Reporter: Ahmad Fauzi
Tuban-harianjatim.com. Sebuah lokakarya bertajuk “Gerakan Hemat Air: Perempuan sebagai Agen Perubahan Lingkungan” digelar pada Sabtu (13/9) di Ratu Meet Point Cafe, Rengel, Tuban. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendukung Program Peningkatan Akses Air Bersih dan Pengelolaan Berkelanjutan Berbasis Masyarakat di Kabupaten Tuban yang didukung oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL).
Lokakarya diselenggarakan oleh Yayasan Sikas Bhakti Nusantara dan bertujuan untuk memberdayakan ibu-ibu PKK dan kader kesehatan agar menjadi motor penggerak dalam menjaga kelestarian lingkungan, khususnya dalam penggunaan air bersih secara bijak dalam kehidupan sehari-hari.
Acara ini dihadiri oleh Direktur Yayasan Sikas Bhakti Nusantara, M. Yasin, tim dari Sikas, tenaga kesehatan dari Puskesmas Rengel, serta 40 ibu-ibu kader PKK dari berbagai desa, antara lain Desa Jegulo (Kecamatan Soko), Desa Sawahan dan Desa Banjaragung (Kecamatan Rengel), serta Desa Trutup (Kecamatan Plumpang).
Dalam sambutannya, M. Yasin menekankan pentingnya peran perempuan dalam menjaga lingkungan. “Ibu-ibu adalah inti dari keluarga yang mampu menggerakkan keluarga dan masyarakat untuk mulai menghemat air. Ini penting karena kekurangan air kini menjadi masalah serius yang harus kita hadapi bersama sebagai warisan untuk anak cucu kita,” ujarnya.

Senada dengan itu, Ali Abidin selaku Manajer Program menyampaikan bahwa ibu merupakan madrasah pertama bagi anak-anak. “Melalui kegiatan ini, kami juga memberikan bibit tanaman toga kepada peserta sebagai stimulan untuk mengenalkan praktik hemat air yang sederhana namun efektif di lingkungan rumah masing-masing,” jelasnya.
Perwakilan dari Puskesmas Rengel, Ibu Muhasanah, turut menambahkan bahwa penggunaan air yang berlebihan dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan dan lingkungan. Ia juga menjelaskan pentingnya perilaku hemat air sebagai bagian dari gaya hidup sehat dan berkelanjutan.
Kegiatan ini berlangsung dengan antusiasme tinggi. Para peserta aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, dan bahkan membuat konten kampanye untuk menyuarakan gerakan hemat air di media sosial. Lokakarya ini tidak hanya menjadi sarana edukasi, tetapi juga ruang pemberdayaan bagi perempuan untuk menjadi agen perubahan lingkungan di komunitasnnya masing-masing.


