Anak Muda Mulai Berjarak dari Lembaga Agama?

  • Bagikan
Wahyu Andriansyah

Oleh: Wahyu Andriansyah*

Fenomena semakin jauhnya anak muda dari lembaga agama bukan lagi sekadar asumsi. Ia telah menjadi realitas sosial yang mudah ditemui di berbagai ruang kehidupan. Majelis tak seramai dulu, kegiatan rohani yang dulunya menjadi pusat interaksi kini mulai ditinggalkan, dan generasi muda lebih banyak mencari jawaban spiritual di luar tembok institusi keagamaan formal. Pertanyaannya, ada apa dengan lembaga agama hari ini? Dan mengapa generasi muda tampak semakin enggan untuk mendekat?

Salah satu jawaban paling mendasar adalah perubahan pola pikir dan kultur generasi. Anak muda masa kini tumbuh dalam iklim digital yang memungkinkan mereka mengakses berbagai informasi dengan sangat cepat dan luas. Ketika mereka mempertanyakan suatu ajaran, mereka tidak lagi hanya bergantung pada ceramah atau buku agama, tetapi dapat mencari referensi lintas pandangan, termasuk yang mengkritik institusi keagamaan. Kondisi ini membuat lembaga agama yang bersifat dogmatis, kaku, dan tertutup terhadap kritik terasa tidak relevan dengan kebutuhan spiritual mereka yang lebih reflektif dan rasional.

Generasi muda hidup dalam era yang menuntut dialog, bukan sekadar perintah. Mereka ingin bertanya, berdiskusi, dan diterima sebagai individu berpikir, bukan sekadar objek dakwah. Ketika pertanyaan mereka dianggap sebagai sikap membangkang, ketika kritik dipahami sebagai ancaman, maka jarak pun semakin tercipta. Anak-anak muda ingin memahami agama dengan logika, cinta, dan kesadaran, bukan melalui ketakutan akan dosa dan ancaman hukuman. Namun sayangnya, tidak sedikit lembaga agama yang masih menjadikan rasa takut sebagai pondasi pembinaan umat.
Faktor lain yang menyebabkan jarak tersebut adalah ketidaksesuaian antara ajaran dengan realitas perilaku pemuka agama. Ketika tokoh yang dihormati justru tersandung kasus korupsi, kekerasan, intoleransi, bahkan pelecehan seksual, kepercayaan generasi muda pun runtuh. Anak muda bukan generasi yang mudah percaya kata-kata indah tanpa bukti nyata. Mereka menilai agama bukan hanya dari teks, tetapi dari sikap pengguna teks itu. Ketika ceramah tentang moralitas tidak selaras dengan tindakan pelaku agama, wajar jika muncul rasa kecewa dan sinis. Bagi sebagian anak muda, lebih baik mencari spiritualitas yang hidup dalam tindakan kemanusiaan daripada dalam upacara keagamaan yang hampa.

Selain itu, ritus dan struktur organisasi agama sering dianggap terlalu formal serta tidak sesuai dengan ritme kehidupan modern. Anak muda ingin ruang ekspresi yang fleksibel, kreatif, dan mengikuti perkembangan zaman. Namun banyak lembaga agama mempertahankan format tradisional tanpa membuka ruang inovasi. Musik dianggap bid’ah, diskusi dianggap mengganggu, perbedaan dianggap ancaman. Padahal anak muda justru hidup dalam semangat kolaboratif yang menghargai keberagaman. Ketika ruang keagamaan tidak ramah terhadap perbedaan gaya beribadah, pengetahuan, atau identitas, maka mereka akan memilih menjauh dan mencari ruang spiritual lain yang lebih menerima.

Tidak dapat dipungkiri pula bahwa pengalaman traumatis dalam kehidupan beragama turut membentuk jarak emosional generasi muda dengan institusi agama. Ada yang pernah dipermalukan karena cara berpakaian, ada yang dianggap berdosa karena bertanya hal-hal sensitif, bahkan ada yang merasa ruang keagamaan hanya ramah untuk yang “taat” dan menekan yang masih belajar. Lembaga agama sering kali menuntut kesempurnaan moral, padahal anak muda justru sedang berada dalam fase eksplorasi diri. Mereka membutuhkan ruang aman untuk tumbuh, bukan ruang yang menghakimi.

Di sisi lain, spiritualitas kini tidak lagi harus terikat pada institusi formal. Banyak anak muda menemukan kedamaian melalui kepekaan sosial, seni, alam, hingga kegiatan kemanusiaan. Mereka merasakan pengalaman religius ketika membantu sesama, merawat lingkungan, atau mengembangkan diri melalui refleksi personal. Bagi mereka, agama bukan sekadar ritual, tetapi praktik nilai yang nyata: keadilan, cinta kasih, toleransi, dan solidaritas. Ketika nilai-nilai ini tidak lagi dirasakan dalam institusi agama, maka wajar jika mereka memilih jalur spiritual yang lebih personal dan otentik.

Namun, fenomena ini bukan berarti anak muda kehilangan agama sepenuhnya. Yang terjadi adalah pergeseran cara beragama. Mereka tidak anti agama, tetapi anti kemunafikan. Mereka tidak menolak Tuhan, tetapi menolak representasi agama yang mengekang kebebasan berpikir dan mengabaikan nilai kemanusiaan. Anak muda ingin agama yang membimbing, bukan menekan; yang menenangkan, bukan menakut-nakuti; yang membuka pikiran, bukan membatasi pertanyaan.

Lantas apa yang harus dilakukan lembaga agama?

Pertama, lembaga agama perlu menghadirkan ruang dialog yang terbuka. Anak muda ingin didengar, bukan hanya disuruh. Biarkan mereka bertanya, berbeda pendapat, dan menemukan Tuhan melalui perjalanan berpikir mereka sendiri. Kedua, lembaga agama harus memberi teladan etis yang nyata, bukan hanya ceramah moral. Keteladanan lebih kuat daripada kata-kata. Ketiga, agama perlu hadir dengan pendekatan kreatif, menggunakan bahasa yang dekat dengan realitas anak muda—budaya, teknologi, seni, dan jejaring sosial. Tugas agama bukan merawat masa lalu, tetapi menemani perjalanan manusia menuju masa depan.

Jika lembaga agama mampu menjadi rumah yang ramah, penuh kasih, dan tidak menghakimi, maka jarak itu akan perlahan menutup. Generasi muda tidak lari dari agama, mereka hanya mencari ruang yang lebih manusiawi.

Di tengah dunia yang semakin bising dan cepat, anak muda tetap memerlukan arah spiritual. Pertanyaannya bukan apakah mereka butuh agama, tetapi apakah agama bersedia hadir dengan wajah yang lebih membumi? Agama seharusnya menjadi pelita, bukan pagar pembatas. Dan bila pelita itu kembali menyala dengan hangat, anak muda akan pulang tanpa diminta. Oleh karna itu Pendidikan agama harus lebih diperdalam bagi setiap generasi muda untuk menyongsong masa depan yang cerah yang tidak menyeleweng dari ajaran-ajaran islam.


*) Wahyu Andriansyah adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.


Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.

Download sekarang!.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
punta cana : lujo, aventura y las playas más vibrantes. Free ad network.