|| Penulis: Isnaini Gita Rifayanti*
“Rumah mungkin punya jendela yang lebar, tetapi ia tetap akan terasa gelap jika tidak ada binar kasih di mata penghuninya. Ia mungkin punya tembok yang kokoh, tetapi ia tetap akan terasa runtuh jika tak ada lagi percakapan yang saling memeluk. Sebab, pada akhirnya, kita tidak pulang ke sebuah alamat, kita pulang ke sebuah perasaan.”
Kita sering mengira bahwa rumah yang lampunya bersinar terang di malam hari adalah rumah yang penuh kebahagiaan. Kenyataannya, jika kita melongok lebih dekat ke balik jendela, banyak rumah yang sebenarnya sedang “sakit”. Tidak ada teriakan atau piring yang pecah, melainkan sunyi yang mencekat. Bayangkan sebuah ruang keluarga tempat setiap orang duduk di sofa yang sama, namun tak ada satu pun mata yang saling beradu. Ayah terpaku pada berita di televisi, ibu hanyut dalam percakapan di grup ponselnya, dan anak-anak terkunci di balik pintu kamar masing-masing. Udara di dalam rumah itu terasa berat dan dingin, bukan karena mesin pendingin, melainkan karena setiap orang telah membangun tembok tinggi di sekeliling hati mereka.
Rumah itu benar-benar berdiri tegak. Catnya masih segar, pagarnya terkunci rapat, dan semua anggota keluarga hadir secara fisik. Akan tetapi, keberadaan itu sering kali menipu. Kita terjebak dalam pemikiran bahwa selama kita makan di meja yang sama, maka kita adalah keluarga yang utuh. Padahal, sering kali kita hanya sekumpulan raga yang terjebak dalam rutinitas administratif, sebuah kotak besar tempat kita menyimpan barang, namun membiarkan jiwa di dalamnya kelaparan akan kasih sayang. Rumah dalam kondisi ini hanyalah sebatas status. Ia ada secara fisik, tetapi tiada secara makna. Ia hanya menjadi museum benda mati yang bisu, tempat para penghuninya merasa asing di bawah atap yang sama.
Di sela sunyi itu, kita mulai bertanya, ke mana perginya rasa hangat itu? Kehangatan dalam rumah tidak diciptakan oleh selimut yang tebal atau kompor yang menyala di dapur, melainkan lahir dari kata-kata sederhana yang tulus. Ketika komunikasi berubah menjadi kaku dan transaksional, hanya bicara soal tugas sekolah atau uang saku, saat itulah suhu batin di dalam rumah mulai membeku. Kita menjadi “orang asing yang akrab”. Kita tahu nama masing-masing, tetapi kita tidak tahu luka atau mimpi apa yang sedang disembunyikan oleh orang di sebelah kita. Hangat itu hilang karena kita lebih sering menyapa dunia luar di balik layar ponsel daripada menatap mata jiwa yang duduk tepat di hadapan kita.
Dampak paling sunyi dari rumah yang dingin adalah saat seorang anak mulai merasa menggigil di kamarnya sendiri. Pakar sastra anak, Burhan Nurgiyantoro, pernah mengisyaratkan bahwa harmoni lingkungan terdekat sangat menentukan perkembangan batin seorang anak. Ketika rasa hangat tak lagi ditemukan di bawah atap sendiri, mereka akan mulai melangkah mencari “matahari” di tempat lain. Mereka mungkin mencarinya di halaman-halaman buku cerita, di sela-sela obrolan dengan dunia maya, atau di pelukan teman yang lebih mampu mendengarkan. Rumah pun berubah fungsi. Ia bukan lagi dermaga untuk bersandar, melainkan tempat yang paling menguras energi mental. Kita tidak boleh terkejut jika suatu saat anak-anak merasa lebih “pulang” saat berada jauh dari rumah, karena di sanalah mereka akhirnya merasa diterima.
Sering kali kita menyalahkan keadaan atau waktu yang sempit, padahal dinding rumah tidak pernah meminta untuk diam, kitalah yang berhenti mengajaknya bicara. Rumah yang dingin bukanlah kutukan, melainkan akibat dari api kasih sayang yang lupa kita jaga. Kita terlalu sibuk memastikan kompor menyala agar perut kenyang, namun lupa memastikan hati masing-masing tetap hangat agar jiwa tidak mati dalam kesendirian. Kita lupa bahwa rumah adalah tempat kita melepas topeng yang kita pakai di dunia luar, bukan malah tempat kita harus memakai topeng yang paling tebal.
Sebab, pada akhirnya, membangun rumah memang butuh semen dan bata, tetapi menghidupkan rumah butuh sapaan dan cinta. Keutuhan keluarga bukan diukur dari kehadiran fisik di ruang tamu, melainkan dari kedekatan hati di setiap ruang komunikasi. Jangan biarkan rumahmu menjadi museum benda mati yang bisu. Mulailah kembali bercerita, mulailah kembali mendengar. Karena harta paling berharga bagi seorang anak bukanlah atap yang mewah, melainkan rasa tenang saat tahu bahwa ia punya tempat untuk pulang yang benar-benar memeluknya.
|| * Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus updatetopik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.


