| Oleh: Erwin Prastyo*
Setiap tanggal 2 Mei, bangsa ini memperingati Hari Pendidikan Nasional. Sekolah-sekolah menggelar upacara, mengenakan pakaian adat, memasang spanduk, dan pidato tentang pentingnya pendidikan disuarakan. Suasana begitu meriah seolah kita sedang merayakan sebuah keberhasilan atau kesuksesan besar. Namun di balik seremoni itu, ada satu hal yang patut dipertanyakan secara tegas. Layakkah Hari Pendidikan Nasional dirayakan jika nilai-nilai pendidikan belum sepenuhnya tumbuh dan menjadi watak hidup dalam kehidupan masyarakat dan berbangsa?
Perayaan biasanya identik dengan pencapaian, kegembiraan, dan rasa syukur atas sesuatu yang berhasil diwujudkan. Kita merayakan kemenangan karena ada prestasi. Kita merayakan kebahagiaan karena ada harapan yang tercapai. Tetapi jika yang masih kita saksikan justru kekerasan pada anak, rendahnya disiplin publik, korupsi, kebohongan, intoleransi, dan hilangnya empati, maka apa yang sesungguhnya yang sedang kita rayakan?
Pendidikan sejati diukur tidak dari banyaknya gedung sekolah, jumlah anak sekolah, apalagi besarnya anggaran pendidikan atau berbagai program pendidikan pemerintah yang lalu lalang datang dan pergi, melainkan dari bagaimana watak masyarakat dan bangsa yang beradab.
Ketika anak-anak masih mengalami perlakuan tidak manusiawi di tempat pengasuhan (daycare), artinya pendidikan kasih sayang belum tumbuh. Ketika kecelakaan kereta api terjadi akibat kelalaian dan pelanggaran aturan, itu artinya pendidikan disiplin belum mengakar. Ketika pejabat publik mempertontonkan arogansi, menciptakan kebijakan/ program yang tidak memihak rakyat kecil, saling lempar tanggung jawab, atau menyalahgunakan jabatan, itu artinya pendidikan keteladanan belum berjalan. Ketika masyarakat mudah terpecah karena ujaran kebencian, itu artinya pendidikan kebangsaan masih rapuh.
Jika demikian realitas yang terjadi, Hari Pendidikan Nasional seharusnya tidak dipahami sebagai perayaan tahunan, melainkan menjadi hari renungan nasional.
Hari ini—Sabtu, 2 Mei 2026 dalam momentum Hari Pendidikan Nasional—ini semestinya menjadi momentum untuk menundukkan kepala, bukan sekadar mengibarkan bendera. Sudahkah sistem pendidikan saat ini melahirkan manusia beradab? Sudahkah keluarga menanamkan kasih dan tanggung jawab? Sudahkah masyarakat menjadi ruang belajar yang sehat bagi generasi muda?
Pendidikan dan prosesnya sering disalahpahami hanya di sekolah—persepsi demikian muncul sebetulnya terjadi akibat rendahnya kualitas pendidikan dan sistem yang dibangun. Padahal Ki Hadjar Dewantara telah mengajarkan tentang tripusat pendidikan yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketika masyarakat masih dipenuhi kekerasan dan ketidakjujuran, itu artinya pendidikan belum berjalan baik. Ketika keluarga kehilangan waktu mendidik anak, pendidikan kita sedang digrogoti kegagalan. Ketika sekolah sibuk mengejar angka-angka lewat berbagai ujian tetapi lalai membangun karakter, sejujurnya pendidikan itu telah kehilangan arah.
Oleh karena itu, Hari Pendidikan Nasional lebih tepat menjadi hari renungan tentang nasib pendidikan hari ini dan masa mendatang. Renungan tentang anak-anak yang tumbuh di era digital tetapi miskin pendampingan orang tua. Renungan tentang guru yang memikul beban dna tanggung jawab yang berat namun sering kurang dihargai.
Renungan tentang orang tua yang sibuk bekerja tetapi kehilangan ruang dialog bersama anak. Renungan tentang pemimpin bangsa yang seharusnya memberi teladan tetapi justru mempertontonkan contoh yang kurang apik. Renungan tentang generasi muda yang berkawan akrab dengan teknologi namun rentan secara moral.
Jika setiap tahun pemerintah rutin mengirimkan surat edaran tentang perayaan Hari Pendidikan Nasional namun lupa menata ulang arah dan fokus pendidikan, maka Hari Pendidikan Nasional berubah menjadi ritual kosong. Ada seremoni, tetapi tanpa kesadaran. Ada upacara, tetapi tanpa perubahan. Ada slogan, tetapi tanpa keteladanan.
Meski begitu bukan berarti Hari Pendidikan Nasional harus dihapuskan. Justru sebaliknya, hari itu harus dimuliakan dengan cara yang benar, bukan sekadar pesta simbolik, tetapi momentum evaluasi besar-besaran. Rayakan dengan memperbaiki sekolah; memuliakan guru; menghadirkan rumah yang hangat bagi anak untuk belajar; menegakkan hukum secara adil; dan rayakan dengan memberi teladan yang baik di ruang publik.
Karena pendidikan yang berhasil akan tampak pada masyarakat yang jujur, tertib, saling menghormati, dan berbelas kasih. Jika itu belum terwujud, maka peringatan Hari Pendidikan Nasional seharusnya lebih banyak diisi keheningan dan renungan ketimbang kemeriahan. Sebab yang patut dirayakan bukan tanggalnya, melainkan terwujudnya nilai-nilai pendidikan dalam kehidupan berbangsa bernegara. Apabila hal tersebut belum tercapai, maka Hari Pendidikan Nasional menjadi alarm keras bahwa tanggung jawab besar pemerintah masih jauh dari cita-citanya.
*) Erwin Prastyo, Praktisi Pendidikan Dasar dan Penulis Buku “Ethos Berkarya”
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus updatetopik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.


