Ketika Gadget Menjadi Ancaman Mental Gen-Z

  • Bagikan
Usamah Al Ghozi

Oleh : Usamah Al Ghozi*

Era modern saat ini telah membawa serta “ponsel pintar,” yang telah bertransformasi dari sekadar “perangkat komunikasi.” Saat ini, ponsel pintar adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia, tak terkecuali remaja. Remaja masa kini tidak dapat memulai hari mereka tanpa bangun menatap layar ponsel pintar dan tidur dengan layar ponsel pintar masih di depan mata mereka. “Jejaring sosial,” gim daring, “video pendek,” dan aplikasi hiburan lainnya di ponsel pintar telah menjadi “dunia alternatif,” yang tampak lebih menarik daripada “kenyataan.” Namun di balik kemudahan dan hiburan, tersembunyi risiko besar yang memengaruhi “kesejahteraan mental” atau “fungsi otak” remaja. Kecanduan ponsel pintar telah berhenti menjadi sekadar “kebiasaan biasa” tetapi telah menjadi “pemicu penyakit mental.”

Masa remaja adalah fase psikologis yang rapuh dalam kehidupan manusia. Ini karena pada usia ini, meskipun otak masih berkembang, terutama bagian korteks prefrontal yang membantu kemampuan pengambilan keputusan dan mengendalikan emosi serta impuls, aktivitas otak dapat terganggu jika remaja terlalu banyak mengakses layar ponsel tanpa kendali atau batasan. Aktivitas seperti menggulir (scrolling) berlebihan atau terlibat dengan gim atau notifikasi ponsel memicu pelepasan hormon dopamin secara instan. Ini bukan hanya sensasi kesenangan sesaat; melainkan, jika itu terjadi terlalu sering, otak terbiasa dan mulai membutuhkan lebih banyak. Remaja modern kehilangan minat untuk melakukan hal-hal biasa seperti belajar, bertemu orang lain secara langsung, atau bahkan berolahraga.

Ini mirip dengan cara kerja kecanduan narkoba. Ponsel kini berfungsi sebagai “sumber kesenangan instan,” yang menyulitkan remaja untuk melepaskannya dengan mudah. Sulit bagi remaja untuk mengatasi ketika akses mereka ke ponsel ini ditolak karena mereka mengalami tanda-tanda seperti gelisah, mudah marah, gugup, dan bahkan perilaku agresif. Tanda-tanda ini muncul pada fase awal penyakit mental tetapi sering diabaikan oleh orang tua dan lingkungan mereka. Ini umumnya hanya dianggap sebagai masa pubertas atau perilaku buruk; namun, itu bisa menyiratkan bahwa remaja mungkin sakit mental akibat kecanduan digital mereka.

Kecanduan ponsel pintar tidak hanya memengaruhi bagian emosional dari fungsi otak tetapi juga memengaruhi area lain dari fungsi otak. Tingkat konsentrasi remaja berkurang secara signifikan. Karena mereka tidak bisa fokus terlalu lama; mereka mudah teralihkan dan menghadapi masalah dengan ingatan mereka. Otak menjadi sangat terbiasa dengan pemrosesan info yang cepat dan dangkal yang disediakan oleh jejaring sosial sehingga pemikiran mendalam menjadi pilihan. Akibatnya, pemikiran analitis dan kemampuan memecahkan masalah terpengaruh secara buruk. Akhirnya, ini dapat mengurangi kinerja akademik dan kemampuan berpikir kritis mereka juga.

Yang lebih mengkhawatirkan, kecanduan ponsel pintar telah dikaitkan dengan meningkatnya jumlah kasus depresi dan kecemasan di kalangan remaja. Paparan berlebihan terhadap media sosial biasanya membuat remaja ini merasa seperti membandingkan diri mereka dengan orang lain. Mereka merasa bahwa hidup mereka tidak sebaik apa yang mereka lihat di layar ponsel yang begitu sering mereka gunakan. Dunia maya yang mereka akses dengan perangkat seluler mereka justru menjadi sumber stres daripada hiburan ketika identitas mereka hanya bergantung pada jumlah suka dan komentar yang mereka terima secara daring.

Gangguan tidur juga dapat disebabkan oleh penggunaan ponsel yang tidak terkontrol. Banyak remaja akan tetap terjaga larut malam bermain gim atau menonton video di ponsel mereka. Cahaya biru yang dipancarkan oleh layar ponsel ini menekan produksi melatonin, yang mengatur pola tidur. Akibatnya, kualitas tidur berkurang, dan tubuh kekurangan istirahat yang memadai. Insomnia dapat secara langsung memengaruhi fungsi otak, menyebabkan hilangnya fokus dan memicu stres atau depresi.

Pada aspek sosial, remaja pengguna ponsel pintar menjadi terisolasi dari situasi kehidupan nyata. Alih-alih terlibat dalam percakapan kehidupan nyata, mereka hanya menggunakan percakapan virtual yang hanya pada tingkat permukaan. Mereka merasa lebih nyaman berbicara dengan orang lain menggunakan layar daripada manusia lain secara langsung di sekitar mereka. Ini merusak kemampuan mereka untuk mengembangkan atau meningkatkan keterampilan sosialisasi dan komunikasi mereka. Tidak jarang juga remaja mengalami ketegangan dengan keluarga mereka karena kurangnya komunikasi dan waktu berkualitas dengan kerabat mereka.


Mengingat berbagai dampak ini, penting bagi masyarakat luas untuk menyadari betapa seriusnya masalah kecanduan ponsel pintar di kalangan remaja dan bagaimana hal itu memengaruhi kehidupan mereka dan kehidupan keluarga serta teman-teman mereka. Peran penting orang tua tidak dapat diabaikan dalam hal membatasi penggunaan ponsel anak-anak mereka. Meskipun penting untuk tidak melarang ponsel sama sekali secara ekstrem, mereka harus diberikan dengan panduan dan pemahaman.

Sekolah juga mengemban tanggung jawab besar untuk kesadaran terkait teknologi digital. Literasi media dan kesadaran kesehatan mental harus dimasukkan dalam program kurikulum sekolah. Remaja harus diberikan pengetahuan terkait ancaman yang ditimbulkan oleh kecanduan digital dan cara memanfaatkan waktu layar dengan benar. Sistem konseling di sekolah harus ditingkatkan untuk mengidentifikasi gejala penyakit mental akibat tekanan teknologi.

Sebaliknya, remaja perlu memahami bahwa meskipun kebebasan digital harus dipertahankan, itu dapat dan harus hidup berdampingan dengan tanggung jawab digital. Mengurangi waktu layar, lebih banyak terlibat dengan aktivitas fisik, membaca lebih banyak buku, dan terlibat dengan interaksi kehidupan nyata dapat dengan mudah mencapai tujuan ini. Penggunaan alat batas waktu yang ditemukan di dalam aplikasi dapat membantu remaja dalam mengendalikan perilaku digital mereka.

Kesimpulannya, bukan ponsel pintar yang menjadi masalah, melainkan bagaimana ponsel itu digunakan. Teknologi dimaksudkan untuk digunakan sebagai alat dan bukan mendikte bagaimana kehidupan manusia akan dijalani. Jika remaja masih dibiarkan tenggelam dalam dunia maya ini tanpa kendali sama sekali atasnya, maka kita berisiko tidak hanya masa kini tetapi juga masa depan seluruh generasi yang rapuh dan lemah mental. Remaja dapat dianggap sebagai harta nasional yang harus dilindungi tidak hanya dari ancaman fisik tetapi juga dari ancaman yang tidak dapat dilihat tetapi masih dapat menyebabkan kerusakan, seperti yang ditimbulkan oleh kecanduan teknologi seperti komputer atau gadget lain yang terkait dengannya seperti perangkat seluler atau gadget seperti yang ditemukan dalam gim video.


*) Usamah Al Ghozi adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.


Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.

Download sekarang!.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
punta cana : lujo, aventura y las playas más vibrantes.