|| Penulis: Nanda Sabila Achmad*
Dunia saat ini berada pada era digital yang membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan dan kebudayaan (Srihastuty et al., 2024). Perubahan tersebut juga terlihat pada cara masyarakat mengenal cerita rakyat. Salah satu contohnya adalah dongeng Bawang Merah Bawang Putih yang dahulu disampaikan secara lisan, tetapi kini hadir melalui berbagai media digital.
Sejak dahulu, dongeng sering diceritakan oleh orang tua kepada anak-anaknya sebelum tidur. Salah satu cerita yang cukup dikenal adalah Bawang Merah Bawang Putih. Pada awalnya, dongeng ini diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Seiring perkembangan teknologi, cerita tersebut kemudian hadir dalam bentuk buku dan film. Perubahan ini menunjukkan bahwa dongeng tradisional mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman (Amin & Rafiyana, 2022).
Sebelum gawai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak-anak, kisah Bawang Merah Bawang Putih berkembang melalui tradisi lisan. Pada masa itu, sastra anak hadir dalam suasana yang hangat, biasanya sebagai dongeng pengantar tidur yang diceritakan oleh nenek atau orang tua. Tanpa bantuan gambar maupun animasi, kekuatan utama cerita ini terletak pada kemampuan pencerita dalam membangun imajinasi anak. Pendengar diajak membayangkan sendiri bagaimana Bawang Putih menangis di tepi sungai saat mencari kain merah milik ibu tirinya yang hanyut. Interaksi lisan tersebut tidak hanya menyampaikan alur cerita, tetapi juga mendorong anak untuk membentuk gambaran tentang penderitaan dan keajaiban yang terdapat dalam kisah tersebut tanpa perlu melihat layar. Oleh karena itu, pesan moral mengenai kesabaran, ketulusan, dan kebaikan hati Bawang Putih terasa lebih personal serta membekas sejak usia dini.
Seiring berjalannya waktu, cerita yang sebelumnya disampaikan secara lisan mulai hadir dalam bentuk buku cerita bergambar yang lebih terstruktur. Pada masa ini, sastra anak mulai memasuki ranah pendidikan formal melalui perpustakaan sekolah maupun koleksi bacaan di rumah. Kehadiran buku cetak memberikan pengalaman baru bagi anak-anak karena mereka tidak hanya mendengar cerita, tetapi juga melihat representasi visual para tokohnya. Ilustrasi wajah Bawang Merah yang tampak angkuh atau Bawang Putih yang sederhana cenderung membentuk bayangan yang lebih seragam di benak pembaca. Melalui buku fisik, anak-anak dapat mengikuti alur cerita secara kronologis dari halaman ke halaman sambil membangun kebiasaan membaca. Selain itu, buku menjadi media yang lebih tahan lama untuk menyimpan nilai-nilai moral sehingga kisah perjuangan Bawang Putih dapat dibaca berulang kali oleh generasi berikutnya.
Memasuki era modern, kisah Bawang Merah Bawang Putih turut hadir dalam berbagai format digital. Saat ini, anak-anak tidak lagi harus menunggu seseorang bercerita atau membuka lembaran buku karena cerita tersebut dapat dinikmati melalui animasi di YouTube, film, maupun aplikasi cerita interaktif. Kehadiran media digital menawarkan visual yang lebih dinamis serta efek suara yang menarik sehingga pengalaman menikmati sastra anak menjadi lebih praktis dan menyenangkan. Namun, kemudahan ini juga membawa tantangan tersendiri. Kecepatan alur dan dominasi visual di layar terkadang membuat anak-anak lebih fokus pada tontonan daripada memahami pesan moral yang terkandung di dalamnya.
Dalam kajian sastra, perubahan bentuk seperti ini disebut alih wahana, yaitu perpindahan karya dari satu media ke media lain tanpa menghilangkan inti ceritanya. Meskipun mediumnya berubah, digitalisasi membantu menjaga keberlanjutan dongeng klasik agar tetap dikenal oleh generasi masa kini sekaligus mempertahankan nilai-nilai kejujuran, kesabaran, dan kebaikan yang terkandung di dalamnya.
Perjalanan dongeng Bawang Merah Bawang Putih menunjukkan bahwa sastra anak selalu mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Dari cerita lisan yang hangat, buku bergambar yang mendidik, hingga media digital yang praktis, setiap masa menghadirkan cara baru untuk mengenalkan nilai-nilai moral kepada anak-anak. Oleh karena itu, perubahan media seharusnya tidak dianggap sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang untuk menjaga dongeng klasik tetap hidup di tengah generasi masa kini.
||* Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Universitas Muhammadiyah Malang
Daftar Pustaka
Amin, U., & Rafiyana, D. (2022). Pergeseran Watak dan Pesan Moral Cerita Bawang Merah dan Bawang Putih pada Era Digital. Jurnal ILEAL, 7(2), 414–424.
Srihastuty, W., Piliang, H., Andriyani, N., dkk. (2024). Transfer of the Malin Kundang Legend Folklore Ride to Animated Films. 12(1), 130–142.
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.


