Kita tahu, bahwa manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan yang namanya interaksi antar sesamanya, atau bahkan makhluk lain selain sejenisnya. Output penyampaian dalam berinteraksi pun bisa secara verbal maupun nonverbal tergantung pada kondisi dan kebutuhan saat menjalin sebuah relasi. Dalam kasus di mana manusia berinteraksi dengan hewan, manusia hanya membutuhkan mekanisme bahasa tubuh. Jikalau menggunakan aksara, itu pun karena hewan menangkap sebuah pattern dari gelombang yang dihasilkan dari suara tersebut. Bukan pada substansi dari satu-persatu sebuah abjad. Beda antara manusia dengan manusia. Di situ dibutuhkan sebuah disiplin management tata cara berbahasa. Pada judul di atas, kita tahu bahwa dibutuhkannya kompleksitas dalam sebuah percakapan. Salah satunya adalah “kesantunan berbahasa” dalam menjalin suatu interaksi sesama manusia.
Dalam pembahasan artikel ini, saya akan memberikan pandangan subyektif tentang peran penting sebuah etika dan kesantunan berbahasa dalam menjalin sebuah relasi. Tapi sebelum mengarah kesana, apa sih definisi dan esensi dari kesantunan berbahasa? Menurut Geoffrey Leech, seorang ahli dalam bidang linguistik bahasa inggris, mendefinisikan kesantunan sebagai “strategi untuk menghindari konflik”, yang dapat diukur berdasarkan derajat upaya yang dilakukan untuk menghindari suatu konflik. Perlu digaris bawahi sebuah kata “upaya” yang berarti mengupayakan dengan menggunakan sebuah “cara” dalam menata atau memilah sebuah bahasa agar output-nya dapat diterima oleh subyek diluar kita. Tentu, juga berupaya agar sebisa mungkin terhindar dari suatu konflik dan kesenjangan antar individu.
Di era yang serba instant dan cepat ini, moderenitas dalam konteks bersosial mampu menjalin hubungan komunikasi yang lebih variatif, dikarenakan manusia diberi wadah dari ciptaanya yaitu teknologi telekomunikasi. Manusia di era modern ini mampu menjangkau dan dipermudah dalam berkomunikasi dalam lanskap sosial paling lokal sampai dalam skala global. Dari sisi kebermanfaatan, memang, teknologi sangat membantu keberlangsungan dan kebutuhan manusia atas ekonomi, relasi, dan sifat naluriah manusia akan eksistensi. Namun perlu kita ketahui bahwa, dibalik kebermanfaatan, kemudahan menggapai informasi, kepuasan dan hasrat akan impresi yang lebih meluas, terdapat sebuah ironi yang tampak dari pola manusia yang memperdayakan sebuah teknologi ciptaan mereka sendiri. Jika saya analisa, output kebanyakan manusia di era sekarang ini, timbul sebuah degradasi etika dan moral ketika manusia menjalin sebuah hubungan komunikasi antar sesama makhluk berpikir. Ada beberapa sebab terjadinya ketidaksantunan dalam berkomunikasi antara lain, timbulnya rasa emosi, egosentrisme, judgementall, super-ego, domination sense, superioritas, bahkan bisa timbul dari sebab inferioritas. Kita ambil contoh kasus kecil (namun krusial) di keseharian kita. Banyak dari orang tua yang mengeluh tentang anak-anaknya yang sudah mengalami dekadensi kesantunan berbahasa dibandingkan saat orang tua mereka menjalani proses remaja di zaman mereka. Anak mereka mulai lupa bahkan enggan menaruh rasa hormat dan cinta saat berdialog dengan kedua orang tuanya. Anak mulai menganggap orang tua hanya sebagai suatu komoditas hidup untuk memenuhi hasrat, ego dan tujuan mereka. Begitu juga sebaliknya, dalam kasus lain, orang tua mempunyai tendensi untuk meluapkan gejolak emosinya secara berlebih kepada anak hanya karena masalah-masalah sepele, yang apabila seumpamanya menggunakan metodologi kesantunan berbahasa, ada probabilitas pada orang tua dan anak untuk memecahkan sebuah masalah dalam berdialog menggunakan nalar dan akal yang jernih. Kesantunan dalam berbahasa mulai mengalami penurunan secara kultural. Manusia mulai tak sadar bahkan enggan menggunakan etika santun dalam berkomunikasi.
Bila budaya kesantunan mulai terkikis, yang akan terjadi adalah timbulnya ketidakseimbangan dalam pola interaksi yang berlangsung. Kausalitas yang ditimbulkan dari sebab yang saya jabarkan di atas ialah, muncul rasa kebencian dan gejolak batiniah yang membuat seseorang melakukan hal-hal yang bersifat destruktif (chaos secara batin maupun fisik). Meski kesantunan “mungkin” hanya akan berimbas pada impresi eksternal, karena mungkin orang berbahasa santun hanya atas dasar motif tertentu, sandiwara dan tujuan-tujuan kontras yang menyimpang dan dibalut oleh kelembutan etika berbahasa. Tapi setidaknya (diluar ada motif-motif tertentu), ouput yang ditimbulkan tidak mengandung unsur kebencian, meremehkan, ataupun menginjak martabat lawan bicara dan lain sebagainya.
Kesimpulannya adalah, kesantunan berbahasa sangatlah penting. Di luar motif baik dan buruk antara individu, kesantunan berbahasa mempunyai peranan dalam menjalin keharmonisan dan dinamika dalam bertutur kata kepada yang lebih tua maupun yang lebih muda. Dengan adanya metodologi pola berinteraksi tersebut, diharapkan manusia saling menaruh respect kepada sesamanya sebagai makhluk eksistensial. Dan tentunya kita sebagai manusia dapat memberi kompromi akan apa saja yang berkaitan di luar kita dan sadar akan refleksi atas relativitas kita sebagai entitas yang begitu kompleks ini.
Baca Juga : Urgensi Kesantunan Berbahasa di Dunia Maya
Selalu ikuti berita terkini Harianjatim.com melalui kanal Telegram “Harian Jatim [dot] Com”. Klik https://t.me/harianjatim untuk bergabung.
Penulis : Amelia Avrila Prihadini | Siswi SMAN 1 Kepanjen Jawa Timur

