Reporter: harianjatim
Surabaya-harianjatim.com. Sebanyak 111 anak pekerja migran Indonesia di Community Learning Center (CLC) St. Fransisko Yasinta, Nabawan, Tenom, Sabah, Malaysia, mendapatkan pendampingan belajar melalui program pembelajaran berbasis microlearning yang digagas tim Universitas Negeri Malang (UM). Program ini dirancang untuk membantu anak-anak meningkatkan kemampuan membaca dan berhitung sekaligus menumbuhkan kesadaran terhadap keselamatan diri dan lingkungan.
Kegiatan yang dilaksanakan pada 7 September 2026 tersebut mengangkat tema “Pramuka untuk Bumi dan Diri”. Pendekatan ini memadukan penguatan kemampuan dasar literasi dan numerasi dengan pendidikan karakter serta pengenalan keselamatan di lingkungan sekitar.
Program tersebut berangkat dari persoalan ketertinggalan belajar yang dialami sebagian anak pekerja migran Indonesia di wilayah perkebunan Sabah. Kondisi geografis, keterbatasan transportasi, serta perpindahan keluarga menyebabkan kehadiran anak di pusat kegiatan belajar tidak selalu teratur.
Hasil pemetaan awal terhadap kemampuan peserta menunjukkan, 67 persen anak belum lancar membaca sesuai jenjang kelasnya. Sementara itu, 32 persen lainnya masih mengalami kesulitan dalam kemampuan dasar numerasi, seperti memahami nilai tempat, penjumlahan, dan pengurangan. Lebih dari separuh peserta menghadapi kesulitan dalam kedua kemampuan tersebut.
Ketua tim program, Prof. Syamsul Bachri, S.Si., M.Sc., Ph.D., mengatakan, ketertinggalan belajar anak-anak tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh keterbatasan kemampuan, tetapi juga karena proses pendidikan yang kerap terputus.
“Anak-anak ini tertinggal bukan karena tidak mampu, tetapi karena belajarnya sering terputus. Karena itu, kami memilih cara belajar yang singkat, sesuai kemampuan masing-masing anak, dan mudah diikuti lagi meski sempat tidak hadir,” kata Syamsul, sebagaimana keterangan tertulis yang diterima media ini di Surabaya, Rabu,
Tim UM menerapkan metode microlearning melalui materi pembelajaran singkat yang disesuaikan dengan kemampuan setiap anak. Sebelum kegiatan dimulai, peserta mengikuti tes awal untuk memetakan kemampuan membaca dan berhitung. Berdasarkan hasil tersebut, anak-anak dikelompokkan sesuai tingkat kemampuan, bukan semata-mata berdasarkan kelas sekolah.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan berlangsung selama lima jam dengan sejumlah pos pembelajaran. Setiap sesi berlangsung sekitar 10–15 menit dan dilengkapi kuis serta pengulangan materi agar peserta lebih mudah memahami pelajaran.
Untuk meningkatkan kemampuan membaca, anak-anak berlatih menggunakan teks pendek yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sementara itu, pembelajaran numerasi dilakukan melalui alat bantu konkret, seperti kartu angka dan garis bilangan, sehingga konsep berhitung lebih mudah dipahami.
Materi pembelajaran disiapkan dalam berbagai bentuk, termasuk 48 materi mikro, 30 teks bacaan bertingkat, 12 rekaman audio latihan membaca, serta 120 soal latihan. Materi cetak juga digunakan untuk mengantisipasi keterbatasan akses internet di lokasi kegiatan.
Selain penguatan kemampuan akademik, program ini memberikan perhatian terhadap keselamatan anak. Hal itu dinilai penting karena sebagian peserta tinggal dan beraktivitas di kawasan perkebunan kelapa sawit yang memiliki risiko keselamatan.
Berdasarkan pemetaan tim, sekitar 47 anak atau 42 persen peserta berada di kawasan perkebunan yang memiliki aktivitas kendaraan pengangkut buah sawit, kegiatan bongkar muat, serta gudang peralatan pertanian. Situasi tersebut menuntut adanya pemahaman mengenai lingkungan yang aman bagi anak.
Karena itu, tema “Pramuka untuk Bumi dan Diri” tidak hanya diarahkan pada kegiatan belajar, tetapi juga penguatan karakter melalui nilai-nilai Dasa Darma Pramuka. Unsur “Diri” dimaknai sebagai upaya memulihkan kemampuan dasar membaca dan berhitung, sedangkan “Bumi” berkaitan dengan kepedulian terhadap lingkungan dan keselamatan.
Anak-anak diajak mengenali ruang belajar yang aman, memahami pentingnya pengawasan saat datang dan pulang, serta membedakan area yang aman dan berisiko untuk aktivitas di luar kelas. Pesan keselamatan juga disampaikan melalui poster dan media visual agar mudah dipahami.
Anggota tim UM, Dr. Alfyananda Kurnia Putra, S.Pd., M.Pd., mengatakan, persoalan yang dihadapi anak-anak di kawasan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pendidikan, tetapi juga kondisi lingkungan tempat mereka tumbuh dan beraktivitas.
“Anak-anak ini menghadapi dua masalah sekaligus, yaitu tertinggal dalam belajar dan berisiko secara fisik. Keduanya berasal dari lingkungan yang sama, sehingga perlu ditangani bersama,” ujar Alfyananda.
Program tersebut dilaksanakan oleh tim yang dipimpin Syamsul Bachri bersama Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd., dan Alfyananda Kurnia Putra dari Departemen Geografi UM. Tim juga melibatkan alumni Pendidikan Profesi Guru (PPG) UM, yakni Lailatul Fitriyah, Johandi Rahma Rafani, dan Aizul Haswin.
Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui koordinasi dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kota Kinabalu serta pengelola CLC St. Fransisko Yasinta, Nur Hariri, S.Pd., Gr.
Dari 111 anak yang menjadi sasaran program, sebanyak 98 anak menyelesaikan rangkaian kegiatan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan kemampuan membaca dan berhitung setelah pendampingan.
Nilai rata-rata membaca peserta meningkat dari 48 menjadi 74 pada skala 100. Sementara itu, nilai rata-rata numerasi naik dari 44 menjadi 73. Sebanyak 86 persen peserta mengalami peningkatan minimal satu tingkat kemampuan membaca, sedangkan 83 persen menunjukkan peningkatan kemampuan numerasi.
Capaian tersebut melampaui target awal program, yakni peningkatan kemampuan pada sedikitnya 80 persen peserta. Meski demikian, tim menilai hasil tersebut masih perlu ditindaklanjuti untuk memastikan peningkatan kemampuan anak dapat bertahan dalam jangka panjang.
Selain mendampingi peserta, tim UM juga memberikan penguatan kapasitas kepada enam tutor lokal CLC. Materi dan perangkat pembelajaran yang telah disusun diserahkan agar dapat digunakan kembali dalam kegiatan belajar sehari-hari.
Pendampingan lanjutan direncanakan melalui komunikasi jarak jauh antara tim UM dan pengelola CLC. Dengan demikian, proses pembelajaran diharapkan tetap berjalan meskipun kegiatan pendampingan langsung telah selesai.
Tim juga berharap orang tua dan perusahaan perkebunan dapat ikut menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi anak, terutama dengan memperhatikan jalur dan waktu aktivitas kendaraan pengangkut hasil perkebunan serta kegiatan operasional lainnya.
Pengalaman para alumni PPG UM yang terlibat dalam kegiatan ini juga menjadi bagian penting dari program. Mereka berkesempatan menerapkan pengalaman mengajar di lingkungan dengan karakteristik peserta didik yang beragam, termasuk kelas dengan perbedaan kemampuan belajar.
Program ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan keempat tentang pendidikan berkualitas, tujuan ketiga tentang kehidupan sehat dan sejahtera, tujuan kesepuluh tentang pengurangan kesenjangan, serta tujuan ketujuh belas mengenai kemitraan untuk mencapai tujuan.
Melalui program “Pramuka untuk Bumi dan Diri”, UM berupaya memperkuat akses pendidikan bagi anak-anak pekerja migran Indonesia di Sabah. Upaya tersebut tidak hanya diarahkan untuk membantu mereka mengejar ketertinggalan membaca dan berhitung, tetapi juga membangun kesadaran bahwa hak memperoleh pendidikan harus berjalan beriringan dengan hak anak untuk tumbuh dalam lingkungan yang aman.
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.
(Fadilah Abdul Azis/rls/red)


