Oleh: Putri Sintia Bela*
Perkembangan teknologi pada era digital telah membawa perubahan yang sangat besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam bidang pendidikan agama Islam. Salah satu perkembangan yang paling menonjol adalah pemanfaatan teknologi berbasis aplikasi dan media digital sebagai sarana untuk belajar Al-Qur’an. Dulu, belajar Al-Qur’an lebih banyak dilakukan secara tatap muka dengan ustadz atau guru ngaji di Masjid, TPA, atau Pesantren. Sekarang, proses tersebut dapat dilakukan melalui smartphone, tablet, laptop, dan berbagai platform digital lainnya. Kehadiran teknologi tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran guru, namun justru sebagai pendukung yang memperluas akses, memperkaya metode belajar, serta meningkatkan kualitas pemahaman pada setiap jenjang usia.
Pertama, teknologi berbasis aplikasi memberi kesempatan bagi setiap muslim untuk belajar Al-Qur’an kapan saja dan di mana saja. Keberadaan aplikasi seperti Quran.com, MyQuran Indonesia, Muslim Pro, Ayat, Learn Quran Tajwid, dan berbagai aplikasi serupa memungkinkan pengguna membaca mushaf digital, melihat terjemahan, mempelajari tafsir, hingga mendengarkan tilawah dari qari internasional. Akses yang mudah dan cepat ini menjadi alternatif bagi masyarakat modern yang sering kali memiliki kesibukan padat. Di tengah tuntutan aktivitas, mereka tetap dapat meluangkan waktu untuk membaca atau mengulang hafalan Al-Qur’an melalui gawai yang selalu dibawa ke mana pun. Mobilitas tinggi yang sebelumnya menjadi penghambat kini tidak lagi menjadi alasan untuk tidak belajar Al-Qur’an.
Kedua, teknologi digital menawarkan fitur interaktif yang tidak ditemukan pada mushaf cetak biasa. Misalnya fitur tajwid berwarna yang membantu pemula agar lebih mudah mengenali hukum bacaan. Ada pula audio pengulangan otomatis (muraja’ah) yang membantu penghafal untuk memperbaiki bacaan. Beberapa aplikasi juga menggunakan kecerdasan buatan (AI) yang mampu mendeteksi kesalahan makhraj dan tajwid, kemudian memberikan evaluasi secara otomatis. Teknologi ini ibarat “guru digital” yang selalu siap membantu kapan pun pengguna membutuhkan bimbingan. Kehadiran fitur-fitur tersebut terbukti meningkatkan kualitas bacaan karena pengguna dapat belajar dengan lebih terstruktur dan terarah.
Ketiga, media digital seperti YouTube, podcast, dan media sosial telah menjadi ruang baru untuk menyebarkan ilmu Al-Qur’an secara lebih luas. Banyak ustadz, qari, dan pengajar yang membuat konten kajian tafsir, pembelajaran tahsin, motivasi menghafal, hingga rekaman murottal yang bisa diakses jutaan orang di seluruh dunia. Media digital memberi kesempatan kepada masyarakat untuk memperoleh ilmu dari para ahli tanpa batas geografis. Seseorang yang tinggal di daerah terpencil pun dapat mendengarkan penjelasan tafsir dari ulama internasional melalui video daring. Dengan demikian, teknologi digital berperan besar dalam pemerataan akses ilmu Al-Qur’an.
Keempat, teknologi membantu meningkatkan minat belajar Al-Qur’an, terutama bagi generasi muda. Remaja dan anak-anak zaman sekarang sangat akrab dengan gadget dan media sosial. Ketertarikan mereka terhadap teknologi dapat dijadikan pintu masuk untuk menumbuhkan kecintaan kepada Al-Qur’an. Aplikasi yang dilengkapi desain menarik, gamifikasi (reward poin hafalan), atau video edukatif yang kreatif membuat pembelajaran terasa menyenangkan. Anak-anak yang mungkin merasa bosan belajar secara konvensional dapat menjadi lebih semangat ketika materi disajikan dalam bentuk animasi, audio interaktif, atau permainan edukasi Qur’ani. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu, tetapi juga sebagai sarana motivasi.
Kelima, pemanfaatan aplikasi dan media digital sangat relevan dalam kondisi tertentu, misalnya saat pandemi atau ketika jarak menjadi kendala. Pembelajaran Al-Qur’an secara daring melalui Zoom, Google Meet, atau aplikasi sejenis memungkinkan hubungan antara guru dan murid tetap berjalan tanpa harus bertemu fisik. Banyak lembaga Tahfidz, TPA, dan kelas Qur’an yang akhirnya membuka kelas online sehingga peserta dari berbagai daerah dapat belajar langsung dengan ustadz pilihan mereka. Fleksibilitas ini membuat proses belajar semakin inklusif dan tidak terbatasi ruang.
Meskipun demikian, pemanfaatan teknologi dalam belajar Al-Qur’an tetap memiliki tantangan. Salah satu tantangan penting adalah potensi penyalahgunaan gadget atau distraksi saat belajar. Aplikasi yang bermanfaat bisa jadi terganggu oleh notifikasi, game, atau media hiburan lain. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran dan kontrol diri agar teknologi benar-benar digunakan untuk hal yang positif. Selain itu, tidak semua fitur AI atau audio dapat menggantikan kepekaan guru dalam mengoreksi bacaan secara detail. Interaksi dengan guru tetap diperlukan untuk mencapai kualitas bacaan yang sempurna. Namun tantangan ini tidak mengurangi nilai penting teknologi, melainkan menunjukkan perlunya keseimbangan antara metode digital dan metode tradisional.
Di sisi lain, teknologi juga memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan dalam mendukung pembelajaran Al-Qur’an. Inovasi seperti pena digital Al-Qur’an, smart speaker yang dapat memutar ayat secara perintah suara, dan platform AI yang mampu menjelaskan tafsir secara mendalam semakin memperkaya pengalaman belajar. Perkembangan ini menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi alat untuk semakin mendekatkan umat Islam kepada Al-Qur’an, bukan menjauhkannya.
Secara keseluruhan, pemanfaatan teknologi berbasis aplikasi dan media digital untuk belajar Al-Qur’an merupakan langkah maju yang sangat relevan dengan perkembangan zaman. Teknologi memungkinkan akses pembelajaran yang luas, menyajikan materi secara interaktif, meningkatkan kualitas bacaan, serta memotivasi masyarakat untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an. Selama digunakan secara bijak dan tetap diimbangi dengan bimbingan guru atau ulama, teknologi dapat menjadi jembatan penting dalam membangun generasi Qur’ani yang cerdas, terampil, dan berakhlak mulia.
Pemanfaatan teknologi berbasis aplikasi di era digital untuk belajar Al-Qur’an juga memberikan dampak positif dalam pembentukan budaya literasi Qur’ani di masyarakat. Dengan tersedianya berbagai konten Al-Qur’an di ruang digital, masyarakat menjadi lebih terbiasa untuk mengakses dan membaca ayat-ayat Allah pada platform yang mereka gunakan setiap hari. Kebiasaan ini secara perlahan membentuk pola hidup yang lebih dekat dengan Al-Qur’an. Bahkan, reminder harian dari aplikasi seperti pengingat untuk membaca satu halaman, mendengarkan tilawah sebelum tidur, atau target hafalan mingguan, membantu pengguna menjaga konsistensi dalam belajar. Fitur ini sangat membantu bagi orang yang sering lupa atau sulit mengatur waktu. Selain itu, teknologi juga membuka peluang kolaborasi antar komunitas penghafal, guru ngaji, dan lembaga pendidikan Islam untuk saling bertukar metode dan materi pembelajaran secara cepat dan luas. Dengan kata lain, teknologi tidak hanya memfasilitasi proses belajar individu, tetapi juga memperkuat ekosistem pembelajaran Al-Qur’an secara global.
*) Putri Sintia Bela adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.


