Anak Bergerak, Bangsa Bergerak

  • Bagikan
Frendy Aru Fantiro

Krisis Aktivitas Fisik Anak Sekolah Dasar di Era Digital

|| Penulis : Frendy Aru Fantiro*

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, anak-anak Indonesia justru menghadapi ancaman yang kerap dianggap sepele: kurang bergerak. Anak usia sekolah dasar kini lebih akrab dengan layar gawai dibandingkan dengan lapangan permainan. Fenomena ini bukan sekadar perubahan gaya hidup, melainkan telah menjadi persoalan kesehatan, pendidikan, hingga masa depan bangsa.

Data World Health Organization menunjukkan lebih dari 80 persen remaja usia sekolah di dunia tidak memenuhi rekomendasi aktivitas fisik harian, yakni minimal 60 menit per hari. Kondisi ini menjadi alarm serius karena aktivitas fisik merupakan fondasi penting bagi pertumbuhan tubuh, perkembangan motorik, kesehatan mental, serta kemampuan kognitif anak.

Sebagai akademisi sekaligus praktisi pendidikan olahraga, saya memandang persoalan ini bukan semata tentang anak yang malas bergerak, melainkan tentang lingkungan yang perlahan menjauhkan mereka dari aktivitas fisik alami. Anak-anak saat ini hidup di ruang yang semakin sempit untuk bergerak, sementara dunia digital terus merebut perhatian mereka setiap waktu.

Anak Indonesia Mengalami “Krisis Gerak”

Berbagai penelitian menunjukkan anak-anak Indonesia mengalami peningkatan perilaku sedentari atau sedentary behavior, yakni kebiasaan duduk terlalu lama dengan aktivitas fisik yang minim. Banyak anak menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar, baik untuk hiburan maupun pembelajaran digital.

Di sinilah persoalan yang kerap luput dipahami. Banyak orang tua merasa anak mereka aman karena berada di rumah sambil bermain gawai. Padahal, secara fisiologis, tubuh anak dirancang untuk aktif bergerak, bukan duduk diam dalam waktu lama.

Jika kondisi ini terus berlangsung, dampaknya tidak hanya berupa obesitas. Risiko lain yang mulai muncul sejak usia dini meliputi:

  • penurunan kebugaran jasmani,
  • gangguan postur tubuh,
  • menurunnya kemampuan motorik,
  • gangguan konsentrasi belajar,
  • masalah kesehatan mental,
  • hingga meningkatnya risiko penyakit degeneratif pada masa depan.

Sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga, saya memandang aktivitas fisik bukan sekadar kegiatan tambahan, melainkan kebutuhan dasar dalam proses tumbuh kembang anak. Anak yang aktif bergerak tidak hanya lebih sehat secara fisik, tetapi juga lebih percaya diri, lebih fokus belajar, dan lebih baik dalam bersosialisasi.

Sekolah Tak Bisa Hanya Mengandalkan Jam PJOK

Masih terdapat anggapan bahwa pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) selama dua jam per minggu sudah cukup memenuhi kebutuhan gerak anak. Padahal, secara ilmiah, asumsi tersebut sangat lemah.

WHO merekomendasikan anak usia sekolah melakukan aktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga berat selama minimal 60 menit setiap hari. Artinya, aktivitas fisik harus menjadi budaya hidup sehari-hari, bukan sekadar mata pelajaran formal di sekolah.

Sekolah dasar memiliki peran strategis dalam membangun budaya aktif tersebut. Namun, realitas di lapangan menunjukkan banyak sekolah tanpa sadar justru membentuk budaya pasif, seperti:

  • anak terlalu lama duduk di kelas,
  • waktu bermain yang semakin terbatas,
  • minimnya ruang terbuka,
  • serta permainan tradisional yang mulai ditinggalkan.

Padahal, dari sudut pandang ilmu keolahragaan, bermain aktif merupakan media penting dalam perkembangan motorik, koordinasi tubuh, karakter sosial, hingga kecerdasan emosional anak.

Pendidikan modern seharusnya tidak hanya mencetak anak yang unggul secara akademik, tetapi juga generasi yang sehat, aktif, dan memiliki kualitas hidup yang baik.

Gadget Bukan Musuh

Menyalahkan teknologi sepenuhnya juga bukan solusi yang bijak. Gawai bukanlah musuh utama. Persoalan sesungguhnya terletak pada ketidakseimbangan antara aktivitas digital dan aktivitas fisik.

Saat ini, banyak anak lebih mengenal permainan virtual dibandingkan permainan fisik di dunia nyata. Dunia digital menawarkan hiburan instan yang membuat aktivitas fisik kerap dianggap melelahkan dan kurang menarik.

Karena itu, tugas orang tua, guru, dan masyarakat bukan sekadar membatasi penggunaan gawai, melainkan menciptakan lingkungan yang membuat anak senang bergerak. Aktivitas fisik harus dikemas secara menyenangkan, kreatif, dan sesuai dengan perkembangan zaman.

Jika anak kehilangan budaya bergerak sejak dini, bangsa ini tidak hanya kehilangan generasi yang sehat, tetapi juga generasi yang tangguh.

Aktivitas Fisik sebagai Investasi Masa Depan

Aktivitas fisik bukan hanya urusan olahraga. Lebih dari itu, aktivitas fisik merupakan investasi bagi kualitas manusia Indonesia di masa depan.

Anak-anak yang aktif bergerak hari ini berpotensi tumbuh menjadi generasi yang:

  • lebih sehat,
  • lebih disiplin,
  • lebih produktif,
  • lebih tangguh secara mental,
  • serta lebih siap menghadapi tantangan kehidupan.

Sebaliknya, jika budaya pasif terus berkembang, bangsa ini akan menghadapi peningkatan beban kesehatan dan penurunan kualitas sumber daya manusia pada masa mendatang.

Melalui momentum ini, saya mengajak seluruh pihak—orang tua, sekolah, pemerintah, dan masyarakat—untuk kembali menghadirkan ruang gerak bagi anak-anak Indonesia. Sebab, anak yang aktif bergerak bukan hanya tumbuh sehat, melainkan juga tumbuh menjadi manusia yang lebih utuh.


||* Kaprodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Universitas Muhammadiyah Malang


Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.

Download sekarang!

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
Our free link building tool gives you instant access to contextual links from thousands of websites worldwide.