Selendang Budaya Banyuwangi “Osing”

  • Bagikan
Foto dewokwok.blogsport.com

|| Penulis: Juwita Alvina*

Banyuwangi, sebagai wilayah paling timur Pulau Jawa, berada di persimpangan Selat Bali dan Pegunungan Ijen, sehingga menciptakan lanskap geografis yang kaya akan keanekaragaman budaya. Daerah ini dikenal sebagai tanah Blambangan, yakni kerajaan Hindu terakhir yang bertahan hingga abad ke-18 sebelum jatuh ke kekuasaan VOC. Masyarakat Osing, sebagai etnis asli yang mendiami wilayah pedalaman dan pesisir, mempertahankan identitas unik melalui bahasa, adat, serta seni pertunjukan. Tari Gandrung muncul sebagai manifestasi utama warisan budaya tersebut, yang mengintegrasikan ritual agraris dengan ekspresi emosional kolektif.

Salah satu praktik budaya yang masih lestari hingga kini adalah tradisi masyarakat Osing. Masyarakat Osing merupakan penduduk asli Banyuwangi yang memiliki bahasa, tradisi, serta ekspresi seni khas yang membedakan mereka dari masyarakat Jawa pada umumnya. Inti budaya masyarakat Osing sangat erat kaitannya dengan praktik pertanian, adat istiadat warisan leluhur, serta hubungan yang harmonis dengan lingkungan. Salah satu ekspresi budaya yang paling dikenal adalah Tari Gandrung. Tarian ini bukan sekadar hiburan, melainkan juga menjadi simbol rasa syukur atas hasil panen serta bentuk penghormatan kepada leluhur.

Dalam pertunjukan Tari Gandrung, terdapat satu elemen penting yang selalu hadir, yaitu selendang. Selendang tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap busana penari, tetapi juga memiliki makna filosofis yang mendalam. Dalam tradisi Osing, selendang melambangkan kasih sayang, rasa hormat, kelembutan, serta hubungan antara penari dan penonton. Warna merah pada selendang melambangkan semangat, keberanian, dan cinta, sedangkan warna keemasan melambangkan kehormatan dan kemuliaan. Gerakan selendang yang anggun mencerminkan keindahan, persatuan, serta dialog budaya antara penari dan penonton.

Masyarakat Osing Banyuwangi dikenal memiliki filosofi hidup yang selaras dengan alam, di mana siklus pertanian padi dan panen menjadi dasar berbagai ritual tahunan. Tari Gandrung pada awalnya merupakan tarian syukur (sledetan) pascapanen yang dibawakan oleh penari laki-laki untuk menghibur tamu dan menghormati dewa bumi. Tradisi ini mengalami perkembangan pada abad ke-19, ketika perempuan mulai mengambil peran utama, sehingga menjadikannya sebagai simbol femininitas dan daya tarik sosial.

Pengaruh kolonial Belanda justru memperkuat posisi Gandrung sebagai bentuk resistensi budaya yang halus, yang berkembang dari pertunjukan desa hingga festival berskala besar. Dalam kajian antropologi Indonesia, masyarakat Osing dikategorikan sebagai subetnis Jawa dengan karakteristik khusus, seperti kecenderungan matrilineal dan praktik sinkretisme spiritual. Dokumentasi etnografis, seperti karya Koentjaraningrat, turut menyoroti peran Gandrung dalam mentransmisikan nilai-nilai komunal.

Selain melalui pendekatan simbol budaya, selendang Osing juga dapat dianalisis menggunakan Model Kemungkinan Elaborasi (Elaboration Likelihood Model/ELM) yang dikemukakan oleh Richard E. Petty dan John Cacioppo. Model ini menjelaskan bahwa proses persuasi dapat terjadi melalui dua jalur, yaitu jalur sentral dan jalur periferal. Jalur periferal terlihat pada daya tarik estetika pertunjukan Gandrung, seperti busana merah yang mencolok, komposisi penari, iringan musik gamelan, serta gerakan selendang yang anggun. Unsur-unsur tersebut mampu membangkitkan respons emosional penonton, meskipun mereka belum memahami makna simbolisnya secara mendalam.

Sementara itu, jalur sentral muncul ketika masyarakat mulai memahami makna selendang sebagai simbol kasih sayang, persatuan, serta identitas budaya masyarakat Osing. Pemahaman ini mendorong kesadaran kolektif untuk melestarikan tradisi tersebut. Ketika selendang dipahami bukan sekadar kain, melainkan sebagai bagian penting dari identitas budaya, maka muncul dorongan yang lebih kuat untuk menjaga keberlangsungannya. Hal inilah yang memungkinkan tradisi lokal tetap bertahan di tengah arus globalisasi dan modernisasi.

Upaya pelestarian selendang Osing juga terlihat melalui penyelenggaraan Festival Gandrung Sewu yang rutin dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Pada tahun 2025, festival ini mengusung tema “Selendang Sang Gandrung” sebagai upaya memperkuat identitas budaya daerah. Kegiatan ini diselenggarakan di Pantai Marina Boom Banyuwangi dan melibatkan sekitar 1.300 hingga 1.400 penari Gandrung, baik dari dalam maupun luar negeri. Ribuan penari tersebut menampilkan gerakan yang terkoordinasi sambil mengibarkan selendang merah, menciptakan pertunjukan yang memukau.

Festival Gandrung Sewu berhasil menarik perhatian wisatawan lokal, nasional, hingga mancanegara. Hal ini menunjukkan bahwa budaya Osing memiliki daya tarik yang kuat dalam industri pariwisata budaya. Selain itu, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal turut berpartisipasi dengan menawarkan kuliner khas, kerajinan tangan, serta selendang Gandrung. Dengan demikian, budaya tidak hanya memiliki nilai simbolis, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Banyuwangi.

Di era modern, budaya Osing menghadapi tantangan akibat masuknya pengaruh budaya luar serta menurunnya minat generasi muda terhadap tradisi lokal. Banyak generasi muda yang lebih tertarik pada budaya populer dibandingkan mempelajari warisan budaya daerah. Oleh karena itu, pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui festival, tetapi juga melalui pemanfaatan teknologi digital, seperti media sosial, platform daring, pameran virtual, serta aplikasi pariwisata.

Upaya digitalisasi ini menjadi langkah strategis untuk menjaga relevansi budaya Osing di era modern. Sinergi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan pelaku usaha sangat diperlukan untuk memastikan keberlanjutan warisan budaya tersebut. Selendang budaya “Osing” bukan sekadar elemen dalam Tari Gandrung, melainkan simbol identitas masyarakat Banyuwangi yang harus dijaga bersama.

Melestarikan selendang berarti menjaga sejarah, identitas, dan kebanggaan daerah agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang. Sebagai generasi penerus, sudah menjadi tanggung jawab bersama untuk mempertahankan warisan budaya agar tidak hilang ditelan zaman. Selendang Osing bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi juga representasi masa depan budaya Banyuwangi yang harus dijaga dan dilestarikan.


|| *) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi


Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus updatetopik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.

Download sekarang!

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
Our free link building tool gives you instant access to contextual links from thousands of websites worldwide.