Tantangan Dakwah di Era Digital

  • Bagikan
Ghina Raudhatul Jannah

Oleh:  Ghina Raudhatul Jannah*

Peradaban dunia sekarang berkembang dengan sangat pesat, ditandai oleh perubahan yang cepat di berbagai sektor kehidupan, termasuk aspek sosial, budaya, dan yang terutama adalah teknologi. Dalam kondisi seperti ini, dakwah sebagai aktivitas penyebaran ajaran Islam tidak lagi berada dalam ruang yang sempit dan terbatas. Tetapi dengan berkembangnya zaman, justru penyebaran dakwah juga menghadapi tantangan kompleks yang membutuhkan strategi baru serta pemahaman mendalam. Secara bahasa, dakwah berasal dari kata Arab da’a–yad’u–da’watan, yang berarti mengajak, menyeru, memanggil, atau mengundang. Orang yang menyampaikan dakwah disebut da’i, sedangkan penerima dakwah disebut mad’u.
 
Dalam perkembangan zaman, terutama sejak munculnya era digital, dakwah mengalami transformasi signifikan. Teknologi digital memungkinkan penyebaran pesan agama secara lebih cepat dan luas, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan seperti hoaks, misinformasi, ekstremisme, hingga perubahan budaya dan pola interaksi masyarakat. Dengan demikian da’i da’i dituntut harus memperkuat literasi digital agar mampu memverifikasi informasi, memahami mekanisme penyebaran konten yang beredar, dan menghindari penyebaran berita palsu. Dakwah juga harus dikemas secara kreatif dan kontekstual dengan menggunakan media yang sesuai seperti video pendek, podcast, atau infografis yang menarik, tanpa mengabaikan prinsip hikmah, kelembutan, dan moderasi sesuai ajaran Islam. Selain itu, para da’i perlu menjadi teladan di ruang digital dengan menjaga akhlak bermedia sosial.
 
Dakwah dalam perspektif bahasa mencakup ajakan ke arah kebaikan maupun keburukan, tetapi dalam pengertian terminologis, dakwah selalu diarahkan pada seruan untuk menjalankan ajaran Islam dan menjauhi kemungkaran. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan dakwah sebagai penyiaran dan pengembangan ajaran agama kepada masyarakat. Landasan dakwah ditegaskan harus menggunakan kata kata yang baik dan juga santun seperti yang disebutkan dalam QS. An-Nahl ayat 125 yaitu :

Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk” (Q.S An-Nahl 16:125)

Dengan demikian, dakwah tidak hanya aktivitas ceramah, tetapi juga usaha membimbing manusia menuju perubahan pengetahuan, sikap, dan tindakan, meliputi juga aspek akidah, ibadah, muamalah, dan akhlak.
   
Munculnya teknologi internet membawa dampak besar bagi aktivitas keagamaan. Media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, WhatsApp, YouTube, dan Telegram kini menjadi sarana dakwah yang sangat efektif. Platform-platform ini memungkinkan akses luas tanpa batas ruang dan waktu, sehingga pesan dakwah dapat menjangkau pendengar yang lebih luas dengan lebih cepat. Interaksi antara da’i dan mad’u kini menjadi dua arah, yaitu masyarakat bisa berdiskusi, bertanya, dan sang dai bisa merespons secara langsung melalui media sosial. Selain sebagai sarana penyebaran ajaran, media digital juga berfungsi sebagai alat pendidikan agama yang dapat lebih menarik banyak orang. Konten seperti video kajian, kursus online, artikel digital, dan podcast memudahkan masyarakat mempelajari Islam secara mandiri. Teknologi juga memperluas ruang dakwah ke daerah-daerah terpencil tanpa harus hadir secara fisik.
 
Namun, digitalisasi juga membawa tantangan serius. Dengan mudahnya akses di media sosial maka banyak juga oknum oknum yang menyebarkan ajaran sesat di media sosial. Selain itu, media sosial juga rentan terhadap misinformasi dan ekstremisme. Penyebaran konten radikal atau provokatif sangat mudah terjadi bila tidak ada kontrol, dan hal ini dapat menimbulkan perpecahan serta citra negatif terhadap dakwah. Dan juga dakwah harus bersaing dengan konten hiburan, isu politik, narasi radikal, dan berita bohong. Hal ini membuat pesan dakwah sulit menarik perhatian bila tidak dikemas dengan menarik dan relevan. Beberapa tantangan utama yang terjadi di era digital ini adalah :

1. Hoax dan misinformasi

Internet menjadi sarana yang rawan terhadap berita palsu. Hoax keagamaan seringkali memicu kebingungan dan konflik antar kelompok. Da’i harus berhati-hati agar tidak menjadi bagian dari penyebaran informasi tidak benar dan juga pesan pesan yang provokatif.

2. Ekstremisme dan radikalisasi online

Kelompok radikal memanfaatkan media digital untuk menyebarkan ideologi ekstrem. Dakwah harus berperan aktif dalam menangkal narasi radikal dengan menekankan toleransi, kedamaian, dan pemahaman moderat. Dikarenakan paham radikal yang disebarkan juga terkadang disebarkan dengan perlahan dan tidak disadari.

3. Pengaruh budaya populer

Budaya digital membawa nilai-nilai baru yang tidak selalu sejalan dengan ajaran Islam. Da’i perlu memahami budaya tersebut agar dapat menanggapi persoalan umat secara kontekstual. Da’i harus bisa beradaptasi dengan hal hal yang baru agar dapat mudah di terima oleh masyarakat, tapi tetap tidak keluar dari ajaran islam.

4. Pluralisme agama dan budaya

Dalam masyarakat yang beragam, dakwah perlu disampaikan dengan tidak menyinggung keyakinan agama lain, yaitu tetap menjaga toleransi dengan  tanpa mengabaikan integritas ajaran Islam.

Dakwah dalam usaha penyebaran ajaran secara luas dan baik, mendapatkan peluang yang sangat luas, Namun dibalik peluang yang begitu luas ada tantangan besar juga yang perlu di hadapi. Di satu sisi, perkembangan teknologi informasi memudahkan penyebaran pesan agama, memperluas jangkauan dakwah, membuka ruang interaksi, serta menghadirkan kreativitas dalam penyampaian ajaran Islam. Namun di sisi lain, era digital juga memunculkan tantangan besar seperti banjir informasi, hoaks, ekstremisme, komersialisasi dakwah, dan perubahan budaya yang memengaruhi cara masyarakat memahami agama.

Di era digital ini, teknologi dan media sosial telah mengubah cara informasi disebarkan dan diterima, dakwah perlu beradaptasi dengan dengan platform digital. Untuk itu, dakwah kontemporer memerlukan pendekatan yang bijaksana, kontekstual, dan inovatif. Da’i harus mampu memanfaatkan teknologi, tetapi tetap menjaga prinsip dan nilai-nilai Islam. Dakwah harus dihadirkan bukan hanya melalui ceramah, tetapi juga melalui konten edukatif, dialog, keteladanan, dan pemberdayaan umat. Dengan strategi yang tepat, dakwah di era digital dapat menjadi sarana yang sangat efektif dalam membimbing masyarakat menuju kebaikan, memperkuat spiritualitas, dan mewujudkan Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin.


*) Ghina Raudhatul Jannah adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.


Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.

Download sekarang!.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
Cancún y riviera maya : entre ruinas mayas, cenotes y lujo. kontakt proffound fistival.