Surabaya – harianjatim.com Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Airlangga (UNAIR) semakin mempererat sinergi dalam pengembangan riset kesehatan. Kolaborasi tersebut difokuskan pada penelitian penyakit infeksi tropis, pengembangan vaksin, obat-obatan, serta bioproduk kesehatan sebagai upaya memperkuat kemandirian riset nasional.
Penguatan kemitraan itu mengemuka dalam kunjungan Institut of Tropical Disease (ITD) dan Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) UNAIR ke Organisasi Riset (OR) Kesehatan BRIN di Cibinong pada Kamis (30/7). Agenda tersebut menjadi tindak lanjut dari kunjungan BRIN ke ITD UNAIR beberapa bulan sebelumnya sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas di tingkat kelembagaan.
Delegasi UNAIR dipimpin oleh perwakilan ITD, dr. Priyo Budi Purwono, M.Si., Sp.MK., Ph.D., didampingi sejumlah peneliti, di antaranya Laura Navika Yamani, S.Si., M.Si., Ph.D., Prof. Dr. Fedik Abdul Rantam, dr. Khanisyah Erza Gumilar, Sp.OG., Subsp.K.Fm., Ph.D., Zayyin Dinana, drh., M.Si., serta jajaran Direktorat Riset dan Inovasi UNAIR.
Kedatangan rombongan disambut langsung oleh Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Prof. Dr. drh. NLP Indi Dharmayanti, M.Si., bersama para pimpinan pusat riset di lingkungan OR Kesehatan, meliputi Pusat Riset Biomedis, Kedokteran Preklinis dan Klinis, Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional, Biologi Molekuler Eijkman, hingga Pusat Riset Veteriner.
Dalam keterangannya kepada media, Minggu (2/8), Prof. Indi menjelaskan bahwa hubungan kerja sama BRIN dan UNAIR telah terjalin cukup lama. Namun, menurutnya, kolaborasi tersebut selama ini lebih banyak dilakukan antarpeneliti sehingga perlu diperkuat melalui kemitraan kelembagaan yang lebih strategis.
“Kami berharap hubungan BRIN dan UNAIR semakin erat sehingga lahir lebih banyak riset kolaboratif dengan dukungan pendanaan, baik dari BRIN maupun sumber eksternal. Selain itu, terbuka pula peluang pengembangan sumber daya manusia, termasuk program pendidikan doktor bagi peneliti kedua institusi,” ujarnya.
Sementara itu, dr. Priyo mengungkapkan bahwa selama sekitar dua dekade ITD UNAIR secara konsisten mengembangkan penelitian mengenai berbagai penyakit infeksi tropis yang masih menjadi tantangan kesehatan di Indonesia, seperti tuberkulosis, malaria, hepatitis, dan beragam penyakit zoonosis.
Ia menambahkan, fokus penelitian ITD kini telah berkembang dari riset dasar menuju kegiatan yang lebih aplikatif, meliputi surveilans penyakit, pengembangan bioproduk berupa vaksin, obat, dan alat diagnostik, hingga pelaksanaan uji klinis bersama Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA).
“Komitmen kami adalah menghasilkan riset yang mampu memberikan solusi nyata bagi persoalan penyakit infeksi tropis di Indonesia. Karena itu, kolaborasi dengan BRIN menjadi sangat strategis untuk mempercepat hilirisasi hasil penelitian,” kata dr. Priyo.
Di kesempatan yang sama, Direktur Riset dan Inovasi UNAIR, Dr. Purwo Sri Rejeki, dr., M.Kes., mengatakan bahwa pihaknya terus mendorong para peneliti untuk memperluas jejaring kerja sama, baik di tingkat nasional maupun internasional, melalui berbagai skema pendanaan riset yang kompetitif.
Menurutnya, UNAIR telah memiliki berbagai kelompok riset, pusat penelitian, serta Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi (PUI-PT) yang dapat disinergikan dengan fasilitas dan kapasitas riset yang dimiliki BRIN.
“BRIN memiliki berbagai peluang pendanaan riset setiap tahun. Kami berharap peneliti UNAIR dapat memanfaatkan peluang tersebut sekaligus membangun kolaborasi yang lebih kuat dalam mendukung kemandirian kesehatan nasional,” ujarnya.
Purwo juga menyampaikan bahwa sejumlah topik riset unggulan yang sedang dikembangkan UNAIR memiliki potensi besar untuk menjadi fondasi pembentukan konsorsium pusat riset bersama antara UNAIR dan BRIN, sehingga kolaborasi kedua institusi dapat menghasilkan inovasi yang lebih luas.
Selain menggelar diskusi, rombongan UNAIR turut meninjau berbagai fasilitas riset unggulan milik BRIN, termasuk laboratorium genomik dan fasilitas Cryogenic Electron Microscopy (Cryo-EM) yang dikenal sebagai salah satu fasilitas penelitian paling modern di Asia Tenggara.
Pemanfaatan bersama berbagai infrastruktur riset tersebut diharapkan mampu mempercepat lahirnya inovasi di bidang kesehatan, sekaligus memperkuat ekosistem riset nasional yang terintegrasi antara perguruan tinggi dan lembaga riset pemerintah, sehingga hasil penelitian dapat lebih cepat memberikan manfaat bagi masyarakat. (*/ITD UNAIR)


