
Oleh : Ponirin Mika
Harianjatim.ComProbolinggo- Ibadah puasa merupakan salah satu rukun islam yang lima. Umat islam wajib melaksanakan puasa sesuai dengan ajaran dan anjuran yang telah diberlakukan oleh syariat. Sebab, bagi umat islam yang meninggalkan puasa dengan sengaja, ia termasuk golongan orang-orang yang tidak beriman dengan sempurna. Kesempurnaan umat islam dalam beragama apabila dirinya mengejewantahkan perintah-perintah agama dengan baik dan benar, termasuk diantaranya adalah puasa.
Seyogyanya puasa merupakan ritual yang sudah dipraktikkan oleh umat terdahulu. Ajaran ini bisa disebut sebagai ajaran umat terdahulu, karena umat sebelum Nabi Muhammad telah mengamalkan puasa sebagaimana diceritakan dalam alqur’an.
“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan bagi orang-orang sebelum kalian, agar kalian semuanya menjadi orang yang bertakwa” QS, Albaqarah ayat 183.
Bagaimana orang-orang sebelum umat Nabi Muhammad cara dalam mengamalkan puasanya? Ada yang berpendapat bahwa puasa yang dilakukan oleh umat sebelumnya sama seperti yang dilakukan umat islam saat ini. Yaitu, menahan diri dari makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan puasa. Meskipun juga ada yang mengatakan puasanya orang-orang sebelum umat Muhammad memiliki perbedaan cara berpuasanya. Kita tidak akan terlalu panjang membahas perbedaan ini.
Puasa Melatih Kepekaan Diri
Tuhan memerintahkan para hambanya untuk berpuasa adalah bagian dari cara Tuhan memberikan training agar menumbuhkan kepekaan pada realitas sosial. Dimana tidak ada satupun dari perintah Tuhan yang tidak memberikan pelajaran bagi hamba-hambanya, seperti salat, puasa, zakat dan haji. Syariat yang diperintahkan Tuhan sebagai bekal hidup manusia baik sebagai hamba-Nya maupun sebagai makhluk sosial.
Oleh karenanya, Tuhan mengajari hambanya agar dapat berpuasa dengan sempurna. Kesempurnaan yang dimaksud tidak hanya mampu menahan dirinya dari makan dan minum serta menghindari dari hal-hal yang membatalkan puasa, mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Namun lebih dari itu, Tuhan telah memberikan rambu-rambu agar para hambanya yang sedang melaksanakan puasa bisa melahirkan kepekaan dalam kehidupannya.
Itulah sebabnya ajaran puasa untuk menahan diri dari makan dan minum supaya merasakan begitu perihnya orang-orang yang sedang kelaparan dan kehausan. Sedangkan kewajiban menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa seperti melakukan hubungan badan antara suami istri, ini adalah kendali bagi nafsu.
Dari itu, puasa yang akan melahirkan kepekaan tersebut akan terlahir dari puasanya orang khususul khusush. Orang yang mengutamakan nilai-nilai universal yang termaktub dalam puasa, bukanlah orang-orang yang hanya melaksanakan kewajiban syariat semata yang berkeinginan terbebas dari kewajibannya sebagai hamba syariat.
Walhasil apabila kita mampu melakukan puasa dan disitu pula lahir kepekaan terhadap persoalan keummatan seperti membantu kaum yang lemah, menolong kaum tertindas dan mampu membuat orang lain bahagia dan berusaha tidak menyakiti orang baik dengan lisan maupun perbuatannya, maka orang yang demikian telah berpuasa dan bertemu dengan Nabi Muhammad. Karena puasa adalah jalan mencapai kepekaan dan itu prilaku Nabi dalam kesehariannya. Wallahu’alam.
*Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research.

