Oleh: Muflih Rabbany*
Dalam dunia pendidikan, sering kali kita mendengar ungkapan bahwa guru adalah kunci utama keberhasilan murid. Guru dianggap sebagai sosok sentral: sumber ilmu, teladan moral, sekaligus penentu arah masa depan peserta didik. Namun, di balik harapan besar terhadap peran guru, muncul fenomena lain yang tak kalah penting untuk dikritisi, yaitu tuntutan agar murid selalu hebat, berprestasi, dan unggulsering kali dengan cara yang dipaksakan. Di sinilah muncul pertanyaan mendasar: apakah guru harus sempurna agar murid menjadi hebat, dan apakah murid harus dipaksa hebat demi memenuhi standar tertentu?
Makna “Guru Sempurna” dalam Pendidikan
Istilah “guru sempurna” sering kali disalahartikan. Banyak orang menganggap guru sempurna adalah guru yang serba tahu, tidak pernah salah, selalu tegas, disiplin tinggi, dan mampu membuat semua murid berprestasi akademik. Padahal, kesempurnaan dalam konteks pendidikan bukanlah soal tanpa cela, melainkan tentang kesadaran, komitmen, dan kemauan untuk terus belajar.
Guru yang baik bukan guru yang tak pernah salah, melainkan guru yang mau mengakui kesalahan dan menjadikannya pelajaran. Guru sempurna adalah mereka yang memahami bahwa setiap murid unik, memiliki latar belakang, kemampuan, dan kecepatan belajar yang berbeda. Kesempurnaan guru terletak pada empati, bukan pada pencapaian angka semata.
Sayangnya, sistem pendidikan sering kali menuntut guru tampil ideal di atas kertas: target kurikulum harus tercapai, nilai harus tinggi, dan peringkat sekolah harus naik. Tekanan ini mendorong sebagian guru mengajar bukan lagi demi pemahaman murid, tetapi demi hasil yang terlihat.
Murid dan Beban untuk “Harus Hebat”
Di sisi lain, murid hidup dalam tekanan yang tak kalah berat. Sejak usia dini, mereka dibebani ekspektasi untuk menjadi “hebat”. Hebat dalam arti nilai tinggi, juara kelas, juara lomba, masuk sekolah favorit, dan akhirnya sukses secara sosial maupun ekonomi. Kata “hebat” kehilangan makna proses dan berubah menjadi tuntutan hasil.
Banyak murid akhirnya belajar bukan karena ingin tahu, tetapi karena takut gagal. Mereka menghafal, bukan memahami. Mereka mengejar angka, bukan makna. Bahkan, tidak sedikit yang merasa bahwa nilai rendah adalah tanda kegagalan sebagai manusia, bukan sekadar hasil evaluasi belajar.
Ketika murid dipaksa hebat, pendidikan berubah menjadi beban psikologis. Kecemasan, stres, dan kelelahan mental menjadi hal yang umum, bahkan di kalangan pelajar usia belasan tahun. Ironisnya, semua ini sering dibungkus dengan alasan “demi masa depan mereka”.
Relasi Guru dan Murid yang Tidak Seimbang
Hubungan antara guru dan murid idealnya adalah hubungan kolaboratif: guru membimbing, murid belajar. Namun, dalam praktiknya, relasi ini sering kali timpang. Guru berada di posisi otoritas mutlak, sementara murid dituntut patuh tanpa ruang dialog.
Ketika guru merasa harus tampil sempurna, mereka cenderung menuntut murid untuk mengikuti standar yang sama. Murid yang tidak sesuai dianggap malas, bodoh, atau tidak berusaha. Padahal, bisa jadi metode pengajaran yang kurang tepat, atau kondisi murid yang tidak dipahami.
Di sini terdapat sebuah tantangan besar: siswa dipaksa untuk memenuhi standar yang sama, sementara keadaan masing-masing berbeda. Pendidikan yang seharusnya menghargai kemanusiaan justru berubah menjadi sistem yang selektif.
Standar Kesuksesan yang Terbatas
Salah satu penyebab dari fenomena ini adalah pengertian kesuksesan yang terlalu sempit. Sistem pendidikan sering mengagungkan kecerdasan akademis dan kemampuan berpikir tertentu, sementara bakat lain seperti seni, empati, keterampilan sosial, dan kreativitas sering kali diabaikan.
Akibatnya, siswa yang cemerlang di bidang non-akademis merasa kurang berharga. Mereka dipaksa untuk unggul dalam matematika atau sains, meskipun bakat mereka mungkin lebih besar di bidang lain. Para guru, secara sadar atau tidak, juga ikut mempertahankan standar ini karena terikat pada kurikulum dan sistem penilaian.
Sementara itu, dunia nyata memerlukan berbagai macam kemampuan. Tidak semua orang harus menjadi yang terbaik di kelas untuk bisa memberikan kontribusi yang berarti.
Guru juga Manusia yang Sedang Belajar
Menuntut guru untuk selalu sempurna adalah beban yang tidak adil. Para guru juga manusia yang memiliki batasan, perasaan, dan masalah pribadi. Ketika guru tidak diberikan kesempatan untuk tumbuh, mengalami proses, dan bahkan gagal, mereka akan kesulitan menciptakan lingkungan yang aman bagi siswa.
Guru yang sejatinya sehat secara mental dan emosional akan lebih mampu mendampingi siswa dengan baik. Karena itu, sistem pendidikan seharusnya tidak hanya menuntut, tetapi juga mendukung para guru: melalui pelatihan yang tepat, suasana kerja yang manusiawi, dan pengakuan yang layak.
Para guru yang selalu belajar akan lebih mudah memahami bahwa siswa juga sedang menjalani proses belajar dan proses belajar tidak selalu langsung menghasilkan keberhasilan.
Pendidikan sebagai Proses, Bukan Paksaan
Inti dari pendidikan adalah proses yang berlangsung panjang. Menjadi mahir tidaklah instan, melainkan penjumlahan dari pengalaman, kegagalan, refleksi, dan pertumbuhan. Ketika siswa dipaksa untuk berhasil terlalu cepat, mereka kehilangan kesempatan untuk mengenal diri mereka sendiri.
Guru memiliki peran yang krusial dalam menjaga keseimbangan ini. Bukan dengan menurunkan standar secara sembarangan, tetapi dengan menyesuaikan pendekatan pengajaran. Memberikan tantangan yang realistis, umpan balik yang konstruktif, dan ruang yang aman untuk bertanya serta berbuat kesalahan.
Siswa yang merasa diterima apa adanya jadi lebih berani untuk berkembang. Sebaliknya, siswa yang terus-menerus ditekan akan belajar untuk menyenangkan sistem, bukan untuk mengembangkan potensi diri mereka.
Menuju Pendidikan yang Lebih Manusiawi
“Guru sempurna, siswa dipaksa hebat” hendaknya menjadi refleksi yang kritis, bukan cita-cita. Pendidikan yang ideal bukanlah soal kesempurnaan, melainkan soal kemanusiaan. Guru yang baik adalah mereka yang bersedia berjalan beriringan dengan siswa, bukan menarik atau mendorong mereka secara paksa.
Siswa yang luar biasa bukan hanya yang mendapatkan nilai tinggi, tetapi yang mengenali dirinya sendiri, berani untuk belajar, dan mampu berkembang sesuai dengan potensi mereka. Untuk mencapai hal ini, diperlukan perubahan pandangan dari semua pihak: guru, orang tua, sekolah, dan pembuat kebijakan.
Ketika guru diberikan ruang untuk menjadi manusia yang terus belajar, siswa pun akan belajar menjadi individu yang utuh. Pendidikan tidak lagi berfokus pada siapa yang paling hebat, tetapi pada siapa yang terus berkembang.
Akhirnya, para guru tidak harus sempurna, dan siswa tidak seharusnya dipaksa untuk berhasil. Yang dibutuhkan adalah hubungan yang sehat, proses yang jujur, dan tujuan pendidikan yang menghargai kemanusiaan. Dalam situasi kelas yang demikian, kesalahan bukanlah aib, kegagalan bukanlah akhir, dan keberhasilan bukanlah satu-satunya tolok ukur nilai diri.
Pendidikan yang berkualitas tidak hanya sebatas menghasilkan siswa yang paling cerdas, melainkan juga memunculkan individu yang mampu berpikir, merasakan, dan berperilaku secara sadar. Hal ini hanya dapat terwujud jika guru dan siswa diberikan kesempatan untuk berkembang bersama.
*) Muflih Rabbany adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.


