|| Penulis: Sukriyanto*
Ada pertemuan yang selesai ketika kita meninggalkan tempatnya. Ada pula pertemuan yang justru terus hidup dalam ingatan, bahkan bertahun-tahun setelah percakapan berakhir.
Hari ini, 20 Agustus 2026, ketika kabar wafatnya RKH Badwi Sanusi sampai kepada saya, ingatan saya kembali kepada sebuah malam pada 2014. Malam ketika saya duduk di langgar sederhana kediaman beliau di Rombiya Barat, selepas salat Isya.
Saat itu saya tidak pernah membayangkan bahwa sebuah pertemuan yang berlangsung lebih dari satu dekade lalu kelak menjadi kenangan yang begitu berarti.
Saya sowan kepada beliau untuk mengantarkan keluarga yang hendak mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Sumenep dari daerah pemilihan III. Sebagai salah satu tokoh yang memiliki pengaruh di Kecamatan Ganding, beliau menjadi salah satu ulama yang kami datangi untuk memohon doa dan restu.
Kami diterima di tempat yang sederhana. Selepas salat Isya, percakapan berlangsung cukup panjang di langgar kediaman beliau. Tidak hanya tentang politik, tetapi juga tentang kehidupan masyarakat, harapan, dan berbagai persoalan yang dihadapi orang-orang di sekitar kami.
Namun, dari sekian banyak percakapan malam itu, bukan soal politik yang paling saya ingat.
Bukan pula soal apakah ikhtiar politik tersebut akhirnya berhasil atau tidak.
Yang paling melekat justru sebuah doa yang beliau ijazahkan kepada saya.
“Allahumma yassir wa laa tu’assir. Rabbi tammim bil khair.”
Ya Allah, mudahkanlah dan jangan Engkau persulit. Ya Tuhanku, sempurnakanlah dengan kebaikan.
Kemudian beliau mengatakan sesuatu yang sederhana, tetapi bagi saya mengandung pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah doa.
“Mau jadi anggota dewan atau tidak, amalan ini bagus untuk selalu dibaca.”
Saat itu mungkin saya belum sepenuhnya memahami kedalaman pesan tersebut.
Kini, setelah lebih dari satu dekade berlalu, saya semakin mengerti.
Beliau seperti sedang mengajarkan bahwa doa tidak semestinya hanya menjadi alat untuk mengejar apa yang kita inginkan. Doa juga merupakan cara untuk belajar menerima apa pun yang telah ditetapkan Tuhan.
Kita boleh memiliki cita-cita. Kita boleh bekerja keras. Kita boleh mengejar jabatan, membangun usaha, memperjuangkan pendidikan, mengusahakan masa depan, dan mengetuk berbagai pintu kesempatan.
Tetapi pada akhirnya, hasil bukan sepenuhnya berada di tangan manusia.
Kita hanya mampu merencanakan dan berikhtiar. Kita tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang menunggu di balik sebuah keberhasilan maupun kegagalan.
Ada keinginan yang ketika tercapai justru membawa beban.
Ada kegagalan yang pada awalnya terasa pahit, tetapi bertahun-tahun kemudian justru kita sadari sebagai jalan yang menyelamatkan.
Ada pintu yang begitu ingin kita buka, tetapi berkali-kali tertutup. Kita kecewa dan menganggap hidup sedang mempersulit kita.
Padahal, boleh jadi, pintu itu memang bukan jalan yang seharusnya kita lalui.
Sebaliknya, ada jalan yang semula tidak kita inginkan, tetapi justru membawa kita pada tempat yang lebih baik.
Karena itu, doa “Rabbi tammim bil khair” terasa semakin dalam ketika saya mengingatnya hari ini.
Bukan sekadar, “Ya Allah, kabulkan keinginanku.”
Melainkan, “Ya Allah, jika ini baik, mudahkanlah. Jika tidak, arahkanlah kepada jalan yang lebih baik. Dan apa pun yang terjadi, sempurnakanlah dengan kebaikan.”
Mungkin itulah bentuk kedewasaan dalam berdoa.
Bukan memaksa Tuhan mengikuti keinginan kita, tetapi memohon agar keinginan kita diarahkan kepada sesuatu yang baik.
Kita sering mengukur keberhasilan dari apa yang berhasil kita dapatkan.
Jabatan.
Pekerjaan.
Kekayaan.
Popularitas.
Kedudukan sosial.
Padahal ada ukuran keberhasilan yang lebih sunyi dan lebih penting: apakah setelah mendapatkan semua itu kita menjadi manusia yang lebih baik?
Jabatan tidak selalu membuat seseorang lebih mulia. Kekuasaan tidak otomatis membuat seseorang lebih bijaksana. Kekayaan pun tidak selalu menghadirkan ketenangan.
Karena itu, doa yang diajarkan Kiai Badwi terasa sederhana sekaligus dalam.
Mudahkanlah.
Jangan persulit.
Dan sempurnakan dengan kebaikan.
Hari ini, ketika banyak orang begitu sibuk mengejar hasil, mungkin kita perlu belajar kembali menikmati proses.
Ketika kegagalan dianggap sebagai akhir, mungkin kita perlu melihatnya sebagai bagian dari perjalanan.
Dan ketika keinginan belum tercapai, mungkin kita perlu belajar percaya bahwa sesuatu yang tertunda belum tentu sesuatu yang ditolak.
Dari sebuah langgar sederhana di Rombiya Barat, saya mendapatkan pelajaran yang ternyata bertahan lebih lama daripada urusan yang membawa saya datang malam itu.
Sebuah doa.
Sebuah nasihat.
Dan sebuah cara memandang kehidupan.
Saya tidak tahu apakah keluarga yang saya antar sowan pada malam itu akhirnya mencapai apa yang diharapkan. Tetapi saya tahu, ada sesuatu yang justru saya bawa pulang dan bertahan hingga hari ini.
Doa itu.
Bertahun-tahun kemudian, kalimat tersebut masih saya ingat:
“Mau jadi anggota dewan atau tidak, amalan ini bagus untuk selalu dibaca.”
Kini Kiai Badwi telah berpulang.
Langgar tempat kami berbincang malam itu mungkin tetap berdiri. Tetapi sosok yang memberikan nasihat tersebut telah meninggalkan dunia.
Yang tersisa adalah ingatan, doa, dan kebaikan yang pernah ditanamkan.
Saya mungkin tidak lagi dapat sowan dan mendengar langsung nasihat beliau. Tetapi saya masih dapat mengamalkan doa yang pernah beliau ajarkan.
Barangkali begitulah seorang kiai tetap hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah ditemuinya.
Bukan hanya melalui nama yang disebut, tetapi melalui nasihat yang terus diamalkan, doa yang terus dibaca, dan kebaikan yang terus diceritakan.
Selamat jalan, Kiai Badwi.
Terima kasih atas doa yang pernah diberikan pada sebuah malam sederhana di langgar Rombiya Barat.
Bertahun-tahun kemudian, saya baru memahami bahwa yang paling berharga dari pertemuan itu bukanlah restu untuk sebuah tujuan politik.
Melainkan sebuah pelajaran tentang kehidupan:
Kita boleh meminta apa yang kita inginkan, tetapi kepada Tuhanlah kita menyerahkan bagaimana semuanya harus berakhir.
Allahumma yassir wa laa tu’assir. Rabbi tammim bil khair.
Semoga Allah mengampuni segala khilaf almarhum, menerima amal ibadahnya, melapangkan kuburnya, menerangi tempat peristirahatannya, dan menempatkan RKH Badwi Sanusi di tempat terbaik di sisi-Nya.
Amin.
||* Tokoh Pemuda Kecamatan Ganding
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com


