KEK Tembakau Madura dan Masa Depan Petani

  • Bagikan
Petani memeriksa dan mengumpulkan daun tembakau di lahan pertanian Madura. Pengembangan KEK Tembakau Madura diharapkan tidak hanya mendorong investasi dan hilirisasi, tetapi juga meningkatkan nilai tambah serta kesejahteraan petani. (foto: Ilustrasi)

|| Penulis : Sapa Redaksi*

Tembakau telah menjadi bagian penting dari ekonomi Madura jauh sebelum istilah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dikenal dalam kebijakan pembangunan.

Di banyak desa, tembakau bukan sekadar tanaman musiman. Ia menentukan perputaran ekonomi keluarga petani, menghidupi buruh tani, menggerakkan perdagangan, transportasi, jasa pengeringan, hingga berbagai kegiatan ekonomi lain yang tumbuh di sekitarnya.

Karena itu, ketika muncul gagasan membangun KEK Tembakau Madura, pertaruhannya sesungguhnya jauh lebih besar daripada sekadar membangun sebuah kawasan industri.

Pertanyaan paling penting bukan berapa luas kawasan yang akan dibangun.

Bukan pula berapa besar investasi yang kelak masuk.

Pertanyaan yang harus diletakkan di depan adalah: apa yang akan diperoleh petani Madura dari KEK tersebut?

Pertanyaan ini penting karena petani selama ini berada di hulu rantai ekonomi tembakau. Mereka menanggung risiko produksi sejak awal: cuaca, ketersediaan air, harga sarana produksi, tenaga kerja, kualitas tanaman, hingga ketidakpastian harga ketika panen.

Sementara nilai ekonomi tembakau terus bergerak setelah daun meninggalkan lahan.

Di titik inilah gagasan KEK Tembakau Madura harus diuji.

Jangan Sekadar Memindahkan Industri

Pemerintah Kabupaten Sumenep telah menyatakan kesiapan menyediakan sekitar 30 hektare lahan di kawasan Patean untuk mendukung usulan KEK Tembakau Madura.

Bangkalan juga tengah mematangkan berbagai persyaratan dan pemutakhiran data untuk mendukung gagasan serupa.

Namun, penting ditegaskan, KEK Tembakau Madura masih berada dalam tahap usulan. Artinya, masih terdapat berbagai tahapan kajian, persyaratan, koordinasi, serta proses pengusulan sebelum dapat ditetapkan sebagai KEK.

Tahapan tersebut justru menjadi kesempatan untuk menyusun desain yang benar-benar matang.

Jangan sampai kesalahan terjadi sejak awal.

Sebuah kawasan ekonomi tidak seharusnya hanya dipahami sebagai tempat berdirinya gudang, pabrik, pusat pengolahan, atau fasilitas industri.

Jika hanya itu ukurannya, maka perubahan lokasi industri belum tentu berarti perubahan struktur ekonomi masyarakat.

Madura bisa saja tetap menjadi pemasok bahan baku.

Daun tembakau tumbuh di Madura.

Petani bekerja di Madura.

Risiko produksi ditanggung petani Madura.

Namun, nilai tambah terbesar justru dapat bergerak ke tempat lain.

KEK seharusnya mengubah pola tersebut.

Jawa Timur adalah Raksasa Tembakau

Data memperlihatkan bahwa Jawa Timur memiliki posisi sangat penting dalam industri tembakau nasional.

Berdasarkan data BPS, produksi tembakau kering Jawa Timur pada 2024 mencapai sekitar 186.509 ton dari total produksi nasional sekitar 351.363 ton.

Dengan demikian, lebih dari separuh produksi tembakau kering Indonesia berasal dari Jawa Timur.

Angka itu bukan sekadar statistik pertanian.

Ia menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki basis produksi yang sangat besar dan ekosistem ekonomi tembakau yang panjang.

Madura merupakan bagian penting dari ekosistem tersebut.

Karena itu, gagasan KEK Tembakau Madura sebenarnya mempunyai peluang untuk membawa tembakau tidak lagi hanya dilihat sebagai komoditas pertanian, tetapi sebagai basis industri dan ekonomi kawasan.

Namun, peluang tidak otomatis menjadi manfaat.

Diperlukan desain kebijakan yang memastikan nilai tambah tidak berhenti di luar wilayah penghasil.

Sumenep dan Besarnya Ekonomi Tembakau

Sumenep memberikan contoh betapa besar peran tembakau dalam ekonomi pertanian daerah.

Data BPS mencatat luas tanaman tembakau Sumenep pada 2024 sekitar 15.823 hektare.

Sentra tembakau antara lain berada di Pasongsongan, Rubaru, Guluk-Guluk, Manding, dan Batuputih.

Pada 2025, luas areal tanam tembakau Sumenep disebut mencapai sekitar 14.000 hektare. Untuk 2026, pemerintah daerah memproyeksikan sekitar 12.000 hektare.

Angka itu menunjukkan bahwa tembakau tetap memiliki posisi penting dalam struktur pertanian Sumenep.

Tetapi luas lahan tidak boleh dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan.

Lahan luas tidak otomatis berarti petani sejahtera.

Produksi tinggi juga tidak otomatis berarti pendapatan petani meningkat.

Di sinilah persoalan tata niaga menjadi penting.

Biaya Naik, Risiko Tetap di Petani

Pemerintah Kabupaten Sumenep menetapkan biaya pokok produksi tembakau 2026 sebesar Rp69.489 per kilogram untuk tembakau gunung, Rp64.765 per kilogram untuk tembakau tegal, dan Rp48.533 per kilogram untuk tembakau sawah.

Angka tersebut menggambarkan biaya produksi yang harus diperhitungkan dalam kegiatan budidaya.

Bagi petani, persoalannya bukan sekadar berapa harga tembakau ketika panen.

Yang lebih penting adalah berapa keuntungan bersih setelah seluruh biaya dikeluarkan.

Di lapangan, petani menghadapi banyak ketidakpastian.

Ketika produksi bagus tetapi harga turun, pendapatan dapat tertekan.

Ketika harga bagus tetapi produksi terganggu cuaca, hasil yang diperoleh juga tidak selalu optimal.

Ketika kualitas tidak sesuai kebutuhan pasar, harga dapat berbeda.

Karena itu, petani sebenarnya menanggung risiko yang berlapis.

Mereka berada di titik paling awal, tetapi belum tentu memiliki posisi tawar paling kuat.

KEK harus mampu menjawab persoalan ini.

Petani Jangan Hanya Menjadi Pemasok

Inilah titik paling penting dalam gagasan KEK Tembakau Madura.

Petani tidak boleh hanya ditempatkan sebagai pemasok bahan baku.

Jika kawasan ekonomi dibangun untuk memperkuat industri, petani harus mendapatkan akses terhadap manfaat ekonomi yang lebih besar.

Caranya bukan dengan mengatur harga secara sederhana.

Yang diperlukan adalah memperbaiki seluruh rantai nilai.

Petani membutuhkan akses informasi pasar.

Mereka membutuhkan teknologi budidaya.

Mereka membutuhkan kepastian standar kualitas.

Mereka membutuhkan akses pembiayaan.

Mereka membutuhkan kelembagaan yang kuat.

Dan yang tidak kalah penting, mereka membutuhkan akses terhadap pasar yang lebih transparan.

Koperasi petani harus diperkuat sebagai lembaga ekonomi.

Bukan sekadar lembaga administratif.

Jika petani memiliki kelembagaan yang kuat, posisi mereka dalam bernegosiasi dengan pasar juga dapat menjadi lebih baik.

Dari Tembakau ke Nilai Tambah

KEK seharusnya menjadi pintu masuk bagi hilirisasi.

Selama ini tembakau sering dibicarakan dari sisi produksi daun dan harga jual.

Padahal rantai nilai tembakau sangat panjang.

Ada pembibitan.

Budidaya.

Pengeringan.

Sortasi.

Penyimpanan.

Pengolahan.

Manufaktur.

Distribusi.

Logistik.

Riset.

Pemasaran.

Setiap tahapan menciptakan nilai ekonomi.

Pertanyaan yang harus dijawab adalah: berapa banyak dari nilai tersebut yang dapat tinggal di Madura?

Jika sebagian besar kegiatan bernilai tambah tinggi tetap berada di luar Madura, maka KEK belum sepenuhnya mengubah posisi Madura dalam rantai ekonomi.

Madura hanya menjadi tempat produksi.

Padahal yang dibutuhkan adalah transformasi.

Dari produsen bahan baku menjadi bagian penting dari industri pengolahan.

Dari pasar tenaga kerja berupah rendah menjadi pusat penciptaan pekerjaan bernilai tambah.

Dari wilayah pemasok menjadi kawasan yang memiliki kemampuan produksi dan inovasi.

Jangan Lupakan Anak Muda

Ada satu kelompok yang juga harus masuk dalam desain KEK: generasi muda Madura.

Jika kawasan ekonomi hanya membuka pekerjaan sebagai buruh produksi, manfaatnya tetap ada.

Tetapi peluangnya bisa jauh lebih besar.

Anak muda dapat dilibatkan dalam teknologi pertanian, pengolahan hasil, logistik, pemasaran digital, desain produk, riset, hingga pengembangan bisnis.

Perguruan tinggi di Madura juga dapat mengambil peran.

Universitas tidak hanya menjadi tempat diskusi tentang tembakau, tetapi menjadi bagian dari ekosistem riset dan inovasi.

Misalnya penelitian mengenai efisiensi produksi, kualitas tembakau, teknologi pengeringan, pengelolaan air, pemanfaatan limbah, hingga model tata niaga yang lebih efisien.

Dengan cara itu, KEK tidak hanya menghasilkan kawasan industri.

Ia menghasilkan pengetahuan dan sumber daya manusia.

Empat Kabupaten Harus Berpikir sebagai Satu Madura

Madura memiliki empat kabupaten: Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.

Keempatnya memiliki karakter ekonomi dan geografis berbeda.

Karena itu, KEK Tembakau Madura tidak ideal jika dibangun dengan logika bahwa setiap daerah harus memiliki proyek sendiri.

Yang dibutuhkan justru pembagian fungsi.

Produksi dapat berkembang di sentra pertanian.

Pengolahan dapat dikembangkan di kawasan yang paling siap.

Logistik dapat diarahkan ke wilayah yang memiliki konektivitas terbaik.

Pendidikan dan riset dapat diperkuat melalui perguruan tinggi.

Perdagangan dapat dikembangkan mengikuti jaringan pasar.

Dengan demikian, KEK tidak menjadi proyek milik satu kabupaten.

Ia menjadi bagian dari strategi ekonomi Madura.

DBHCHT Jangan Hanya Menjadi Bantuan

Ekonomi tembakau juga berkaitan erat dengan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau atau DBHCHT.

Di Sumenep, sebagian DBHCHT 2026 digunakan untuk bantuan kepada buruh tani tembakau dan buruh pabrik rokok.

Program tersebut penting karena menunjukkan adanya dampak sosial dari industri tembakau yang harus ditangani pemerintah.

Namun, bantuan tidak boleh menjadi satu-satunya instrumen kebijakan.

Bantuan menyelesaikan sebagian persoalan hari ini.

Transformasi ekonomi harus menyelesaikan persoalan yang lebih panjang.

Karena itu, DBHCHT juga perlu ditempatkan dalam kerangka peningkatan kapasitas masyarakat, perlindungan tenaga kerja, kesehatan, pelatihan, dan penguatan ekonomi lokal sesuai ketentuan penggunaannya.

Jika KEK Tembakau Madura berjalan, hubungan antara industri, penerimaan negara, pemerintah daerah, dan masyarakat harus semakin jelas.

Ukuran Keberhasilan Harus Diubah

Selama ini pembangunan kawasan sering diukur dengan angka investasi.

Itu penting.

Tetapi tidak cukup.

KEK Tembakau Madura kelak seharusnya mempunyai indikator yang langsung menyentuh masyarakat.

Berapa pendapatan petani meningkat?

Berapa tenaga kerja lokal terserap?

Berapa UMKM masuk dalam rantai pasok?

Berapa bahan baku berasal dari petani Madura?

Berapa produk yang diolah di Madura?

Berapa nilai tambah yang tinggal di Madura?

Berapa anak muda yang mendapatkan pekerjaan baru?

Dan berapa biaya logistik yang dapat ditekan?

Pertanyaan-pertanyaan itu harus menjadi bagian dari indikator keberhasilan sejak awal.

Sebab kawasan ekonomi bukan tujuan akhir.

Ia hanyalah instrumen.

Tujuan akhirnya tetap kesejahteraan masyarakat.

Jangan Sampai Menjadi Pulau Ekonomi

Ada risiko yang harus dihindari.

KEK jangan menjadi pulau ekonomi yang berdiri sendiri di tengah masyarakat.

Di dalam kawasan terdapat investasi, pabrik, gudang, dan aktivitas ekonomi.

Tetapi di luar kawasan, petani tetap menghadapi persoalan lama.

Biaya produksi tinggi.

Akses pasar terbatas.

Informasi harga tidak sempurna.

Kelembagaan petani lemah.

Anak muda meninggalkan sektor pertanian.

Jika kondisi itu tetap terjadi, maka kawasan ekonomi hanya menciptakan pusat pertumbuhan baru tanpa memperbaiki akar persoalan ekonomi masyarakat.

Karena itu, pembangunan kawasan harus terhubung dengan desa.

Jalan produksi harus diperbaiki.

Akses air harus menjadi perhatian.

Teknologi pertanian harus tersedia.

Koperasi harus berfungsi.

Pasar harus transparan.

Dan petani harus menjadi bagian dari rantai nilai.

KEK Bukan Sekadar Soal Lahan

Pemerintah Kabupaten Sumenep telah menyiapkan sekitar 30 hektare lahan di Patean sebagai bagian dari kesiapan mendukung usulan KEK.

Lahan memang penting.

Tetapi lahan hanyalah titik awal.

Setelah lahan tersedia, pertanyaan berikutnya jauh lebih sulit.

Siapa yang berinvestasi?

Industri apa yang masuk?

Bagaimana rantai pasok dibangun?

Dari mana bahan baku diperoleh?

Bagaimana petani dilibatkan?

Berapa tenaga kerja lokal yang terserap?

Bagaimana UMKM masuk?

Bagaimana dampak lingkungan dikendalikan?

Bagaimana tata ruang dijaga?

Bagaimana keuntungan ekonomi didistribusikan?

Semua pertanyaan itu harus dijawab sebelum kawasan menjadi kenyataan.

Jangan sampai kita terlalu sibuk menyiapkan tanah, tetapi lupa menyiapkan ekosistem.

Masa Depan Tembakau Tidak Boleh Hanya Menjadi Urusan Industri

Tembakau Madura telah melewati perjalanan panjang.

Ia telah menjadi bagian dari kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

Kini muncul peluang baru melalui gagasan KEK.

Peluang tersebut layak dikaji secara serius.

Tetapi semakin besar sebuah proyek, semakin besar pula kebutuhan untuk memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

KEK Tembakau Madura seharusnya tidak hanya menjadi cerita tentang investasi.

Ia harus menjadi cerita tentang transformasi.

Tentang bagaimana petani memperoleh posisi yang lebih kuat.

Tentang bagaimana anak muda memperoleh pekerjaan baru.

Tentang bagaimana industri tumbuh bersama masyarakat.

Tentang bagaimana nilai tambah tidak seluruhnya meninggalkan daerah penghasil.

Dan tentang bagaimana Madura tidak selamanya berhenti sebagai pemasok bahan mentah.

Karena itu, sebelum berbicara tentang berapa triliun investasi yang akan masuk, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan seharusnya terlebih dahulu menjawab satu pertanyaan sederhana:

Petani akan mendapat apa?

Jawaban terhadap pertanyaan itu akan menentukan apakah KEK Tembakau Madura hanya menjadi kawasan ekonomi baru atau benar-benar menjadi titik balik pembangunan ekonomi Madura.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah kawasan tidak semata-mata terlihat dari pabrik yang berdiri, jalan yang dibangun, atau investasi yang masuk.

Keberhasilan paling nyata terlihat ketika masyarakat di sekitarnya memperoleh kesempatan ekonomi yang lebih besar dan kehidupan yang lebih baik.

KEK Tembakau Madura boleh dibangun untuk industri. Tetapi masa depannya harus tetap berpihak pada tumbuhnya kesejahteraan masyarakat Madura.


||* Tim Kreator HarianJatim.Com


Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.

Download sekarang!

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90