Surabaya-harianjatim.com. Institut Al-Fithrah menegaskan komitmennya dalam mengembangkan pendidikan tinggi berbasis nilai-nilai tasawuf melalui penyelenggaraan Wisuda XV sekaligus momentum transformasi menjadi Universitas Al-Fithrah, pada Sabtu, 31 Oktober 2026.
Momentum ini tidak hanya menandai keberhasilan akademik para wisudawan, tetapi juga menjadi titik awal perjalanan baru dalam memperluas kontribusi pendidikan kepada masyarakat.
Dalam sambutannya, Rektor Universitas Al-Fithrah menyampaikan bahwa wisuda bukanlah akhir dari perjalanan akademik, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Gelar akademik yang diperoleh para wisudawan tidak semata-mata menjadi tambahan identitas di belakang nama, tetapi juga membawa amanah untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Wisuda bukanlah garis akhir, melainkan titik awal perjalanan yang sesungguhnya. Gelar yang Saudara terima hari ini bukan sekadar tambahan huruf di belakang nama, melainkan amanah untuk memberikan manfaat yang lebih besar kepada masyarakat,” ungkapnya.
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur melalui capaian akademik. Ilmu pengetahuan perlu diwujudkan dalam tindakan, pengabdian, serta kontribusi nyata bagi lingkungan sosial.
Sejalan dengan pengembangan institusi, Universitas Al-Fithrah juga mulai membuka program pascasarjana Studi Islam pada tahun akademik ini. Program tersebut dirancang untuk menampung lulusan dari berbagai latar belakang keilmuan. Kehadiran program ini menjadi salah satu langkah penguatan kapasitas akademik sekaligus perluasan akses pendidikan tinggi di lingkungan Al-Fithrah.
Dalam sambutannya, Rektor juga menyampaikan harapan agar program pascasarjana tersebut dapat berkembang dan menjadi ruang pembelajaran lanjutan bagi masyarakat. Ia menyebutkan bahwa angkatan pertama program tersebut ditargetkan dapat menampung 20 mahasiswa.
Momentum wisuda dan transformasi institusi ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh dan perwakilan pemerintah. Menteri Agama Republik Indonesia diwakili oleh Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si., selaku Penasihat Khusus Kementerian Agama Republik Indonesia. Sementara itu, Gubernur Jawa Timur diwakili oleh Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Jawa Timur, Ir. Muhammad Yasin, M.Si. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi berhalangan hadir karena kondisi kesehatan dan diwakili oleh Syamsul.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Nur Syam menyampaikan orasi ilmiah yang mengangkat tantangan pendidikan tinggi dalam menyiapkan generasi Indonesia Emas 2045.Ia menyoroti pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang berlangsung cepat.
Ia juga mengingatkan bahwa dunia saat ini berada dalam situasi VUCA, yaitu Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity.
Dalam situasi yang penuh perubahan dan ketidakpastian tersebut, pendidikan tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan kecakapan intelektual, tetapi juga perlu membangun kecerdasan emosional, sosial, dan spiritual.
Menurut Prof. Nur Syam, nilai-nilai tasawuf dapat menjadi fondasi penting dalam menghadapi tantangan zaman. Tasawuf tidak hanya berkaitan dengan dimensi spiritual personal, tetapi juga dapat membentuk karakter, tanggung jawab, dan orientasi kemanusiaan dalam kehidupan sosial.
Ia turut mengingatkan pentingnya proses belajar melalui guru yang memiliki kejelasan sanad keilmuan.
“Di tengah kemudahan memperoleh informasi melalui media digital, proses pendidikan tetap membutuhkan bimbingan, kedalaman pemahaman, dan pertanggungjawaban keilmuan,” jelasnya.
Orasi tersebut juga menyinggung konsep beragama berbasis cinta yang dikembangkan Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar. Gagasan ini memiliki keterkaitan dengan tradisi tasawuf, khususnya tasawuf hubb atau pendekatan spiritualitas yang menempatkan cinta sebagai dasar relasi manusia dengan Tuhan dan sesama.
Melalui Wisuda XV dan transformasi menjadi universitas, Al-Fithrah memasuki babak baru pengembangan pendidikan tinggi. Penguatan program akademik, perluasan jenjang pendidikan, serta peneguhan nilai-nilai tasawuf menjadi bagian dari upaya membangun institusi pendidikan yang tidak hanya mengembangkan intelektualitas, tetapi juga membentuk manusia yang beradab dan mampu memberi manfaat bagi masyarakat.
Dengan demikian, gelar akademik yang diraih para wisudawan dan perubahan kelembagaan yang dijalankan Al-Fithrah membawa pesan yang saling berkelindan: pendidikan bukan sekadar proses memperoleh gelar atau mencapai jenjang institusi yang lebih tinggi, melainkan proses membangun ilmu, karakter, dan pengabdian.


