Hilangnnya Malu di Era Digital

  • Bagikan
Wirdiana Qatrun Nada Arifin

Oleh: Wirdiana Qatrun Nada Arifin*

Untuk mehami bagaimana perubahan budaya media sosial memengaruhi perilaku manusia dalam menjaga etika , adab, dan nilai keagamaan. Serta tindakan yang melanggar batas moral. Selain itu faktor yang menyebabkan hilangnnya rasa malu, termasuk budaya viral, kebutuhan akan validasi, pengaruh algoritma, dan kurangnya pehaman terhadap etika keagamaan. Ini menjelaskan dapak sosial, moral, dan spiritual dari fenomena tersebut, seperti rusaknya akhlak publik, menurunnya empati, serta melemahnya moral di masyarakat. Tujuan ini diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran bahwa ruang digital tetap membutuhkan control diri dan tanggung jawab, serta menegaskan kembali pentingnya nilai-nilai agama sebagai pedoman moral agar masyarakat khususnya generasi muda dapat menjaga kehormatan diri dan memperbaiki perilaku dalam penggunaan media digital. Perubahan budaya di media sosial telah mengaburkan batas antara ruang pribadi dan publik. Banyak orang merasa bebas berekspresi tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap diri sendiri maupun orang lain. Hal ini disebabkan media sosial menciptakan kesan bahwa tindakan apa pun dapat diterima, asalkan mendapatkan perhatian, suka, atau komentar. Namun, tidak semua yang viral itu benar atau patut ditiru.

Fenomena ini perlahan memengaruhi perilaku masyarakat. Etika, tata krama, dan nilai-nilai agama, yang dulu menjadi landasan kehidupan sehari-hari, kini sering terabaikan di dunia digital. Misalnya, orang-orang merasa perlu berhati-hati dalam berkata-kata, menyinggung orang lain, atau bahkan melakukan tindakan ekstrem hanya demi konten. Seiring dengan semakin longgarnya standar moral, rasa malu dan harga diri pun terkikis. Beberapa faktor memperburuk situasi ini. Budaya viral mendorong banyak orang untuk berperilaku tidak pantas hanya demi mendapatkan perhatian. Kebutuhan akan validasi menjadikan media sosial sebagai tempat mencari pengakuan, alih-alih ruang berbagi yang sehat. Algoritma platform juga membentuk perilaku, karena konten sensasional muncul lebih sering dan pada akhirnya dianggap “normal”. Lebih lanjut, kurangnya pemahaman tentang etika agama membuat sebagian orang mengabaikan apakah tindakan mereka selaras dengan nilai-nilai moral yang diajarkan agama mereka

Dampaknya tidak hanya dirasakan secara individu, tetapi juga secara sosial, moral, dan spiritual. Moralitas publik rusak, empati terhadap sesama berkurang, dan masyarakat perlahan-lahan kehilangan rasa batas-batas moralnya. Perilaku negatif yang dulunya dianggap memalukan kini dapat dengan mudah menyebar dan bahkan ditiru. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran publik terutama generasi muda bahwa ruang digital masih membutuhkan pengendalian diri. Kebebasan berekspresi bukan berarti kebebasan tanpa tanggung jawab. Nilai-nilai agama tetap relevan dan esensial sebagai kompas moral dalam menghadapi arus informasi yang cepat dan tak terbatas. Dengan memahami hal ini, seseorang dapat menjaga harga diri, berperilaku lebih bijak, dan menggunakan media sosial untuk kebaikan, bukan untuk merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Di era digital, rasa malu semakin hilang karena orang merasa bebas melakukan apa pun tanpa mempertimbangkan norma agama maupun etika publik. Hal ini terjadi karena media sosial memberi ruang terbuka untuk ekspresi tanpa batas, sehingga perilaku yang seharusnya dijaga seperti membuka aib, berkata kasar, pemer berlebihan, dan menyebar konten tidak pantas menjadi hal yang biasa. Etika Keagamaan yang menekankan kesopanan, control diri, dan menjaga kehormatan diri sering kali diabaikan. Jika fenomena ini terus berlangsung, masyarakat akan kehilangan kepekaan moral, empati, dan batas-batas etis yang selama ini menjadi dasar kehidupan bermasyarakat. Lebih lanjut, rasa malu juga telah sirna karena banyak orang kini menganggap perhatian di media sosial sebagai hal yang terpenting. Mereka merasa harga diri mereka ditentukan oleh jumlah suka, komentar, atau pengikut. Akibatnya, beberapa orang rela melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak pantas hanya demi dilihat orang lain. Tindakan yang seharusnya dihindari justru dianggap sebagai cara cepat untuk menjadi terkenal.

Di media sosial, orang-orang juga merasa aman karena tidak perlu berhadapan langsung dengan orang yang mereka sakiti. Mereka bisa mengatakan hal-hal kasar, mengungkapkan hal-hal yang memalukan, atau memamerkan detail pribadi tanpa berpikir dua kali. Karena tidak melihat dampak langsungnya, empati pun menurun. Hal ini membuat banyak orang tidak lagi peka terhadap apa yang benar dan apa yang melanggar nilai-nilai moral. Jika kondisi seperti ini terus berlanjut, dunia digital akan menjadi tempat yang penuh kejahatan orang-orang akan semakin mudah menghina, mengejek, dan terlibat dalam perilaku yang tidak pantas. Masyarakat juga akan kehilangan rasa hormat, sopan santun, dan batasan etika yang selama ini menjaga keharmonisan. Oleh karena itu, penting untuk senantiasa mengingat nilai-nilai agama, tata krama, dan etika agar kita dapat mengendalikan diri dan menjaga kehormatan, bahkan di dunia sebebas media sosial. Perilaku di media sosial juga berubah karena banyak orang meniru apa yang mereka lihat tanpa mempertimbangkan konsekuensinya. Ketika konten yang tidak pantas sering viral, orang lain menganggapnya normal dan tidak lagi dianggap memalukan. Namun, apa yang viral belum tentu baik. Seiring waktu, standar moral masyarakat menurun karena hal-hal yang dulu dianggap tabu kini dianggap hiburan.

Lebih lanjut, beberapa orang merasa bahwa hidup mereka harus selalu terlihat menarik di depan kamera. Mereka rela mengorbankan harga diri mereka hanya untuk terlihat “keren” atau “berbeda.” Akibatnya, batas privasi menjadi semakin tipis. Data pribadi yang seharusnya dilindungi kini dipamerkan di depan umum tanpa ragu-ragu.

Lebih lanjut, lingkungan digital yang serba cepat juga membuat orang kurang berpikir sebelum bertindak. Banyak yang memprioritaskan “unggah dulu, pikir kemudian.” Namun, setelah konten diunggah, jejaknya sulit dihapus. Kesalahan kecil dapat menyebar luas dan memiliki konsekuensi besar bagi individu dan orang lain. Jika dibiarkan, fenomena ini dapat menyebabkan generasi muda tumbuh tanpa landasan moral yang kuat. Mereka mungkin melek teknologi, tetapi kurang memiliki sopan santun dan empati. Oleh karena itu, penting untuk selalu mengingat bahwa kebebasan internet harus disertai dengan tanggung jawab. Media sosial mungkin menjadi tempat untuk berbagi, tetapi bukan alasan untuk mengabaikan sopan santun dan nilai-nilai agama, yang mengajarkan kita untuk melindungi diri sendiri dan menghormati orang lain.


*) Dwiyani Intan Ayu Ningsi Lewar adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.


Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.

Download sekarang!.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
Booking todo incluido ofertas al caribe.