Oleh: Ardiansyah*
Krisis moral yang dialami oleh generasi Z, atau yang biasa disebut Gen Z, menjadi isu penting dalam dinamika sosial dan budaya kontemporer. Gen Z, yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga 2012 , menghadapi tantangan besar dalam menjaga nilai-nilai moral di tengah derasnya arus informasi dan perubahan gaya hidup modern. Dalam konteks ini, pendidikan Agama Islam muncul sebagai salah satu upaya penting untuk menangkal dan mengatasi krisis moral tersebut. Namun, bagaimana sebenarnya peran pendidikan Agama Islam dalam menghadapi krisis moral Gen Z ini? Apakah pendidikan agama mampu memberi solusi yang efektif, atau justru ada tantangan dan hambatan yang membuat perannya kurang maksimal?. Pertama-tama, perlu dipahami bahwa moralitas merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter seseorang. Moralitas tidak hanya berkaitan dengan perbuatan baik dan buruk, tetapi juga prinsip, etika, dan nilai hidup yang menjadi pedoman individu dalam berinteraksi dan mengambil keputusan. Bagi umat Islam, nilai-nilai moral berakar pada ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis, yang menekankan pada kejujuran, rasa tanggung jawab, rasa hormat, empati, kesucian hati, dan prinsip keadilan. Pendidikan Agama Islam diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai ini sejak dini sehingga individu dapat menjalani kehidupannya dengan landasan moral yang kuat.Namun demikian, fakta di lapangan menunjukkan adanya peningkatan kasus pelanggaran moral di kalangan Gen Z, seperti kasus perundungan, perilaku seks bebas, penyalahgunaan narkoba, kekerasan, dan sikap materialistis yang tinggi.
Fenomena ini mencerminkan sebuah krisis moral yang tidak dapat diabaikan. Salah satu faktor utama yang memicu krisis ini adalah perubahan lingkungan sosial dan budaya modern yang sangat dipengaruhi teknologi digital dan globalisasi. Informasi dari berbagai sumber dengan mudah diakses, namun tidak semua konten memuat nilai-nilai positif. Justru, banyak konten yang justru mengarah pada tindakan tidak bermoral dan merusak karakter.Dalam kondisi ini, pendidikan Agama Islam seharusnya berperan sebagai benteng moral yang kuat bagi Gen Z.
Pendidikan agama tidak hanya berfungsi sebagai penyampaian informasi teori keagamaan, tetapi juga harus mampu menjadi media internalisasi nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari. Pengajaran agama yang hanya berfokus pada hafalan teks tanpa pemahaman makna dan implementasi dalam konteks nyata cenderung kurang efektif. Oleh sebab itu, metode pendidikan Agama Islam harus dikembangkan agar relevan dengan tantangan zaman, misalnya melalui pendekatan kontekstual, penguatan karakter, dan penggunaan teknologi digital yang positif. Namun, kenyataannya ada juga tantangan besar dalam implementasi Pendidikan
Agama Islam ini. Salah satu tantangannya adalah kurangnya keterlibatan keluarga dan lingkungan dalam mendukung pendidikan moral yang diajarkan di sekolah atau pesantren. Banyak anak Gen Z yang mendapatkan pendidikan agama secara formal di sekolah, namun lingkungan di luar sekolah tidak selalu mendukung nilai-nilai tersebut. Hal ini menyebabkan nilai moral yang diajarkan tidak terinternalisasi secara optimal.
Selanjutnya, kurikulum pendidikan Agama Islam di beberapa daerah masih dirasakan kurang adaptif terhadap kebutuhan Gen Z yang hidup dalam era digital. Materi yang disampaikan kadang-kadang bersifat monoton dan tidak mengaitkan secara langsung dengan permasalahan yang dihadapi remaja modern, sehingga keterikatan emosi dan pemahaman generasi muda menjadi terbatas. Pendidikan agama yang ideal harus mampu menghadirkan contoh konkret, memberikan solusi konkret terhadap permasalahan moral yang dihadapi generasi muda saat ini. Dan lebih lanjut, peran guru agama juga sangat menentukan keberhasilan pendidikan moral ini. Guru yang tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teladan dan pembimbing moral, dapat membentuk karakter peserta didik dengan lebih efektif. Guru harus menguasai ilmu agama serta psikologi dan karakteristik perkembangan remaja agar dapat menjadi fasilitator yang mampu menuntun Gen Z menuju kesadaran moral yang tinggi
Di sisi lain, teknologi digital yang sering kali dipandang sebagai sumber krisis moral juga dapat menjadi media strategis dalam pendidikan Agama Islam. Pemanfaatan media sosial, aplikasi pembelajaran digital, video interaktif, dan platform online lain yang dikemas secara menarik dan relevan dapat meningkatkan ketertarikan Gen Z dalam belajar nilai-nilai agama dan moral. Contohnya, channel edukasi Islam di YouTube, podcast dakwah yang komunikatif, bahkan game edukasi islami bisa menjadi alternatif pendukung pembelajaran moral yang efektif di era digital ini.
Selain pendidikan formal dan media, lingkungan sosial dan keluarga memiliki peranan sentral dalam menanggulangi krisis moral Gen Z. Pendidikan Agama Islam harus menjadi sebuah ekosistem yang holistik, di mana keluarga dan masyarakat turut aktif memberi teladan moral, memantau perkembangan moral anak, serta mendukung setiap usaha pembentukan karakter yang dilakukan di sekolah atau pesantren.
Ketidakhadiran peran keluarga yang kuat sering menjadi celah yang membuat nilai moral anak mudah tergerus oleh budaya konsumtif, hedonistik, dan individualistik.
Singkatnya, krisis moral Gen Z yang tengah terjadi adalah masalah serius yang memerlukan solusi terpadu dan menyeluruPendidikan Agama Islam menjadi salah satu kunci utama dalam membangun kembali fondasi moral generasi muda. Namun pendidikan ini tidak cukup hanya berupa penyampaian materi tradisional semata, melainkan harus disesuaikan dengan karakteristik zaman dan kebutuhan psikososial Gen Z. Pendekatan yang kontekstual, partisipatif, dan inovatif, didukung oleh peran aktif guru, keluarga dan teknologi digital harus menjadi pijakan dalam menjalankan pendidikan Agama Islam guna membentuk generasi masa depan yang kuat, berakhlak mulia, dan mampu menjawab tantangan global.
Apabila hal ini dapat dijalankan dengan konsisten dan salinng melengkapi,maka pendidikan Agama Islam tidak saja menjadi respons terhadap krisis moral, tetapi juga menjadi pondasi strategis dalam membangun masyarakat yang beradab dan berkeadaban, dimana Gen Z dapat tumbuh sebagai pribadi yang berbudi pekerti luhur dan berkontribusi positif bagi bangsa dan negara.
*) Ardiansyah adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.


