
Harianjatim.comProbolinggo-Kepala Pesantren Pondok Pesantren Nurul Jadid KH. Abdul Hamid Wahid menyampaikan, Pesantren adalah lembaga dimana kader-kader ditempa dengan sasaran antara tafaqquh fiddin dan sasaran ujung melakukan peran-peran kemasyarakatan, peran perjuangan dalam rangka melakukan perbaikan di dalam masyarakat. Hal itu disampaikan saat memberikan sambutan pada acara Diskusi Pengembangan Ekonomi dan Pemberdayaan Santri dan Pesantren, Kamis siang (25/03/21) di Aula Pesantren I Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo.
Pesantren saat ini tentu harus lebih mengaktualisasikan bukan hanya sekedar dalam Pendidikan dan pengajaran tetapi juga dalam beberapa fungsi lainnya.
“Pesantren harus lebih optimal dalam mengaktualisasikan bukan hanya sekedar dalam pendidikan dan pengajaran tapi juga fungsi pengkaderan, fungsi pelayanan pada masyarakat dan fungsi dakwah, termasuk di dalamnya yang sangat relevan saat ini adalah berkaitan dengan kebangkitan ekonomi,” ungkapnya.
Rektor Universitas Nurul Jadid (UNUJA) ini melanjutkan, Nahdlatut Tujjar dalam sejarah Pesantren dapat kita lihat di dalam masa-masa berdirinya NU satu dekade 1911 akhir, dimana seorang KH. Wahab Chasbullah setelah bersamaan dengan ikhtiar untuk membangkitkan kesadaran masyarakat untuk berubah menyongsong perkembangan zaman melalui taswirul afkar, kemudian juga melakukan Gerakan Nahdlatul Wathan kebngkitan cinta tanah air dan Nahdlatut Tujjar kebangkitan para pelaku usaha dan bisnis.
“Saya kira sangat relevan dan penting di era melenial, semua orang yakin bahwa 2045 bagi Indonesia adalah daun kebangkiatan, sehingga kita menyebutnya “bersama-sama dengan Indonesia emas 2045,” imbuhnya.
Dalam diskusi itu, Kiai Hamid meminta Gus H. Ahmad Syauqi memberikan inspirasi dalam rangka untuk menciptakan bekerja secara jamaah agar mampu berkontribusi bagi bangsa dan Negara.
“Indonesia sekarang sedang menggunakan arus ekonomi baru dan itu adalah ekonomi Syariah. Gus Syauqi kita harap bisa memberikan inspirasi bagi kita semua dalam rangka bekerja sebagai jamaah dan pasti sebagai jama’ah ekonomi untuk bisa berkontribusi bagi bangsa dan Negara Indonesia,” harapnya.
Hal senada disampaikan Gus Syauqi, Masyarakat Indonesia tidak akan sejahtera jika belum mampu membangun ekonominya, dan itu menjadi salah satu tanggung jawab santri untuk bergerak dalam bidang keummatan. Kalau kita bangun roda ekonomi kecil-kecil, membuat sumbuh yang kecil ini menjadi sebuah kekuatan besar, beban apapun diatasnya, Insya Allah akan terbawa dengan mudah.
“Saya sering menyampaikan sesuatu yang menjadi jejak-langkah para pendahulu-pendahulu kita, yaitu jama’ah lil jam’iyah dan jam’iyah lil jama’ah firqotan waharakatan linahdlatil jami’ah, orang itu harus membuat satu wadah untuk bersama-sama tidak bisa sendiri-sindiri, baik secara pikiran, secara gerakan untuk membangun kebangkitan bersama. Insya Allah eksistensi Pesantren dan santri bukan hanya gerakannya tapi hasilnya akan terlihat dan perannya betul-betul akan ditunggu,” ungkapnya.
Karena santri itu memiliki pondasi yang kuat. Santri itu harus kaya sehingga bisa mengayakan orang lain, jangan kayak dukun, bagaimana dukun katanya bisa kaya tapi tidak kaya-kaya,” lanjutnya.
Gus Syauqi melanjutkan, kita bukan hanya mendorong, memberikan motivasi dan inspirasi tapi juga menjadi penggerak dan menjadi motor juga menjadi penyambung kekuatan ekonomi sendiri, karena kemandirian yang tidak bersinergi akan punah, kemandirian akan kuat jika bersinergi.
“Pengendalian ekonomi ummat itu artinya membangun kekuatan ekonomi ummat, membangun kekuatan itu bukan hanya berkaitan dengan produk tapi manajemen yang profesional,” tegasnya. (DKP)

