Rintihan Seorang Pemulung Bernama Ibu Salamah Mengingat Harga BBM Naik

  • Bagikan

Reporter : Ponirin Mika

Probolinggo.HarianJatim.Com – Keringat mengalir deras di pipi seorang perempuan tua bernama Salamah. Ibu yang berusia 70 tahun ini melawan sinar matahari yang menyengat agar mendapatkan rongsokan yang akan di jual.

Sesekali keringat yang ada di wajahnya di usap memakai baju yang di pakai. Perempuan yang memiliki dua orang anak ini menceritakan hasil jual rongsokan yang di ambil dari jalanan, halaman rumah, dan di tepi-tepi sungai itu hanya seharga 2 ribu perkilo.

“Nak, harga BBM naik. Sementara harga rongsokan yang saya jual masih tetap seharga 2 ribu perkilo. Ini harus ada yang memperjuangkan nak,” katanya sembari mengusap air mata yang mulai menetes.

Ibu yang telah lama ditinggal suaminya ini berujar. Katanya, BLT yang setiap bulan saya terima saat ini belum ada. Saya sangat susah membeli beras.

Dengan mata yang berkaca-kaca, Salamah berharap agar pemerintah memperhatikan rakyat yang tidak mampu supaya bisa bertahan hidup di tengah harga bahan pokok yang naik.

“Saya menjual rongsokan ini sebulan sekali. Hasil penjualan rongsokan setiap bulannya tidak menentu. Ya tapi saya tetap bersyukur masih bisa membeli beras buat makan,” tegas Ibu yang lahir di Desa Karanganyar, Paiton, Probolinggo ini.

Sebagai orang yang hidup di tengah-tengah masyarakat, Salamah menegaskan dirinya masih bisa menghadiri undangan perkawinan, melayat pada orang yang meninggal dan ikut menyumbang pada tetangga yang sedang melaksanakan hajatan.

“Tidak hanya buat makan uang yang di dapat dari penjualan rongsokan. Tapi juga untuk kebutuhan masyarakat,” ungkapnya. Jumat (09/09/22)

Salamah merintih saat di tanya harga bahan pokok di pasar. Dengan wajah yang sudah mulai di makan usia, salamah berkata, “Pemerintah perlu mengentaskan kemiskinan agar keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia benar-benar terjadi”.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90