|| Penulis : Sapa Redaksi
Krisis regenerasi petani bukan sekadar persoalan tenaga kerja, melainkan ancaman terhadap masa depan lahan pertanian dan ketahanan pangan.
Ada sesuatu yang perlahan berubah di desa-desa Jawa Timur. Sawah masih terbentang. Musim tanam masih berlangsung. Petani masih bekerja dari pagi hingga sore. Namun, di balik aktivitas itu muncul persoalan yang jauh lebih besar: semakin sedikit anak muda yang melihat pertanian sebagai masa depan.
Bagi sebagian generasi muda, pertanian bahkan mulai dipandang sebagai jalan terakhir. Jika pekerjaan di sektor industri, perdagangan, jasa, pemerintahan, atau sektor lain tidak diperoleh, barulah bertani dipertimbangkan.
Pandangan tersebut tentu tidak lahir dari ruang kosong.
Generasi muda menyaksikan sendiri kehidupan orang tua mereka. Bertani membutuhkan tenaga, modal, waktu, dan kesabaran. Hasilnya pun tidak selalu sebanding dengan biaya dan risiko yang ditanggung.
Harga pupuk dan sarana produksi menjadi beban. Cuaca semakin sulit diprediksi. Serangan hama dapat datang sewaktu-waktu. Ketika panen tiba, harga komoditas belum tentu memberikan keuntungan yang layak.
Di sinilah persoalan sebenarnya berada.
Anak muda bukan semata-mata tidak mau bertani. Mereka sedang menghitung masa depan.
Jika pekerjaan tersebut tidak mampu memberikan pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, membangun rumah tangga, menyekolahkan anak, dan meningkatkan kesejahteraan, mengapa pertanian harus menjadi pilihan pertama?
Pertanyaan ini penting karena sering kali diskusi mengenai regenerasi petani terlalu cepat menyalahkan generasi muda. Anak muda dianggap tidak lagi tertarik pada sawah, terlalu mengejar pekerjaan di kota, atau tidak mau menjalani pekerjaan yang berat.
Padahal, keputusan mereka meninggalkan pertanian juga merupakan respons terhadap realitas ekonomi.
Data Sensus Pertanian 2023 menunjukkan petani milenial berusia 19–39 tahun sekitar 6,18 juta orang atau 21,93 persen dari petani Indonesia. Angka tersebut menunjukkan bahwa generasi muda masih ada di sektor pertanian. Namun, jumlah tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa regenerasi petani tidak boleh dianggap sebagai persoalan kecil.
Sebab, petani hari ini tidak akan selamanya berada di sawah.
Dalam sepuluh tahun mendatang, sebagian besar petani yang sekarang berusia lanjut akan semakin terbatas kemampuan fisiknya. Pada saat yang sama, anak-anak mereka mungkin telah memilih profesi lain.
Lalu muncul pertanyaan yang sederhana tetapi mendasar:
Siapa yang akan menggarap sawah?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting di Jawa Timur, salah satu wilayah penting dalam produksi pangan nasional.
Jawa Timur tidak hanya memiliki hamparan lahan pertanian yang luas, tetapi juga jutaan keluarga yang menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian. Jika regenerasi tidak berjalan, persoalannya tidak berhenti pada berkurangnya jumlah petani.
Lahan pun berpotensi ikut kehilangan masa depan.
Tanah pertanian yang tidak lagi menarik secara ekonomi akan menghadapi tekanan yang lebih besar. Pemilik lahan dapat memilih menjualnya. Generasi berikutnya mungkin lebih tertarik mengalihfungsikannya. Sementara kebutuhan permukiman, industri, perdagangan, dan infrastruktur terus bertambah.
Di titik inilah krisis regenerasi petani dapat bertemu dengan persoalan alih fungsi lahan.
Sawah yang hari ini menghasilkan pangan dapat berubah menjadi bangunan. Lahan yang dahulu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dapat kehilangan fungsi pertaniannya karena dianggap tidak lagi memberikan keuntungan yang memadai.
Jika kecenderungan itu berlangsung terus-menerus, sepuluh tahun mendatang kita mungkin menghadapi situasi yang ironis.
Lahannya masih ada, tetapi orang yang ingin menggarapnya semakin sedikit.
Karena itu, menjaga pertanian tidak cukup dengan menjaga luas lahan.
Kita juga harus menjaga agar profesi petani tetap memiliki masa depan.
Pemerintah perlu mengubah pendekatan. Regenerasi petani tidak boleh hanya dilakukan dengan mengajak anak muda kembali ke desa. Mereka membutuhkan alasan ekonomi yang kuat untuk bertahan.
Anak muda tidak cukup diberi pelatihan menanam. Mereka membutuhkan akses terhadap lahan, modal, teknologi, pasar, informasi harga, perlindungan risiko, dan kepastian usaha.
Pertanian juga harus dipandang sebagai bisnis.
Petani tidak boleh hanya menjadi produsen yang menjual hasil panen dalam bentuk mentah. Generasi muda harus diberi ruang untuk masuk ke seluruh rantai nilai pertanian: produksi, pengolahan, pengemasan, distribusi, pemasaran, hingga ekspor.
Dengan teknologi, pertanian bahkan dapat menjadi sektor yang sangat modern.
Anak muda dapat menjadi petani berbasis teknologi, pengusaha agribisnis, pengelola koperasi modern, pengembang sistem pemasaran hasil pertanian, atau pelaku industri pengolahan pangan.
Dengan demikian, pertanian tidak lagi dipahami sekadar sebagai pekerjaan di sawah.
Pertanian harus menjadi ekosistem ekonomi.
Di sinilah ukuran keberhasilan kebijakan regenerasi petani seharusnya diletakkan. Bukan pada berapa banyak pelatihan yang diselenggarakan atau berapa banyak bantuan yang disalurkan, melainkan pada pertanyaan yang lebih sederhana:
Apakah seorang anak muda bisa membangun kehidupan yang layak dengan memilih menjadi petani?
Jika jawabannya belum, maka pekerjaan rumah pemerintah masih panjang.
Kita tidak boleh meminta generasi muda mencintai pertanian tanpa memperbaiki kondisi yang membuat pertanian sulit dicintai sebagai pilihan hidup.
Kita juga tidak boleh terus berbicara tentang ketahanan pangan sembari membiarkan orang yang memproduksi pangan hidup dalam ketidakpastian.
Ketahanan pangan pada akhirnya bukan hanya persoalan benih, pupuk, irigasi, teknologi, atau luas lahan.
Ketahanan pangan adalah persoalan manusia.
Ada petani yang harus menanam. Ada generasi yang harus meneruskan. Ada lahan yang harus dipertahankan.
Karena itu, persoalan pertanian hari ini harus dilihat dengan horizon yang lebih panjang.
Bukan hanya bagaimana mendapatkan panen tahun ini, tetapi siapa yang akan menanam sepuluh tahun mendatang.
Bukan hanya bagaimana mempertahankan produksi pangan, tetapi bagaimana membuat anak-anak petani percaya bahwa sawah orang tuanya masih memiliki masa depan.
Indonesia tidak kekurangan anak muda.
Indonesia juga belum kehabisan lahan pertanian.
Yang mulai langka adalah alasan bagi anak muda untuk memilih menjadi petani.
Jika pertanian terus dianggap sebagai jalan terakhir, jangan terkejut apabila suatu hari sawah benar-benar kehilangan pewaris.
Dan ketika sawah kehilangan pewarisnya, yang terancam bukan hanya masa depan petani.
Yang dipertaruhkan adalah masa depan pangan kita.
||* Tim Kreator HarianJatim.Com
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com


