Surabaya — harianjatim.com Penyusunan kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode mendatang mendapat perhatian dari warga NU. Rapat formatur pertama disebut melahirkan dinamika dan kekecewaan yang kemudian berkembang menjadi berbagai isu terkait komposisi kepengurusan PBNU.
Salah satu yang memberikan perhatian terhadap dinamika tersebut adalah warga NU dan kiai kampung asal Situbondo, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur.
Dalam pernyataannya kepada awak media, Kamis (10/9) Gus Lilur menyatakan dukungannya terhadap Ketua Umum PBNU terpilih, Gus Kikin, untuk menyusun kepengurusan PBNU dengan mengedepankan profesionalisme, kapasitas, serta keterwakilan wilayah.
Menurut Gus Lilur, dua prinsip tersebut penting agar kepengurusan PBNU tidak hanya merepresentasikan kepentingan atau basis wilayah tertentu, melainkan benar-benar mencerminkan wajah Nahdlatul Ulama secara nasional.
Gus Lilur menilai dinamika dalam rapat formatur pertama semestinya dilihat sebagai bagian dari proses penyusunan organisasi.
Namun, ia menyayangkan apabila perbedaan pandangan kemudian berkembang menjadi tudingan dan isu politik.
Salah satu isu yang disebut muncul adalah narasi “PKB Come Back”, yang dikaitkan dengan wacana masuknya sejumlah figur berlatar belakang Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ke dalam struktur PBNU.
Dalam pandangan Gus Lilur, munculnya isu tersebut perlu disikapi secara proporsional dan tidak boleh menggeser prinsip profesionalisme dalam memilih pengurus.
Ia mencontohkan nama Lukman Edy, yang disebut memiliki pengalaman sebagai mantan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi serta pernah menjabat Sekretaris Jenderal PKB.
Menurut Gus Lilur, latar belakang tersebut tidak otomatis menjadi alasan untuk menutup peluang seseorang berkontribusi di PBNU.
“Saya mendukung sikap profesional dan egaliter Gus Kikin. PBNU memang bukan PWNU Jatim,” tegas Gus Lilur.
Ia berpandangan bahwa rekam jejak, kemampuan dan pengalaman seseorang seharusnya menjadi salah satu pertimbangan utama dalam penyusunan kepengurusan.
Gus Lilur Soroti Posisi Sekjen PBNU
Dalam narasi yang disampaikannya, Gus Lilur menyebut bahwa Gus Kikin disebut menyodorkan Lukman Edy untuk posisi Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU.
Gus Lilur menilai Lukman Edy mempunyai pengalaman organisasi dan pemerintahan yang dapat menjadi modal dalam menjalankan tugas kesekjenan PBNU.
Ia juga menyebut Lukman Edy sebagai salah satu figur yang memiliki kedekatan dalam proses perjuangan Gus Kikin sehingga dinilai memahami pola kerja dan agenda yang akan dijalankan.
“Tentu Gus Kikin akan merasa nyaman apabila tim suksesnya yang menjadi Sekjen, dibandingkan dengan Gus Ipul,” ujar Gus Lilur dalam pernyataannya.
Namun, berbagai klaim mengenai sikap maupun preferensi sejumlah pihak dalam proses tersebut merupakan bagian dari dinamika yang perlu dikonfirmasi kepada pihak-pihak terkait.
Gus Lilur kemudian menyoroti aspek keterwakilan wilayah dalam kepengurusan PBNU.
Ia mempertanyakan apabila posisi-posisi strategis dalam PBNU nantinya terlalu banyak diisi oleh figur dari satu wilayah tertentu.
“Rais Aam PBNU dari Jawa Timur. Ketum PBNU dari Jawa Timur. Masa jabatan lainnya diisi orang Jawa Timur semua?” kata Gus Lilur.
Menurut dia, PBNU merupakan organisasi keagamaan terbesar yang memiliki struktur dan basis jamaah di seluruh Indonesia. Karena itu, komposisi kepengurusan nasional idealnya juga mencerminkan keberagaman daerah dan kekuatan NU dari berbagai wilayah.
Gus Lilur menegaskan bahwa dukungannya terhadap Gus Kikin bukan semata-mata persoalan siapa yang menduduki posisi tertentu, melainkan menyangkut prinsip penyusunan organisasi yang profesional dan egaliter.
“Saya dan rasanya semua jamaah NU mendukung Gus Kikin menyusun pengurus PBNU yang Indonesia, bukan PBNU ala PWNU Jawa Timur,” ujarnya.
Gus Lilur berharap dinamika penyusunan kepengurusan PBNU dapat diselesaikan melalui musyawarah dan mengutamakan kepentingan organisasi serta jamaah NU.
Ia juga meminta agar perbedaan pilihan maupun kepentingan dalam proses formatur tidak berkembang menjadi fitnah atau isu yang justru dapat memperkeruh suasana internal NU.
“Terus maju Gus Kikin. Semoga para Muassis membersamai Panjenengan. Bismillah,” kata Gus Lilur.


