Surabaya – harianjatim.com Kuliah tamu bertema “Scientific Writing in International Journals” di FISIP Universitas Airlangga, Kamis (21/5), berubah menjadi ruang refleksi kritis tentang budaya akademik Indonesia. Di hadapan puluhan mahasiswa doktoral yang memenuhi Ruang PBB Gedung C FISIP UNAIR, akademisi asal Amerika Serikat Ronald Lukens-Bull melontarkan kritik tajam terhadap cara akademisi Indonesia menulis karya ilmiah.
“Menulis itu bukan buat pamer kepintaran,” ujar Ronald Lukens-Bull disambut perhatian serius para peserta.
Menurut dia, banyak tulisan akademik di Indonesia terlalu rumit, berputar-putar, dan tidak langsung menuju inti persoalan. Padahal, tulisan ilmiah internasional justru menuntut kejelasan argumen dan kemampuan menyampaikan gagasan secara sederhana.
“Write to express and connect, not to impress,” katanya.
Dalam forum yang dimoderatori oleh Sulih Indra Dewi itu, Ronald menilai budaya akademik Indonesia masih kerap menganggap tulisan yang rumit sebagai tanda kecerdasan.
Akibatnya, banyak karya ilmiah dipenuhi istilah teknis dan kalimat panjang yang justru membuat pembaca sulit memahami substansi penelitian.
Ia juga menyinggung beratnya tekanan publikasi yang dihadapi akademisi Indonesia, terutama dosen yang dituntut terus menghasilkan artikel ilmiah di tengah beban administratif kampus.
Menurut Ronald, persoalan tersebut bahkan lebih berat bagi akademisi perempuan yang sering menghadapi tekanan ganda antara pekerjaan akademik dan tanggung jawab domestik.
Karena itu, ia menyarankan mahasiswa doktoral mulai menulis dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, pengalaman pribadi, atau bidang yang benar-benar mereka kuasai.
“Kalau kamu menulis sesuatu yang dekat dengan dirimu, kamu akan lebih mudah menyelesaikannya,” ujarnya.
Ronald juga mengkritik kecenderungan penelitian di Indonesia yang terlalu fokus mencari empirical gap tanpa memikirkan apakah tulisan tersebut menarik untuk dibaca.
“Bikin tulisanmu membuat orang penasaran,” katanya.
Menurut dia, riset yang baik bukan sekadar menumpuk data, tetapi mampu menjelaskan konsep, definisi, konteks, dan tujuan penelitian secara jelas.
Dalam sesi yang berlangsung interaktif itu, Ronald turut membagikan kebiasaan pribadinya membaca sekitar 200 artikel ilmiah setiap tahun untuk memperluas perspektif akademik.
Ia mendorong mahasiswa untuk membaca lintas disiplin ilmu agar memiliki sudut pandang yang lebih kaya dalam penelitian. Salah satu buku yang direkomendasikannya ialah Weapons of the Weak yang dinilai penting untuk memahami pendekatan multidisipliner dalam ilmu sosial.
Selain itu, Ronald memperkenalkan konsep “Arisan Jurnal”, yakni forum rutin antarpeneliti untuk mendiskusikan progres tulisan, saling mereview jurnal, dan menjaga konsistensi menulis secara kolektif.
Gagasan tersebut langsung menarik perhatian peserta karena dianggap lebih realistis dibanding berbagai seminar motivasi akademik yang sering berhenti di tataran teori.
Bagi Ronald, tantangan terbesar dalam menulis ilmiah bukan semata kemampuan intelektual, melainkan soal konsistensi dan keberanian menjadikan menulis sebagai prioritas.
“It’s all about priority,” ujarnya.
Kuliah tamu itu akhirnya tidak hanya menjadi forum belajar teknik publikasi internasional, tetapi juga menjadi kritik terbuka terhadap dunia akademik Indonesia yang dinilai masih terlalu administratif, terlalu rumit, dan sering lupa bahwa tulisan ilmiah pada akhirnya harus dapat dipahami pembacanya bukan ajang pamer kepintaran yang justru membingungkan pembaca.(*)


