Tuban-Hasil panen pekarangan kini tidak hanya menjadi penghias pelataran rumah, tetapi diolah langsung menjadi menu cegah tengkes (stunting) di meja makan keluarga. Memanfatkan komoditas lokal seperti ikan lele, labu kuning, hingga ubi yalkon, sebanyak 30 kader Kelompok Kerja (Pokja) Taman Gizi Keluarga (TaGiKa) dari enam desa di Tuban mempraktikkan pengolahan makanan gizi seimbang.
Praktik olahan makanan tersebut memuat misi besar untuk menekan angka stunting hingga 10 persen di wilayah pendampingan. Rangkaian Program Pengembangan TaGiKa yang diinisiasi ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama SKK Migas dan Yayasan eL-SAL Indonesia ini digelar di Balai Desa Sumurcinde, Kecamatan Soko, Rabu (2/9/2026).
Pelatihan ini merangkul kader dari Desa Simo, Sokosari, Sumurcinde, dan Nguruan di Kecamatan Soko, serta Desa Banjaragung dan Campurejo di Kecamatan Rengel.
Di bawah bimbingan Wakil Ketua DPD Perkumpulan Chef Profesional Indonesia Jawa Timur, Chef Haris Harianto, para kader Posyandu dan PKK mempraktikkan langsung pembuatan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI), menu ibu hamil dan menyusui, hingga masakan gizi keluarga.
Bahan-bahan yang dipanen dari pekarangan warga seperti terong ungu, pakcoy, ubi ungu, ubi yalkon, labu kuning, hingga ikan lele disulap menjadi deretan olahan bernilai gizi tinggi. Untuk kategori MP-ASI, peserta meracik bubur cha-cha, puree waluh, hingga mashed potato dengan taburan abon lele. Sementara untuk menu ibu hamil dan menyusui, dihadirkan olahan pakcoy saus tiram, lele filet, serta salad buah segar berbasis yalkon dan pepaya.
“Kunci utamanya bukan terletak pada bahan yang mahal, melainkan ketepatan memilih dan menyusun variasi pangan dari lingkungan sekitar. Bahan sederhana seperti ubi dan lele pekarangan dapat menjadi menu menarik serta memenuhi standar gizi keluarga,” jelas Chef Haris.
Kader Pokja TaGiKa asal Desa Sokosari, Dwi Puji Prasetyo Rini, mengaku pelatihan ini memberinya bekal konkret saat mendampingi masyarakat di Posyandu.

“Selama ini kami hanya memberikan imbauan secara lisan. Setelah mempraktikkan sendiri racikan bolu ubi, terong woku, hingga jus yalkon ini, kami punya contoh nyata yang bisa langsung diajarkan kepada ibu-ibu di desa,” tutur Dwi Puji.
Sementara itu perwakilan EMCL, Feni Kurnia Indiharti, menjelaskan bahwa program TaGiKa dirancang holistik, mulai dari penanaman di pekarangan hingga penyajian di piring makan.
“EMCL berkomitmen mendukung penuh agenda Pemkab Tuban dalam menekan stunting dari tingkat keluarga. Kami berharap pengetahuan pengolahan gizi ini menjadi kebiasaan baru yang terus dipraktikkan secara mandiri oleh warga di sekitar wilayah operasi,” kata Feni.
Dukungan serupa ditegaskan pihak pemerintah kecamatan. Perwakilan Camat Soko, Novie Eka Rosaria, mengimbau agar pemerintah desa menyerap keterampilan para kader ini ke dalam kegiatan rutin desa.
“Pemerintah desa perlu mengintegrasikan praktik baik TaGiKa ini ke dalam program Posyandu dan PKK desa, sehingga manfaatnya terus mengalir secara berkelanjutan,” tegas Novie.
Ketua Yayasan eL-SAL Indonesia, Imam Muqroni, menjelaskan bahwa hadirnya demo masak ini merupakan pembuktian bahwa pekarangan rumah mampu menjadi benteng utama kesehatan keluarga. “TaGiKa bukan sekedar bercocok tanam, melainkan cara mendekatkan edukasi gizi ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat,” pungkas Imam.


