Airlangga Business Community Gelar Sarasehan Bisnis Nasional, Dorong Kolaborasi Pengusaha, Bank, Pemerintah, dan Kampus

  • Bagikan
Sarasehan Bisnis Nasional yang diselenggarakan Airlangga Business Community (ABC), organisasi di bawah Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA UNAIR), di Surabaya Suites Hotel (Dok. Ist)

Surabaya – harianjatim.com Di tengah persaingan usaha yang semakin kompetitif, pelaku bisnis tidak lagi cukup hanya mengandalkan modal dan pasar. Sinergi dengan sektor perbankan, pemerintah, perguruan tinggi, investor, hingga sesama pelaku usaha kini menjadi faktor penting untuk memperkuat daya saing sekaligus mendorong pertumbuhan bisnis ke level yang lebih tinggi.

Pesan tersebut menjadi benang merah dalam Sarasehan Bisnis Nasional yang diselenggarakan Airlangga Business Community (ABC), organisasi di bawah Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA UNAIR), di Surabaya Suites Hotel, Jumat (24/7).

Mengangkat tema “Merajut Kolaborasi, Membuka Akses Sinergi Multipihak untuk Ekosistem Bisnis yang Tangguh”, kegiatan ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari kalangan pengusaha, perbankan, pemerintah, akademisi, investor, BUMN-BUMD, hingga pelaku startup dalam satu forum kolaboratif.

Ketua Airlangga Business Community, Dicky Fanani, menuturkan bahwa tantangan dunia usaha saat ini tidak lagi terbatas pada peningkatan kapasitas produksi maupun penjualan produk. Pelaku usaha juga dituntut memiliki akses terhadap pembiayaan, investasi, teknologi, pengetahuan, serta jejaring yang mampu membuka peluang-peluang baru.

”Karena itu, ABC ingin menjadi penghubung yang mempertemukan pelaku usaha, dunia industri, lembaga keuangan, pemerintah, dan akademisi dalam satu ekosistem yang saling menguatkan,” ujar Dicky.

Ia menilai, jaringan alumni Universitas Airlangga memiliki potensi besar apabila mampu dikembangkan menjadi kolaborasi bisnis yang bersifat nyata dan produktif.

Karena itu, ABC tidak hanya ingin menjadi wadah berkumpulnya para alumni yang berprofesi sebagai pengusaha. Organisasi ini diarahkan menjadi ekosistem yang mampu membuka akses terhadap pasar, pembiayaan, investasi, riset, hingga peluang kemitraan usaha.

Sarasehan ini sekaligus menjadi salah satu langkah awal dalam mengimplementasikan ABC Blueprint 2045, sebuah rancangan jangka panjang yang menjadikan kolaborasi sebagai fondasi utama pengembangan bisnis alumni.

Melalui konsep tersebut, ABC berupaya mempertemukan pelaku usaha yang membutuhkan pembiayaan dengan lembaga keuangan, menghubungkan pebisnis yang memerlukan inovasi dengan perguruan tinggi, serta menjembatani dunia usaha dengan pemerintah dalam menghadapi berbagai kebutuhan regulasi.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur Adik Dwi Putranto yang diwakili Wakil Ketua Bidang Migas Kadin Jawa Timur Tri Prakoso menegaskan pentingnya organisasi usaha sebagai rumah bersama bagi para pelaku bisnis.

Tri kemudian membandingkan sistem kelembagaan dunia usaha di Indonesia dengan Jerman. Menurutnya, kelembagaan pengusaha di Indonesia masih menghadapi tantangan karena belum seluruh pelaku usaha terhubung secara kuat melalui organisasi yang menaunginya.

Akibat kondisi tersebut, peran organisasi pengusaha tidak cukup hanya sebagai sarana membangun jaringan bisnis.

Menurut Tri, fungsi advokasi juga sangat dibutuhkan ketika pelaku usaha menghadapi berbagai persoalan, mulai dari regulasi, perizinan, standardisasi produk, hingga berbagai kendala lain yang dapat menghambat perkembangan usaha.

Kebutuhan akan pendampingan tersebut semakin dirasakan oleh sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Sebagai contoh, Tri mengangkat pendekatan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam membina pelaku UMKM. Ia menilai Banyuwangi dapat menjadi model bagaimana pendampingan usaha dilakukan secara bertahap, terarah, dan berkesinambungan.

Dalam praktiknya, para pelaku UMKM tidak hanya didorong untuk memasarkan produknya, tetapi juga didampingi dalam menyusun pencatatan usaha, mengurus izin PIRT, memperoleh sertifikasi halal, hingga meningkatkan standar kualitas produknya.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa tantangan UMKM tidak semata-mata berkaitan dengan keterbatasan modal.

Kemampuan mengelola usaha, memenuhi aspek legalitas, menjaga mutu produk, memahami kebutuhan konsumen, serta memperluas pasar juga menjadi faktor penentu apakah suatu usaha mampu berkembang ke tingkat yang lebih tinggi.

Karena itu, sinergi antara pemerintah, organisasi pengusaha, lembaga keuangan, perguruan tinggi, dan dunia usaha menjadi elemen yang sangat penting dalam membangun ekosistem bisnis yang kuat.

Ketika Dunia Usaha Bersinergi dengan Riset

Perguruan tinggi juga memegang peranan strategis dalam ekosistem tersebut. Kerja sama antara kampus dan dunia usaha mampu membantu pelaku bisnis menyelesaikan berbagai tantangan yang membutuhkan riset maupun inovasi.

Salah satu contoh yang dibahas dalam sarasehan adalah pengembangan komoditas edamame. Sebagai tanaman yang berasal dari wilayah subtropis, budidaya edamame di kawasan tropis menghadapi tantangan terkait kesesuaian bibit dengan karakteristik tanah dan iklim setempat.

Untuk mengatasi persoalan itu, dilakukan kolaborasi riset bersama perguruan tinggi di Thailand guna memperoleh varietas bibit yang lebih sesuai dengan kondisi wilayah tropis.

Contoh tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan pasar dapat menjadi pintu masuk bagi terjalinnya sinergi antara dunia bisnis dan dunia akademik.

Bagi pelaku usaha, kemampuan membaca dinamika pasar kini sama pentingnya dengan kemampuan menghasilkan produk.

Sebuah produk tidak cukup dikembangkan hanya karena produsen mampu membuatnya. Produk harus lahir dari pemahaman terhadap kebutuhan konsumen serta perubahan tren pasar.

Kemampuan memahami perilaku manusia juga dinilai bermanfaat dalam proses negosiasi, karena dapat membantu membaca kecenderungan, respons, maupun potensi keputusan pihak lain. Oleh sebab itu, pengetahuan mengenai perilaku manusia menjadi bagian penting dalam strategi pengambilan keputusan bisnis.

Akses Pembiayaan dan Investasi

Aspek lain yang turut menjadi perhatian dalam forum ini adalah akses terhadap pembiayaan dan investasi. Area Micro and Pawning Manager Bank Syariah Indonesia, Ahmad Nuruddin, memaparkan berbagai peluang pembiayaan berbasis syariah yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha untuk mengembangkan bisnisnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Timur, Shovitusholihah, menjelaskan pentingnya iklim investasi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.

Ia menegaskan bahwa kepastian regulasi, kemudahan layanan, serta komunikasi yang baik antara pemerintah dan pelaku usaha merupakan faktor penting dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif.

Bagi ABC, mempertemukan akses pembiayaan dengan kesiapan bisnis merupakan langkah yang sangat penting. Sebab, tambahan modal tidak akan otomatis membuat usaha berkembang apabila tidak disertai pasar yang jelas, tata kelola yang baik, inovasi, serta jejaring yang mendukung.

Sebaliknya, usaha yang telah memiliki produk unggulan dan pasar yang menjanjikan pun dapat mengalami hambatan untuk berkembang apabila akses terhadap pembiayaan maupun investasi masih terbatas.

Sarasehan Bisnis Nasional tersebut diikuti lebih dari 50 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang, di antaranya CEO, direktur perusahaan, pemilik usaha alumni Universitas Airlangga, perwakilan BUMN dan BUMD, perbankan, akademisi, investor, hingga pelaku startup.

Selain sesi diskusi, kegiatan juga dirangkaikan dengan pelantikan pengurus serta rapat kerja guna menyusun berbagai program strategis organisasi.

Dicky menjelaskan bahwa ABC mengusung empat nilai utama dalam membangun ekosistem bisnis alumni, yaitu integritas, kolaborasi, kebermanfaatan, dan keberlanjutan.

Keempat nilai tersebut diharapkan mampu mendorong lahirnya jejaring alumni yang menghasilkan kolaborasi nyata dan memberikan manfaat bagi pelaku usaha maupun perekonomian secara lebih luas.

Melalui ABC Blueprint 2045, organisasi tersebut ingin membangun jaringan yang mampu mempertemukan pengusaha dengan perbankan saat membutuhkan pembiayaan, investor ketika memerlukan modal ekspansi, perguruan tinggi ketika membutuhkan riset dan inovasi, serta pemerintah dalam menghadapi regulasi maupun pengembangan investasi.

Dengan konsep tersebut, jejaring alumni diharapkan tidak berhenti pada sebatas pertemuan ataupun pertukaran kartu nama. ABC berkomitmen mengubah koneksi menjadi kolaborasi, kolaborasi menjadi peluang usaha, dan peluang tersebut berkembang menjadi bisnis yang tumbuh secara berkelanjutan. (*/abc unair)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Why use our free link building tool ?.