Permaslaahan Mutu Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

  • Bagikan
Faris Hidayah Ramadhan

Oleh : Faris Hidayah Ramadhan*

Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki posisi yang strategis dalam sistem pendidikan nasional, khususnya dalam pembentukan karakter dan akhlak peserta didik. Di tengah meningkatnya fenomena dekadensi moral, seperti perundungan, intoleransi, dan minimnya etika sosial di kalangan pelajar. Pendidikan Agama Islam seharusnya menjadi solusi yang mampu menanamkan nilai keimanan, ketaqwaan, dan akhlak mulia. Namun, realitas dilapangan menunjukkan bahwa mutu pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah masih menghadapi berbagai masalah mendasar.

Salah satu permasalahan utama adalah pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang masih berorientasi pada aspek kognitif yakni peserta didik lebih banyak dituntut menghafal konsep, dalil, dan definisi, sementara internalisasi nilai dan pengamalan ajaran islam belum menjadi fokus utama. Hal ini sejalan dengan Muhaimin yang menyatakan bahwa pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah masih cenderung “tekstual dan normatif, belum menyentuh aspek penghayatan dan pengamalan nilai agama dalam kehidupan nyata” (Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam).

Data juga menunjukkan adanya kesenjangan antara pengetahuan agama dan perilaku peserta didik. Berdasarkan Survey Karakter Peserta Didik Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi ditemukan bahwa meskipun sebagian besar siswa memiliki pengetahuan agama yang cukup baik, nilai integritas, tanggung jawab, dan disiplin masih berada pada kategori sedang. Hal ini mengindikasikan bahwa pembelajaran agama belum sepenuhnya berdampak pada pembetukan karakter.

Permasalahan lainnya terletak pada metode pembelajaran yang kurang variatif dan inovatif. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam masih didominasi metode ceramah dan penugasan tertulis, sehingga peserta didik bersikap pasif dan kurang terlibat secara emosional. Menurut Abuddin Nata, pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang efektif seharusnya bersifat kontekstual dan aplikatif, yakni mengaitkan materi ajaran islam dengan realitas kehidupan peserta didik agar memiliki makna dan relevansi (Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran).

Selain metode, kompetensi guru Pendidikan Agama Islam juga menjadi faktor penentu mutu pembelajaran. Tidak semua guru PAI memiliki kemampuan pedagogik dan profesional yang memadai, terutama dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran. Padahal, hasil UNESCO Global Education Monitoring Report menegaskan bahwa kualitas guru merupakan salah satu faktor paling berpengaruh terhadap mutu pendidikan. Guru PAI yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman akan kesulitan menyampaikan nilai-nilai islam secara efektif kepada generasi digital.

Keterbatasan alokasi waktu pembelajaran di sekolah juga menjadi tantangan tersendiri. Dengan jam pelajaran yang relatif sedikit, guru cenderung berfokus pada penyelesaian materi kurikulum dan evaluasi kognitif. Akibatnya, proses pembiasaan nilai-nilai religius yang seharusnya dilakukan secara berkelanjutan menjadi kurang optimal. Zakiah Daradjat menegaskan bahwa pendidikan agama tidak cukup dengan diajarkan, tetapi harus ditanamkan melalui keteladanan dan pembiasaan yang konsisten (Ilmu Pendidikan Islam).

Di samping itu, kurangnya sinergi antara sekolah, keluarga dan masyarakat turut memperlemah mutu pembelajaran PAI. Nilai-nilai diajarkan di sekolah sering kali tidak didukung oleh lingkungan keluarga maupun sosial. Padahal, menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Tanpa keselarasan ketiga lingkungan tersebut, pendidikan agama akan kehilangan daya pengaruhnya.

Untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut, diperlukan upaya perbaikan yang komprehensif dan berkelanjutan. Guru PAI perlu meningkatkan kompetensi melalui pelatihan pedagogik dan penguasaan teknologi pembelajaran. Metode pembelajaran juga perlu diarahkan pada pendekatan yang lebih partisipatif, reflektif, dan kontekstual. Selain itu, sekolah harus menciptakan budaya religius yang hidup, bukan sekedar simbolik, sehingga nilai-nilai islam dapat dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.

Pada akhirnya, mutu pembelajaran Pendidikan Agama Islam tidak hanya diukur dalam keberhasilan peserta didik menjawab soal ujian, tetapi dari sejauh mana ajaran islam mampu membentuk pribadi yang beriman, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab. Tanpa pembenahan yang serius, PAI beresiko kehilangan substansi dan perannya sebagai fondasi pembentukan moral bangsa. Oleh karena itu, peningkatan mutu pembelajaran PAI merupakan kebutuhan mendesak demi mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan moral.


*) Faris Hidayah Ramadhan adalah mahasiswi Program Studi Manajemen, Universitas Muhammadiyah Malang. 


Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.

Download sekarang!.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
Create a self growing dr65+ ai blog with weekly content updates. This cookie includes no personal data and simply indicates the post id of the article you just edited. The north face men's vectiv eminus trainers / black / rrp £115.