Penulis: Kallio Sheva Ananta Joeniar Risqi & Abednego Tirta Laksana*
Kota Malang selama ini dikenal sebagai salah satu kota pendidikan di Jawa Timur. Kehadiran berbagai perguruan tinggi menjadikan kota ini sebagai tempat bertemunya mahasiswa dari berbagai daerah.
Kondisi tersebut merupakan modal penting bagi pembangunan. Pendidikan semestinya tidak hanya menghasilkan lulusan dengan pengetahuan akademik, tetapi juga sumber daya manusia yang memiliki keterampilan dan kemampuan untuk berkontribusi terhadap perekonomian.
Namun, menjadi kota pendidikan saja belum cukup. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana ekosistem pendidikan di Kota Malang dapat diterjemahkan menjadi tenaga kerja yang produktif, kompetitif, dan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Malang pada 2025 mencapai 85,55, meningkat dari 84,68 pada 2024. Dari sisi pendidikan, rata-rata lama sekolah pada 2025 mencapai 11,36 tahun, sedangkan harapan lama sekolah mencapai 15,80 tahun.
Angka tersebut menunjukkan bahwa Kota Malang memiliki modal pembangunan manusia yang relatif kuat. Namun, capaian itu semestinya tidak berhenti pada angka.
Pertanyaan yang lebih penting ialah sejauh mana kualitas manusia tersebut dapat diterjemahkan menjadi pekerjaan yang produktif dan memberikan nilai tambah bagi perekonomian.
Pertanyaan tersebut semakin relevan jika melihat kondisi pasar kerja di Kota Malang. Pada Agustus 2025, jumlah angkatan kerja mencapai 486.794 orang. Dari jumlah tersebut, 459.084 orang bekerja. Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat sebesar 5,69 persen.
Pada periode yang sama, sebanyak 204.677 orang atau sekitar 44,58 persen pekerja berada dalam kegiatan informal.
Angka tersebut tidak serta-merta menunjukkan kondisi ketenagakerjaan Kota Malang buruk. Pekerjaan informal tetap memiliki peran penting sebagai sumber pendapatan masyarakat. Namun, proporsi pekerja informal yang cukup besar perlu menjadi perhatian ketika pembangunan dikaitkan dengan produktivitas, kualitas pekerjaan, peningkatan pendapatan, dan perlindungan tenaga kerja.
Pembangunan tidak semestinya hanya mengejar bertambahnya jumlah orang yang bekerja. Lebih dari itu, pembangunan perlu menciptakan pekerjaan yang memungkinkan masyarakat meningkatkan keterampilan, pendapatan, dan produktivitas.
Dengan demikian, keberhasilan pembangunan manusia tidak hanya diukur dari seberapa banyak masyarakat memperoleh pendidikan atau pekerjaan, tetapi juga dari seberapa jauh pendidikan tersebut mampu meningkatkan kualitas kehidupan dan menghasilkan nilai tambah ekonomi.
Di sisi lain, perekonomian Kota Malang menunjukkan perkembangan positif. Pada 2025, ekonomi Kota Malang tumbuh sebesar 5,92 persen dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai sekitar Rp108,15 triliun.
Sektor perdagangan menjadi salah satu sektor terbesar dalam struktur perekonomian dengan kontribusi 28,50 persen. Sementara itu, sektor transportasi dan pergudangan mencatat pertumbuhan sebesar 10,26 persen.
Pertumbuhan sektor-sektor tersebut membuka peluang bagi tenaga kerja. Namun, peluang ekonomi tidak akan memberikan dampak maksimal apabila keterampilan tenaga kerja tidak sesuai dengan kebutuhan sektor yang berkembang.
Di sinilah persoalan ketidaksesuaian atau mismatch antara pendidikan dan dunia kerja perlu mendapat perhatian.
Kota Malang memiliki banyak perguruan tinggi yang menghasilkan lulusan setiap tahun. Akan tetapi, banyaknya lulusan tidak otomatis berarti tersedianya tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Dunia kerja juga terus berubah seiring perkembangan teknologi. Perusahaan tidak hanya membutuhkan tenaga kerja dengan ijazah, tetapi juga kemampuan digital, komunikasi, pemecahan masalah, adaptasi, kreativitas, serta kemampuan menerapkan pengetahuan dalam situasi nyata.
Karena itu, perguruan tinggi perlu memperkuat hubungan dengan dunia usaha dan dunia industri. Mahasiswa tidak cukup hanya memperoleh pengetahuan melalui pembelajaran di ruang kelas.
Pengalaman melalui magang, proyek bersama industri, pelatihan keterampilan, sertifikasi, penelitian terapan, hingga kegiatan kewirausahaan dapat menjadi jembatan antara pendidikan dan dunia kerja.
Pemerintah daerah juga memiliki posisi strategis dalam membangun hubungan tersebut. Pemerintah Kota Malang perlu memiliki pemetaan kebutuhan tenaga kerja yang dilakukan secara berkala.
Data mengenai lulusan, pencari kerja, kebutuhan perusahaan, sektor ekonomi yang berkembang, serta jenis keterampilan yang dibutuhkan dapat digunakan untuk merancang kebijakan ketenagakerjaan yang lebih tepat sasaran.
Pelatihan tenaga kerja, misalnya, tidak semestinya hanya diukur berdasarkan jumlah peserta yang mengikuti program. Ukuran yang lebih penting adalah apakah peserta kemudian memperoleh pekerjaan, mengalami peningkatan pendapatan, meningkatkan keterampilan, atau bahkan mampu menciptakan usaha baru.
Dengan pendekatan tersebut, kebijakan ketenagakerjaan dapat dinilai berdasarkan dampak ekonominya, bukan sekadar jumlah kegiatan yang telah dilaksanakan.
UMKM juga perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas tenaga kerja.
Besarnya jumlah pekerja informal menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat tidak hanya berlangsung di perusahaan berskala besar. Dukungan terhadap UMKM melalui akses teknologi, pemasaran, permodalan, peningkatan kualitas produk, dan pelatihan manajemen dapat membantu meningkatkan produktivitas usaha sekaligus menciptakan pekerjaan yang lebih berkelanjutan.
Peningkatan produktivitas tenaga kerja merupakan salah satu kunci pembangunan Indonesia. Bonus demografi dan besarnya jumlah penduduk usia produktif hanya akan menjadi kekuatan apabila diikuti kualitas keterampilan dan kesempatan kerja yang memadai.
Sebaliknya, apabila kesempatan kerja dan keterampilan tidak berkembang sejalan, besarnya jumlah penduduk usia produktif dapat menjadi tantangan tersendiri bagi pembangunan.
Kota Malang sebenarnya memiliki modal yang kuat untuk menghadapi tantangan tersebut. Sebagai kota pendidikan, Malang memiliki perguruan tinggi, mahasiswa, sumber daya manusia, aktivitas ekonomi, dan lingkungan yang dapat mendukung pengembangan tenaga kerja.
Tantangannya kini adalah bagaimana seluruh potensi tersebut dihubungkan dalam satu ekosistem pembangunan.
Pendidikan perlu terhubung dengan dunia kerja. Dunia usaha perlu membangun hubungan yang lebih kuat dengan perguruan tinggi. Pemerintah harus mampu membaca perubahan kebutuhan ekonomi. Sementara itu, tenaga kerja perlu terus meningkatkan keterampilan agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan Kota Malang tidak cukup diukur dari tingginya IPM atau pertumbuhan ekonomi. Pembangunan juga perlu dilihat dari kemampuan masyarakat memperoleh pekerjaan yang layak, meningkatkan keterampilan, mendapatkan pendapatan yang lebih baik, dan menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian.
Kota Malang sudah memiliki modal sebagai kota pendidikan. Tantangan berikutnya adalah mengubah modal pendidikan tersebut menjadi tenaga kerja yang produktif.
Kota pendidikan semestinya tidak berhenti pada banyaknya orang yang belajar. Ukuran yang lebih jauh adalah seberapa besar pengetahuan dapat berubah menjadi keterampilan, pekerjaan, pendapatan, dan produktivitas.
Jika hubungan antara pendidikan, dunia kerja, pemerintah, dan dunia usaha dapat diperkuat, Malang tidak hanya menjadi tempat untuk menuntut ilmu, tetapi juga dapat menjadi contoh bagaimana pembangunan manusia diterjemahkan menjadi kekuatan ekonomi yang mendukung pembangunan Indonesia.
||* Mahasiswa S1 Ekonomi Pembangunan, Universitas Negeri Malang
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.


