KKN UMM Kelompok 162 Kembangkan Pestisida Nabati dan Pupuk Organik Cair dari Potensi Lokal

  • Bagikan
Mahasiswa KKN Berdampak UMM Kelompok 162 bersama warga dan perangkat Desa Tumpakrejo, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, berfoto bersama di depan Balai Pertemuan Desa Tumpakrejo. Kegiatan KKN berlangsung pada 29 Juli–31 Agustus 2026 dengan mengusung tema penguatan potensi lokal dan ketahanan pangan. (foto: for harianjatim)

Reporter: harian jatim

Malang-harianjatim.com. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Kelompok 162 mengembangkan pemanfaatan bahan lokal untuk pembuatan pestisida nabati dan pupuk organik cair (POC) di Dusun Bulurejo, Desa Tumpakrejo, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Program yang dilaksanakan pada 11 Agustus 2026 itu berangkat dari kebutuhan masyarakat. Warga setempat mengaku masih membutuhkan pengetahuan mengenai cara membuat pestisida nabati dan POC secara mandiri.

Kebutuhan tersebut dinilai relevan dengan kondisi Dusun Bulurejo yang sebagian masyarakatnya bergerak di sektor pertanian. Berdasarkan hasil observasi, mahasiswa KKN menemukan sejumlah sumber daya yang berpotensi dimanfaatkan, mulai dari daun pepaya, daun paitan, tanaman tebu, pohon kelapa, hingga bahan organik rumah tangga.

Potensi tersebut kemudian menjadi dasar bagi Kelompok 162 untuk menyusun program yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat sekaligus kondisi lingkungan setempat.

Gagasan program bermula dari permintaan masyarakat yang ingin mempelajari pembuatan pestisida nabati dan POC. Salah seorang warga mengatakan, pengetahuan mengenai proses pembuatan kedua produk tersebut masih terbatas.

“Saya ingin tahu cara membuatnya karena masih belum paham dan ingin belajar membuat pestisida nabati dan POC sendiri,” ujar warga tersebut.

Mahasiswa kemudian melakukan pengamatan terhadap bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar permukiman dan lahan pertanian. Hasilnya menunjukkan bahwa sejumlah tanaman dapat menjadi alternatif bahan untuk mendukung program tersebut.

Daun pepaya, misalnya, dipilih karena tanaman tersebut banyak ditemukan di sekitar rumah warga. Selain itu, daun paitan juga dinilai berpotensi dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pestisida nabati.

Adapun untuk POC, mahasiswa melihat peluang pemanfaatan bahan organik rumah tangga yang selama ini berpotensi menjadi limbah. Sayuran yang sudah tidak terpakai serta air cucian beras menjadi contoh bahan yang dapat dimanfaatkan kembali.

Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk memperkenalkan alternatif bahan pertanian kepada masyarakat. Mahasiswa juga berupaya mendorong warga mengenali dan mengoptimalkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.

Pendekatan berbasis potensi lokal dinilai penting karena bahan yang diperkenalkan relatif mudah ditemukan masyarakat. Dengan demikian, pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan KKN diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pendampingan, tetapi dapat diterapkan secara mandiri oleh warga.

Program KKN Berdampak UMM Kelompok 162 sekaligus menunjukkan pentingnya menjadikan kebutuhan masyarakat sebagai dasar dalam merancang kegiatan pengabdian. Hasil observasi mahasiswa digunakan untuk menyesuaikan program dengan karakteristik dan potensi Dusun Bulurejo.

Melalui pengembangan pestisida nabati dan POC, mahasiswa berharap masyarakat semakin mengenal pemanfaatan bahan alami dan limbah organik di sekitar mereka. Upaya tersebut diharapkan menjadi langkah awal dalam mengoptimalkan potensi lokal dan mendorong praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.


Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google  News harianjatim.com. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com  

Download sekarang!

(rls/red)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90