Oleh: Yogi Alkhisom*
Maraknya penyebaran virus corona covid-19 telah menyebabkan terjadinya perubahan sosial di masyarakat yang salah satunya didukung dengan teknologi komunikasi. Masyarakat dituntut bisa dan terbiasa. Perubahan terjadi pada cara berkomunikasi, cara berpikir, dan cara berperilaku manusia. Sebenarnya perubahan sosial ini lantaran pandemi corona covid-19 ini sejalan dengan perkembangan teknologi komunikasi melalui digitalisasi yang tanpa kita sadari sudah merealisasikannya.
Perlu mempertimbangkan social distancing, jika tidak menjaga jarak tidak akan membuat kita mati gaya. Kami hanya belum terbiasa mengubah ruang fisik menjadi ruang virtual dalam kehidupan sehari-hari. Komunikasi digital sangat penting bagi kami, yang sebenarnya membuat perbedaan besar. Kita masih bisa bersosialisasi melalui berbagai media di era globalisasi yang membutuhkan komunikasi digital canggih untuk menjaga interaksi sosial. Media yang tersedia dapat digunakan sebagai media pemasaran, media interaktif dan media pembelajaran.
Jembatan komunikasi melalui media tersebut tentunya dapat bersifat mendidik, informatif dan persuasif. Media yang dirancang untuk digunakan tanpa kontak fisik adalah Facebook, Instagram, Line, WhatsApp, Tik Tok dan Twitter. Bukankah itu cara hidup kita, termasuk orang Indonesia? Misalnya, kemampuan untuk segera bangun untuk mencari perangkat Anda, meskipun hanya sebatas memeriksa pesan masuk, menampilkan status, dan banyak lagi.
Sebelum merebaknya pandemi Covid-19, kita seringkali khawatir dengan kegiatan yang dilakukan melalui komunikasi sosial, dimana komunikasi tersebut tidak harus berupa kontak fisik atau tatap muka. Artinya, masyarakat dapat terus berpartisipasi dalam interaksi sosial dengan menggunakan teknologi komunikasi, khususnya media sosial. Kemudian menjadi masalah, terutama dengan generasi berikutnya, karena keintiman langsung menurun dan setiap orang seakan memiliki dunianya sendiri. Tapi sekarang tampaknya pemerintah menyalahkan jarak sosial untuk kebijakan tersebut
Teknologi saat ini telah berkembang sangat cepat sehingga kita dapat tetap terhubung tanpa harus secara fisik berada di ruangan atau lokasi yang sama. Hal ini dilakukan oleh dr. Maria Van Kerkhove, kepala gugus tugas penanggung jawab Covid-19 WHO, seperti dikutip CTV News mengungkapkan.
Mengacu instruksi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Virus corona sangat mudah menular melalui tetesan atau percikan kecil air yang dikeluarkan seseorang saat bersin ataupun batuk. Maka social distancing atau pembatasan sosial, dalam Pedoman Penanganan Cepat Medis dan Kesehatan Masyarakat COVID-19 di Indonesia, adalah pembatasan kegiatan tertentu penduduk dalam suatu wilayah. Hal ini ditujukan pada semua orang di wilayah yang diduga terjangkit virus corona. Penyebaran virus corona menjadi ancaman serius bagi dunia. Semakin meningkatnya pasien yang terkena virus corona, social distancing ini mengarahkan masyarakat mengurangi interaksi sosialnya dalam menghadapi pandemic Covid-19.
Pengurangan interaksi sosial melalui social distancing guna pencegahan penyebaran virus corona yang lebih meluas ini dengan cara masyarakat pembatasan penggunaan fasilitas umum dan menjaga jarak interaksi. Masyarakat diminta untuk berdiam di rumah dengan melakukan belajar dari rumah bagi pelajar, bekerja dari rumah (Work From Home/WFH), dan tidak melakukan aktvitas ke tempat-tempat keramaian guna memutuskan mata rantai penyebaran yang kian bertambah.
Satu hal yang pasti, pemberlakuan social distancing yang akan diterapkan selanjutnya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Hal ini karena sering terjadi ketidaktahuan, kesalahpahaman bahkan ketidaktaatan dalam masyarakat.
Dalam situasi ini, diperlukan partisipasi dari seluruh lapisan masyarakat agar informasi ini sampai ke masyarakat luas. Seperti yang sudah dikatakan, lembaga sosial harus terus menginformasikan agar warga mengerti apayang kita hadapi sekarang.
Mengapa kita membutuhkan kesadaran publik? Sampai hari ini kami tidak menyangkal bahwa orang pada dasarnya mengandalkan penyakit yang disebabkan oleh Tuhan yang murka. Baginya, hidup dan mati ada di tangan Tuhan. Dengan demikian, saran, petunjuk dan/atau peraturan pemerintah, termasuk pedoman MUI, tidak akan dipertimbangkan lagi. Yang paling ekstrim, mereka terkadang tidak menyadari keberadaan bakteri dan virus yang mematikan ini. Mereka yakin bahwa kita hanya boleh sholat di masjid, kita tidak perlu takut pada Mahkota. Tak ayal banyak orang berkumpul untuk shalat berjamaah meminta perlindungan. Sayangnya, ketika orang berkumpul untuk beribadah dan berdoa bersama, terjadilah transmisi massal.
Orang sering mengabaikan tanda-tanda yang ada, bertindak atas inisiatif sendiri dan bahkan tidak mau dibimbing. Namun, tidak ada yang bisa selamat dari virus ini jika terinfeksi dan tidak ditangani secara medis dengan baik. Seperti yang dijelaskan Profesor Zhong Nan Shan, kepala tim medis Covid-19 China, yang juga membantu melawan epidemi SARS 2003, seseorang tidak boleh terlalu percaya diri atau ingin bersaing dengan keberuntungan karena tidak ada yang bisa mengalahkan serangan lolos dari Covid-19. Jangan mencoba menantang virus ini karena Anda akan menyesalinya selamanya. Bahkan jika Anda berhasil pulih, hidup Anda masih terpotong setengahnya, paru-paru Anda masih rusak. Singkirkan harga diri Anda dalam perang melawan epidemi ini. Jadi saran.
Sebagai penutup artikel ini, penulis ingin mengutip tulisan Yuval Noah Harar, seorang sejarawan kontemporer yang banyak mengulas tentang pandemi mengerikan dalam lanskap sejarah peradaban manusia. Bahwa umat manusia saat ini sedang menghadapi krisis global. Mungkin krisis terbesar generasi kita. Keputusan yang dibuat orang dan pemerintah dalam beberapa minggu mendatang kemungkinan besar akan membentuk wajah dunia di tahun-tahun mendatang.
*) Mahasiawa Universitas Muhammadiyah Malang


