Reporter: harianjatim
Sumenep-harianjatim.com. Pemerintah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, mulai menyusun peta jalan percepatan pertumbuhan ekonomi untuk 2027. Dokumen tersebut diarahkan tidak sekadar menjadi rencana pembangunan, tetapi menjadi acuan untuk mendorong nilai tambah ekonomi, membuka lapangan kerja, dan menekan kemiskinan.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumenep Arif Firmanto mengatakan, peta jalan itu harus mampu menjawab sektor ekonomi yang paling potensial untuk menjadi penggerak pertumbuhan daerah.
“Yang terpenting dari penyusunan peta jalan percepatan pertumbuhan ekonomi yang kami lakukan ini agar sejauh mana pertumbuhan tersebut mampu menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, mengurangi kemiskinan, memperkuat daya saing daerah, serta memberikan manfaat yang lebih merata bagi masyarakat Sumenep,” kata Arif di Sumenep, Sabtu (15/8/2026).
Menurut Arif, Sumenep memiliki sejumlah modal ekonomi yang dapat dikembangkan. Sektor tersebut antara lain pertanian, perikanan, peternakan, garam, perkebunan, pariwisata bahari dan budaya, industri kreatif, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perdagangan dan jasa, hingga minyak dan gas bumi.
Namun, karakter Sumenep sebagai daerah kepulauan membuat pengembangan ekonomi memiliki tantangan tersendiri.
Karena itu, pemerintah daerah perlu menentukan sektor yang benar-benar memiliki kemampuan menjadi penggerak utama ekonomi sekaligus memberikan dampak langsung kepada masyarakat.
Hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah
Salah satu agenda yang menjadi perhatian dalam penyusunan peta jalan tersebut adalah hilirisasi.
Arif mengatakan, komoditas yang dihasilkan masyarakat Sumenep perlu didorong agar tidak hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah. Pengolahan lebih lanjut di daerah diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah sekaligus memperluas kesempatan kerja.
“Semakin banyak nilai tambah yang dapat dipertahankan di Kabupaten Sumenep, semakin besar pula peluang meningkatkan pendapatan masyarakat, kesempatan kerja dan pendapatan asli daerah (PAD),” ujarnya.
Selain hilirisasi, sektor yang dinilai perlu mendapat perhatian meliputi perikanan dan industri pengolahan, garam, pariwisata, UMKM dan industri kreatif, perdagangan dan jasa, serta investasi dan industri.
Lima fokus percepatan ekonomi Sumenep
Bappeda Sumenep mencatat sedikitnya lima hal yang perlu menjadi perhatian dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah.
Pertama, menentukan sektor prioritas dan sektor ekonomi yang menjadi penggerak utama Kabupaten Sumenep.
Kedua, mendorong hilirisasi dan peningkatan nilai tambah komoditas daerah.
Ketiga, mendorong investasi secara lebih konkret sehingga tidak berhenti pada penyusunan kebijakan, tetapi dapat menghasilkan kegiatan ekonomi baru.
Keempat, memperkuat UMKM dan pelaku ekonomi lokal.
Menurut Arif, pengembangan UMKM tidak cukup hanya melalui pelatihan dan pembinaan. Pelaku usaha juga perlu mendapatkan akses pembiayaan, teknologi, digitalisasi, sertifikasi, peningkatan kualitas produk, perbaikan kemasan, pemasaran, hingga akses terhadap rantai pasok yang lebih besar.
Kelima, memastikan peta jalan tersebut memiliki target dan pembagian peran yang jelas.
“Setiap program harus memiliki kejelasan mengenai siapa yang melaksanakan, kapan dilaksanakan, target yang hendak dicapai, kebutuhan pendanaan, serta indikator keberhasilannya,” kata Arif.
Tantangan: pertumbuhan harus terasa di masyarakat
Penyusunan peta jalan ekonomi tersebut pada akhirnya akan diuji oleh kemampuan pemerintah daerah menerjemahkan perencanaan menjadi program yang menghasilkan dampak nyata.
Pertumbuhan ekonomi tidak hanya diukur dari meningkatnya aktivitas produksi atau investasi, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat memperoleh manfaat melalui peningkatan pendapatan, kesempatan kerja, dan penguatan usaha lokal.
Dengan karakter ekonomi Sumenep yang bertumpu pada banyak sektor dan wilayah kepulauan yang tersebar, penentuan sektor prioritas menjadi penting agar kebijakan pembangunan tidak berjalan sendiri-sendiri.
Peta jalan ekonomi 2027 diharapkan dapat menjadi instrumen untuk menghubungkan potensi sumber daya daerah dengan industri pengolahan, investasi, UMKM, serta pasar yang lebih luas.
Dengan demikian, komoditas dan potensi ekonomi Sumenep tidak berhenti sebagai sumber bahan baku, tetapi dapat menghasilkan nilai tambah yang lebih besar di daerah.
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com
(Jd/Ikn/Red)


