Prodi Sosiologi UMM Rumuskan Arah Keilmuan yang Adaptif terhadap Perubahan Sosial dan Teknologi

  • Bagikan
Sejumlah peserta berfoto bersama usai mengikuti Lokakarya Visi Keilmuan dan Misi Program Studi Sosiologi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Hotel Kapal Garden UMM, Malang, Selasa (1/9/2026). Lokakarya tersebut menjadi forum untuk merumuskan arah pengembangan keilmuan Sosiologi yang adaptif terhadap perubahan sosial, perkembangan teknologi, kebutuhan dunia kerja, dan tantangan masyarakat.

Reporter: harianjatim

Malang-harianjatim.com. Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (FISIP UMM) menggelar Lokakarya Visi Keilmuan dan Misi Program Studi Sosiologi, Selasa (1/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Hotel Kapal Garden UMM itu menjadi forum untuk meninjau sekaligus merumuskan arah pengembangan keilmuan Sosiologi agar tetap relevan dengan perubahan masyarakat, perkembangan teknologi, kebutuhan dunia kerja, dan visi Universitas Muhammadiyah Malang.

Lokakarya melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari sivitas akademika Prodi Sosiologi, Ketua Umum Asosiasi Program Studi Sosiologi Indonesia (APSSI), pemerintah daerah, lembaga nonpemerintah, alumni, mahasiswa, pimpinan FISIP UMM, hingga dosen.

Keterlibatan berbagai pihak tersebut diharapkan dapat memberikan perspektif yang lebih luas dalam merumuskan identitas keilmuan dan kompetensi lulusan Sosiologi UMM.

Pada sesi awal, peserta membahas keterkaitan antara visi Universitas Muhammadiyah Malang, visi FISIP, dan visi keilmuan pada tingkat program studi. Visi FISIP diposisikan sebagai penghubung antara arah pengembangan universitas dan identitas keilmuan masing-masing program studi.

Dalam konteks Sosiologi, pengembangan keilmuan diarahkan pada kajian mengenai struktur sosial, perubahan sosial, masyarakat, serta berbagai dinamika sosial yang berkembang di tengah kehidupan masyarakat.

Ketua Umum APSSI, Dr. Tyas Retno Wulan, M.Si., mengatakan, visi keilmuan memiliki posisi penting sebagai kompas dalam pengembangan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, kurikulum, hingga tugas akhir mahasiswa.

Menurut dia, visi keilmuan juga harus mampu menunjukkan keunggulan dan kekhasan suatu program studi dibandingkan dengan program studi sejenis.

“Kekhasan bukan dipilih, tetapi ditemukan.”

Menurut Tyas, kekhasan keilmuan dapat ditelusuri melalui berbagai aspek, seperti isu sosial yang menjadi perhatian program studi, rekam jejak penelitian dosen, kegiatan pengabdian kepada masyarakat, serta konteks kewilayahan yang menjadi lingkungan akademik.

Selain itu, perkembangan isu digital, gender, dan transformasi sosial juga perlu menjadi bagian dari pertimbangan dalam pengembangan keilmuan Sosiologi.

Masukan dari dunia kerja turut menjadi bagian penting dalam pembahasan. Community Development Project Manager GNI Surabaya, Cicik Sri Rejeki, S.Pd., mengatakan, lulusan Sosiologi tidak cukup hanya memiliki penguasaan teori dan keilmuan.

Mereka juga perlu dibekali keterampilan praktis dan aplikatif untuk menghadapi dinamika dunia kerja.

Kompetensi tersebut meliputi kemampuan berbicara di depan publik, kepemimpinan, kecerdasan emosional, advokasi dan negosiasi, hingga kemampuan berpikir kritis.

Menurut Cicik, penguasaan bahasa asing juga semakin relevan bagi lulusan di tengah lingkungan kerja yang semakin terbuka dan beragam. Selain kemampuan berbahasa Inggris, mahasiswa dinilai dapat mengembangkan kemampuan bahasa asing lainnya sebagai nilai tambah dalam dunia profesional.

Perspektif pemerintah daerah juga memperkaya pembahasan mengenai kompetensi lulusan. Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan BAPPEDA Kota Batu, Yogi Handoyo Waseso, S.Sos., M.Si., menyoroti pentingnya kemampuan mahasiswa dalam membaca isu strategis daerah, memahami regulasi dan tata kelola, mengolah data, hingga menyusun rekomendasi kebijakan.

Menurut dia, lulusan Sosiologi perlu memiliki kemampuan berpikir kritis dan analisis data agar mampu menghubungkan pengetahuan akademik dengan persoalan nyata di masyarakat.

Kemampuan komunikasi publik, negosiasi, serta pemahaman terhadap perkembangan teknologi juga menjadi kompetensi yang semakin penting di tengah perubahan sosial akibat digitalisasi.

Sementara itu, perwakilan alumni Galuh Diajeng Wulandari, S.Sos., menekankan pentingnya penguatan kemampuan komunikasi, berpikir kritis dan logis, pemecahan masalah, serta penguasaan teknologi informasi.

Ia juga menilai lulusan perlu memiliki pola pikir kewirausahaan, kemampuan bekerja dalam tim, manajemen waktu, kemampuan beradaptasi, serta pengambilan keputusan berbasis data.

Dari perspektif mahasiswa, lokakarya juga membahas pentingnya membuka ruang dialog sejak awal perkuliahan. Mahasiswa diharapkan dapat mengenali dan menentukan arah pengembangan dirinya selama menempuh pendidikan.

Kebutuhan mahasiswa, menurut peserta diskusi, tidak hanya berkaitan dengan aspek akademik, tetapi juga pengalaman praktik serta kemampuan menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan.

Memasuki sesi berikutnya, pembahasan diarahkan pada pengembangan visi keilmuan yang mampu menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.

Sejumlah kemampuan yang dinilai penting untuk diperkuat meliputi berpikir kritis, kemampuan melihat akar persoalan, literasi, komunikasi, pemecahan masalah, dan penguasaan teknologi.

Arah pengembangan tersebut juga harus memiliki kesinambungan dengan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) dan Rencana Pembelajaran Semester (RPS).

Pada sesi ketiga, peserta mulai mendiskusikan penciri keilmuan Sosiologi UMM. Sejumlah gagasan mengarah pada pengembangan sosiologi humanis, pembangunan, industrialisasi, dan lingkungan sebagai bagian dari identitas keilmuan yang dapat dikembangkan.

Pembahasan juga menyoroti peluang pengembangan riset agar pengetahuan yang dihasilkan tidak berhenti di ruang akademik. Hasil penelitian diharapkan dapat dikembangkan menjadi rekomendasi kebijakan, inovasi, hingga produk yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Dalam diskusi tersebut, peserta menekankan pentingnya menjaga fondasi Sosiologi sebagai ilmu murni sekaligus membuka ruang penerapan ilmu secara lebih konkret.

Hilirisasi hasil riset dan kolaborasi lintas disiplin menjadi salah satu peluang yang dapat dikembangkan, termasuk kolaborasi dengan bidang teknologi untuk menghasilkan solusi atas persoalan sosial.

Lokakarya tersebut juga menghasilkan catatan bahwa visi keilmuan harus memiliki benang merah yang jelas dengan pengembangan kurikulum, profil lulusan, CPL, bahan kajian, dan RPS.

Dengan demikian, visi keilmuan tidak berhenti sebagai pernyataan normatif, melainkan dapat diterjemahkan dalam proses pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan pengembangan kompetensi mahasiswa.

Melalui lokakarya tersebut, Prodi Sosiologi FISIP UMM berupaya memperkuat arah pengembangan keilmuan yang tetap berpijak pada nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.

Pada saat yang sama, arah keilmuan tersebut diharapkan tetap adaptif terhadap perubahan sosial, perkembangan teknologi, kebutuhan dunia kerja, dan berbagai tantangan masyarakat.

Kegiatan ini menjadi bagian dari proses refleksi dan pengembangan Prodi Sosiologi FISIP UMM untuk memastikan keilmuan yang dikembangkan memiliki identitas yang kuat, relevan dengan perkembangan zaman, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.


Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google  News harianjatim.com. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com    

Download sekarang!

(Rls/Red)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
100 free ad.