Oleh; Silvi Rok’ma Wati*
Berapa kali dalam sehari kita membuka ponsel tanpa tujuan yang jelas? Awalnya hanya ingin melihat satu atau dua konten, tapi tanpa sadar jempol terus bergerak, layar terus berganti, dan waktu ikut menghilang. Aktivitas ini begitu lekat dengan keseharian Generasi Z, sampai-sampai scroll terasa seperti bagian alami dari hidup. Namun di balik kebiasaan yang sering dianggap membuang waktu itu, tersimpan pola baru dalam cara Gen Z menjalani hari-harinya. Scroll tidak lagi sekadar hiburan saat bosan, melainkan alat untuk mencari informasi, peluang, dan bahkan arah hidup. Dari layar kecil itulah banyak anak muda belajar memahami dunia yang bergerak cepat, sekaligus mencoba bertahan di dalamnya.
- Scroll sebagai cara cepat mencari informasi
Bagi Gen Z, mencari informasi tidak selalu berarti membuka mesin pencari atau membaca artikel panjang. Cukup dengan membuka TikTok atau Instagram, berbagai potongan informasi bisa langsung didapatkan. Mulai dari tips keuangan, cara mengatur waktu, rekomendasi kerja sampingan, hingga isu sosial yang sedang ramai dibicarakan. Di Indonesia, fenomena ini cukup kuat. Banyak Gen Z menganggap media sosial, khususnya TikTok, sebagai sumber informasi yang praktis dan mudah dipahami. Informasi disajikan singkat, visual, dan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Scroll pun menjadi semacam pintu masuk untuk memahami dunia, meski tetap perlu disaring dengan kritis.
- Dari hiburan ke peluang ekonomi
Scroll tidak berhenti pada konsumsi informasi. Bagi sebagian Gen Z, ia menjadi jalur menuju peluang ekonomi. Banyak yang menemukan ide bisnis, inspirasi konten, atau bahkan pekerjaan dari hasil scrolling. Video singkat tentang jualan online, personal branding, atau kisah sukses kreator sering kali memantik keberanian untuk mencoba hal serupa. Tidak sedikit pula yang memanfaatkan scroll untuk belanja. Polanya sederhana: melihat konten, tertarik, lalu membeli. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi pasar baru. Namun di sisi lain, kebiasaan ini juga menuntut kontrol diri agar tidak terjebak belanja impulsif. Scroll bisa menguntungkan, tapi juga berisiko jika tidak dikelola dengan sadar.
- Mengkurasi identitas lewat layar
Media sosial juga menjadi ruang bagi Gen Z untuk membentuk dan menampilkan identitas diri. Melalui apa yang mereka tonton, bagikan, dan sukai, terbentuklah gambaran tentang siapa diri mereka dan ingin menjadi apa. Scroll membantu mereka menemukan komunitas yang sefrekuensi, gaya hidup yang diinginkan, hingga nilai-nilai yang dirasa cocok. Proses ini sering kali tidak disadari. Tanpa sadar, referensi hidup, standar kesuksesan, dan bahkan cara berpikir dibentuk dari apa yang terus muncul di layar. Di sinilah scroll menjadi strategi sosial: memilih konten berarti memilih pengaruh. Gen Z yang sadar akan hal ini biasanya mulai memilah siapa dan apa yang mereka ikuti.
- Scroll dan produktivitas: dua sisi yang bertolak belakang
Banyak yang menilai scroll sebagai musuh produktivitas. Tidak sepenuhnya salah, tetapi tidak juga sepenuhnya benar. Bagi Gen Z, scroll bisa menjadi sumber belajar cepat. Tips belajar, ringkasan buku, hingga motivasi kerja sering hadir dalam format singkat yang mudah dicerna. Namun, produktivitas dari scroll hanya tercapai jika digunakan sebagai pemantik, bukan tujuan akhir. Ketika scroll berubah menjadi pelarian tanpa arah, waktu habis tanpa hasil. Di sinilah tantangan terbesar Gen Z: membedakan antara scroll yang membantu berkembang dan scroll yang sekadar menghabiskan waktu.
- Dampak mental dan kesadaran baru
Di balik semua manfaatnya, scroll juga membawa dampak psikologis. Perbandingan sosial, rasa tertinggal, dan kelelahan mental kerap muncul akibat konsumsi konten berlebihan. Melihat pencapaian orang lain secara terus-menerus dapat memicu kecemasan, terutama ketika hidup sendiri terasa stagnan. Menariknya, kesadaran akan dampak ini mulai tumbuh. Banyak Gen Z yang mulai membatasi waktu layar, melakukan detox media sosial, atau setidaknya lebih jujur pada diri sendiri tentang kondisi mental mereka. Ini menunjukkan bahwa scroll tidak selalu mengendalikan Gen Z; justru mereka mulai belajar mengendalikannya.
- Scroll sebagai strategi bertahan hidup
Di dunia yang menuntut serba cepat, scroll menjadi cara Gen Z menyesuaikan diri. Ia digunakan untuk belajar, mencari peluang, membangun relasi, dan memahami diri sendiri. Scroll bukan solusi tunggal atas masalah hidup, tetapi ia menjadi alat bantu yang relevan dengan konteks zaman. Yang membedakan hanyalah cara penggunaan. Scroll yang dilakukan tanpa sadar akan menguras waktu dan energi. Sebaliknya, scroll yang dikelola dengan tujuan bisa menjadi strategi kecil namun bermakna dalam mengatur hidup.
- Refleksi: scroll dan pilihan sadar
Di tengah derasnya arus digital, satu hal penting yang sering terlupakan adalah kesadaran personal. Scroll memang menjadi bagian dari keseharian Gen Z, tetapi pilihan untuk terus menggulir atau berhenti tetap berada di tangan individu. Kesadaran ini membuat Gen Z tidak sepenuhnya menjadi korban algoritma. Mereka bisa memilih kapan perlu terhubung dan kapan harus memberi jarak. Dengan menjadikan scroll sebagai aktivitas yang disadari, Generasi Z belajar mengenali kebutuhan diri sendiri. Ada saatnya mencari hiburan, ada waktunya mencari informasi, dan ada pula momen untuk berhenti sejenak. Refleksi sederhana ini membantu membangun hubungan yang lebih sehat dengan teknologi, sehingga media sosial tidak lagi menguras energi, melainkan mendukung keseimbangan hidup
Kesimpulan
Scroll bukan lagi sekadar kebiasaan mengisi waktu luang. Bagi Generasi Z, ia telah bertransformasi menjadi strategi hidup di dunia modern. Dari mencari informasi, membangun identitas, hingga membuka peluang ekonomi, semua berawal dari layar kecil di genggaman. Namun, strategi ini hanya akan efektif jika disertai kesadaran. Gen Z perlu terus belajar memilah konten, mengatur waktu, dan menjaga kesehatan mental. Dengan begitu, scroll tidak lagi menjadi jebakan, melainkan alat yang membantu mereka bertumbuh dan bertahan di tengah derasnya arus kehidupan digital.
(Silvi Rok’ma Wati, 2025: 4)
*) Silvi Rok’ma Wati adalah mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Malang.
Referensi
Tirto.id – Gen Z Nilai TikTok sebagai Media Sosial Paling Informatif https://tirto.id/gen-z-nilai-tiktok-sebagai-media-sosial-paling-informatif-g8Kv
Tirto.id – Scroll, Click, Checkout: Media Sosial dan Tren Konsumsi
https://tirto.id/scroll-click-checkout-media-sosial-dan-tren-konsumsi-berlebihan-g6yS
Tirto.id – Media Sosial dan Kesehatan Mental Anak Muda
https://tirto.id/medsos-sumber-utama-kegelisahan-anak-muda-tak-sesimpel-itu-hnC2
Kompas.id – Generasi Z dan Cara Baru Mengonsumsi Informasi Digital
https://www.kompas.id
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com. Atau melalui aplikasi HarianjatimCom dan saluran Harian Jatim di WhatsApp


