Koperasi Peternak Ayam Petelur Sumenep Diharapkan Perkuat Pasar Lokal

  • Bagikan
Sejumlah penyuluh pertanian bersama peserta dan perwakilan instansi terkait berfoto bersama dalam kegiatan Fasilitasi Penyuluh Pertanian bertema Sinergi Program Strategis Kementerian Pertanian di Bidang Peternakan, di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Reporter: harianjatim

Sumenep-harianjatim.com. Peternak ayam petelur di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, menghadapi persoalan kenaikan harga pakan di tengah anjloknya harga jual telur. Kondisi tersebut membuat biaya produksi semakin membebani peternak, terutama pelaku usaha skala mikro.

Di tengah persoalan itu, Koperasi Produsen Peternak Ayam Petelur Sumekar Maju Bersama resmi dibentuk dan diresmikan pada Jumat (6/11/2026). Koperasi yang berkedudukan di Kabupaten Sumenep tersebut diharapkan menjadi wadah untuk memperkuat usaha peternak sekaligus memperjuangkan kepentingan mereka.

Koperasi tersebut telah memperoleh legalitas berdasarkan Keputusan Menteri Hukum Republik Indonesia Nomor AHU-0009-380.AH.01.29 Tahun 2026. Peresmian berlangsung di Auditorium Said Abdullah Syaif Bagraf dan dihadiri sejumlah perwakilan instansi pemerintah serta peternak ayam petelur.

Ketua Koperasi Produsen Peternak Sumekar Maju Bersama, H Muhdar, mengatakan, koperasi dibentuk untuk menghimpun para pelaku usaha ayam petelur di Sumenep. Keanggotaannya secara khusus diperuntukkan bagi masyarakat yang benar-benar menjalankan usaha peternakan ayam petelur.

“Alhamdulillah, koperasi produsen ini sudah diresmikan dan memiliki legalitas resmi sebagai landasan hukum bagi kami dalam menjalankan organisasi,” kata Muhdar.

Menurut Muhdar, salah satu persoalan yang selama ini dihadapi peternak adalah belum tersedianya data akurat mengenai jumlah peternak dan populasi ayam petelur di Sumenep.

Padahal, data tersebut diperlukan untuk menghitung kapasitas produksi dan menyesuaikannya dengan kebutuhan konsumsi masyarakat. Tanpa pendataan yang memadai, potensi kelebihan pasokan telur sulit diantisipasi.

Ia menduga, masuknya pasokan telur dari luar daerah juga perlu diperhitungkan dalam melihat kondisi pasar. Sebab, ketidakseimbangan antara produksi dan permintaan dapat menekan harga jual telur di tingkat peternak.

“Selama ini kami belum mengetahui secara pasti populasi peternak ayam petelur. Akibatnya, bisa terjadi kelebihan pasokan sehingga harga telur menjadi murah,” ujarnya.

Muhdar berharap, pemerintah daerah dapat memberikan solusi terhadap persoalan tersebut, terutama terkait tingginya harga pakan yang terus menekan biaya produksi.

Salah satu dukungan yang diharapkan peternak adalah kemudahan memperoleh jagung dengan harga terjangkau melalui program pemerintah.

“Kami berharap pemerintah bisa memberikan solusi atas mahalnya harga pakan, salah satunya melalui subsidi jagung bagi peternak,” katanya.

Akses jagung SPHP

Persoalan ketersediaan pakan juga menjadi perhatian Kementerian Pertanian. Ketua Tim Kerja Penyuluh Kementerian Pertanian Wilayah Sumenep, Dewo Ringghi, mengatakan, pihaknya akan mendampingi peternak ayam petelur skala mikro agar dapat mengakses program jagung Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang disalurkan melalui Perum Bulog.

Menurut Dewo, Kementerian Pertanian telah menginstruksikan jajarannya untuk mengidentifikasi peternak ayam petelur skala mikro di masing-masing wilayah, termasuk Sumenep.

“Kami mendapat instruksi dari Kementerian Pertanian untuk mengidentifikasi peternak telur skala mikro di wilayah masing-masing, khususnya di Sumenep, sekaligus memastikan mereka bisa mendapatkan jagung SPHP dari Bulog,” ujar Dewo.

Ia menjelaskan, koperasi menjadi salah satu wadah yang diperlukan dalam mekanisme penyaluran jagung SPHP kepada peternak mikro. Melalui kelembagaan tersebut, proses pendataan dan penyaluran diharapkan dapat berjalan lebih terorganisasi.

Karena itu, keberadaan Koperasi Sumekar Maju Bersama diharapkan dapat membuka akses peternak terhadap program pemerintah, khususnya untuk memenuhi kebutuhan bahan baku pakan.

Selain persoalan pakan, pemerintah juga mendorong peningkatan penyerapan telur hasil produksi peternak lokal. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mempertemukan peternak dengan mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dewo mengatakan, sesuai surat edaran Badan Gizi Nasional (BGN), mitra SPPG didorong bekerja sama dengan peternak telur lokal untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan dalam program tersebut.

“Kami berharap Koordinator Wilayah BGN di Sumenep dapat menjalin kerja sama dengan peternak telur lokal sehingga produksi mereka bisa terserap untuk memenuhi kebutuhan program MBG,” katanya.

Peresmian koperasi tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Sumenep, Tim Kerja Penyuluh Kementerian Pertanian Wilayah Sumenep, perwakilan Dinas Koperasi, Koordinator Wilayah BGN, serta para peternak ayam petelur.

Kehadiran koperasi diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk memperkuat posisi peternak lokal di tengah persoalan biaya produksi dan ketidakstabilan harga telur. Namun, efektivitasnya akan sangat bergantung pada pendataan anggota, akses terhadap bahan pakan, serta kepastian pasar bagi hasil produksi peternak.


Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google  News harianjatim.com. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.

Download sekarang!

(Red)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90