita mendzolimi murid kita. Hal inilah yang menjadikan kualitas guru PAI di Indonesia masih terbilang lemah.
Kemudian yang kedua adalah cara berpakaian, ini juga merupakan salah satu faktor kualitas guru PAI di Indonesia masih terbilang lemah. Di zaman sekarang, kebanyakan para remaja tidak lagi memperdulikan cara berpakaian mereka menurut syariat Islam. Dalam syariat Islam, pakaian hendaklah menutupi aurat mereka, jika lelaki antara pusat hingga lutut, sedangkan pada wanita seluruh tubuh kecuali telapak tangan dan wajah. Namun, hal ini tidak berlaku lagi di kalangan remaja di zaman ini, mereka hanya mementingkan outfit yang terlihat keren tanpa melihat apakah outfit ini sudah sesuai dengan syaria’at Islam atau tidak. Tercantum dalam Qs. Al-A’raf ayat 26:
يَا بَنِيْٓ اٰدَمَ قَدْ اَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُّوَارِيْ سَوْءٰتِكُمْ وَرِيْشًاۗ وَلِبَاسُ التَّقْوٰى ذٰلِكَ خَيْرٌۗ ذٰلِكَ مِنْ اٰيٰتِ اللّٰهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُوْنَ ٢٦
“Wahai anak cucu Adam, sungguh Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan bulu (sebagai bahan pakaian untuk menghias diri). (Akan tetapi,) pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu merupakan sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Allah agar mereka selalu ingat.”
Hal ini terjadi juga pada guru PAI pada zaman ini, mereka hanya mementingkan outfit apa yang menurut mereka keren dan tren pada saat ini, dan mereka dengan percaya diri memperlihatkan penampilan mereka pada masyarakat. seharusnya guru PAI mencerminkan seorang muslim yang baik sesuai dengan ilmu yang mereka dapatkan tentang adab berpakaian menurut syariat agama Islam. Jika seorang guru PAI tidak mencerminkan seorang muslim maka bagaimana peserta didiknya akan menjadi muslim juga.
Kualitas guru PAI generasi Z menjadi isu yang layak diperhatikan di tengah perubahan sosial dan budaya yang begitu cepat. Kehadiran mereka sebenarnya membawa potensi besar bagi perkembangan teknologi dan pemahaman terhadap karakter peserta didik di era digital. Namun, berbagai persoalan seperti kedalaman ilmu yang belum matang, keteladanan akhlak yang belum konsisten, serta kecenderungan mengutamakan gaya dari pada substansi membuat masyarakat mulai mempertanyakan kompetensi sebagaian dari mereka.
Tantangan ini bukan untuk menjatuhkan, tetapi sebagai pengingat bahwa profesi guru PAI menuntut keilmuan yang kuat, integritas moral, dan kemampuan pedagogik yang matang. Dengan pembinaan yang berkelanjutan, peningkatan kompetensi, danbimbingan dari pendidik senior, serta kesadaran bahwa tugas guru PAI adalah amanah besar, generasi muda pendidik agama dapat tumbuh menjadi sosok yang mampu menjawab kebutuhan zaman. Dengan ini guru PAI gen Z dapat berkembang menjadi figur yang betul-betul mampu membangun karakter peserta didik. Selain itu, perlunya reorientasi kurikulum pendidikan guru menjadi penting agar mereka tidak hanya unggul dalam teknologi, tetapi juga kokoh dalam pemahaman nilai dan tradisi keilmuan Islam.
Dalam konteks yang lebih luas, peningkatan kualitas guru PAI juga membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari lembaga pendidikan, pemerintahan, hingga masyarakat. kolaborasi ini penting agar guru PAI muda mendapatkan lingkungan yang kondusif untuk berkembang. Dengan dukungan tersebut, mereka diharpkan mempu menjalankan peran strategis dalam membimbing generasi masa depan menuju pemahaman agama yang moderat, berkarakter, dan berwawasan luas. Pada akhirnya, kualitas guru PAI Gen Z akan sangat menentukan wajah pendidikan agama di masa depan. Oleh karena itu, upaya memperkuat profesionalitas, karakter, dan kedalaman ilmu mereka merupakan langkah penting agar pendidikan Islam tetap relevan, mendalam, dan mampu menghadirkan nilai-nilai yang membawa rahmat bagi seluruh siswa.
*) Rosyidatul Hasanah adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.


