Dinamika Stress pada Remaja di Masa Pandemi

  • Bagikan
Dinamika Stress pada Remaja di Masa Pandemi. (foto: ilustrasi/halodoc.com)

Oleh : Danang Dwi Febrian, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Pendahuluan

Novel coronavirus (COVID-19) telah menjadi pandemi global sejak ditetapkan sebagai wabah antar manusia pada 31 Desember 2019 di Wuhan, Tiongkok. Virus corona yang menyebabkan wabah ini diyakini terkait dengan penjualan daging dari hewan liar atau penangkaran di pasar ikan​(Cuietal.,2019)​.

Epidemi MERS-CoV 2015 di Korea, dampak stigma dan kekerasan secara langsung mempengaruhi kesehatan mental petugas kesehatan yang bekerja di rumah sakit umum (Torales et al., 2020)

Padahal, saat COVID-19 muncul, individu sendiri mengalami berbagai hambatan untuk mencapai tujuan tertentu. Dan setiap orang harus mengalami berbagai perubahan kebiasaan baik dalam bekerja maupun beraktivitas.

Ketika semua dibatasi, segalanya tampak begitu sulit. Banyaknya PHK, resesi ekonomi negara. Kebutuhan yang semakin besar untuk bertahan di masa krisis seperti ini. Banyak masyarakat yang terlalu curiga terhadap orang yang menunjukkan tanda-tanda COVID-19. Stres bermula dari kondisi ini, mulai dari gangguan tidur, sakit kepala, dan gangguan fisik lainnya.

Setidaknya ada tiga jenis stres yang biasa dialami mahasiswa. Selama pandemi ini: stres akademik, stres kerja, dan stres keluarga. Kematian pasien COVID-19 terus meningkat, mencapai 463.000 pada November.

Dari data yang diperoleh. Terlihat jelas bahwa jumlah penderita penyakit virus corona meningkat setiap harinya dan masih menyebar dengan cepat. Di sisi lain, dengan bertambahnya. Kehidupan masyarakat menjadi kurang mandiri dan kehidupan mereka semakin terpuruk, sehingga pemerintah menggalakkan pengenalan gaya hidup baru (new normal).

Dengan segala perubahan yang terjadi, juga didukung oleh informasi. Baik terpercaya maupun tidak, tentang evolusi pandemi yang berimplikasi ganda, salah satunya adalah rasa takut. Tahun 2020 menunjukkan bahwa orang yang mengikuti berita tentang COVID-19 kemungkinan besar menderita gangguan kecemasan. menyatakan bahwa stress adalah suatu keadaan yang menekan keadaan psikologis seseorang untuk mengambil kesempatan di mana kesempatan itu batasan atau hambatan (Robbins, 2001).

Pembahasan

Setidaknya, ada 3 jenis stress yang sering ditemui di masa pandemi ini. Yaitu, stress akademik, stress kerja, dan stress rumah tangga.

A. stres akademik

Akademik identik dengan dunia pendidikan. Tujuan sarjana adalah kemampuan untuk memperoleh pengetahuan yang telah diuji kepastian dan kebenarannya sehingga konsekuensi dan kompleksitasnya dapat diukur dengan baik. Stres belajar adalah perasaan emosional berupa tekanan yang dialami siswa dalam menguasai ilmu pengetahuan tertentu. Dengan demikian, tekanan ini tidak hanya mempengaruhi siswa secara emosional, tetapi juga mengganggu mereka secara fisik karena ketidaksesuaian antara lingkungan belajar mereka dan tuntutan yang mereka hadapi.

Motivasi berprestasi juga penting di masa pandemi ini. Hal ini menjadikan motif ini berpengaruh kuat terhadap faktor penerimaan orang tua. Hal ini menunjukkan bahwa orang tua dari anak-anak yang bermotivasi tinggi memiliki hubungan interaksi yang lebih tinggi dan lebih banyak hadiah, serta hukuman dan harapan yang lebih tinggi sebagai orang tua dari anak-anak yang tidak termotivasi.

Selama pandemi, siswa harus belajar dari rumah dan tidak melakukan interaksi sosial dengan teman sebaya, kecuali pertemuan virtual. Hal ini dapat menimbulkan perasaan kesepian. Siswa yang mengalami kesepian emosional dan sosial mencoba mencari cara untuk mengatasi kesepian dengan terlibat dalam berbagai aktivitas untuk mengalihkan perhatian mereka dari kesepian.

B. Stress dalam Keluarga

“Ibu rumah tangga berpotensi stres selama pandemi,” tulis banyak artikel di berbagai media online. Mengingat masih dominannya di masyarakat, kondisi ini masih sangat mungkin terjadi di Indonesia. Saat WFH diperkenalkan di masa pandemi Covid-19, semua anggota berkumpul di rumah setiap saat. Oleh karena itu, ibu rumah tangga paling terbebani saat bekerja. Ibu rumah tangga tidak hanya melakukan pekerjaan rumah tangga, tetapi juga berperan sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Stres keluarga dapat dialami tidak hanya oleh ibu, tetapi oleh anak-anak yang bosan dan ayah yang terbiasa bekerja di luar rumah sehingga Stres tidak dapat dihindari, tetapi setidaknya dapat dicegah.

(In The Know:2014) Yang perlu ditekankan juga dalam mengatasi stress ialah bahwa kita tidak memiliki kendali terkait penyebab stress, tetapi kita mampu mengontrol bagaimana kita bereaksi terhadap stress tersebut. (U.S. Department of Veterant Affairs,: 2014) Menurut Lazzarus dan Folkman, coping stress merupakan suatu proses di mana individu mencoba untuk mengelola jarak yang ada antara tuntutan-tuntutan (baik itu tuntutan yang berasal dari individu maupun tuntutan yang berasal dari lingkungan) dengan sumber-sumber daya yang mereka gunakan dalam menghadapi situasi penuh tekanan. Stres yang disebabkan oleh pandemi semacam itu dapat memengaruhi fungsi seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Selama pandemi, tingkat kecemasan, stres, dan depresi masyarakat meningkat. Sebuah studi baru-baru ini menemukan hubungan antara tingkat pendidikan seseorang dengan kecemasan dan stress.

Berikut ini adalah penyebab orang-orang merasa stress:

  1. Adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan.
  2. Kekhawatiran pada sesuatu yang akan datang.
  3. Aktifitas yang tidak seimbang.
  4. Tekanan dari diri sendiri.
  5. Jiwa yang merasa dahaga secara emosional.

Ada beberapa hal yang dapat menjadi pencegahan stress , yaitu :

  1. Mengatur pola makan dengan baik
  2. Melakukan aktifitas jasmani secara baik dan terukur.
  3. Latihan pernapasan.
  4. Latihan relaksasi.

Relaksasi tidak hanya dibutuhkan untuk fisik saja, namun psikis juga. Karenanya, merupakan sebuah hal yang tepat untuk dilakukan oleh para penderita stress, atau bagi mereka yang ingin melakukan pencegahan stress.

Mengembangkan hubungan yang harmonis, terutama dalam keluarga, membantu mengurangi potensi stres pribadi Terlepas dari sejumlah cara yang telah dipaparkan, ada cara lain yang lebih efektif untuk mengurangi stress ataupun sebagai terapi bagi para penderita stress dan gangguan yang lainnya. Yaitu menulis. Terapi menulis adalah aktivitas menulis yang mencerminkan refleksi dan ekspresi klien baik itu karena inisiatif sendiri atau karena sugesti dari seorang penulis atau peneliti (Wright, 2004).

Salah satu contoh terapi ini adalah menulis pengalaman. Efektivitas menulis pengalaman emosional untuk menurunkan depresi telah dibuktikan pada penelitian Purwandari (2004) pada remaja yang mengalami rehabilitasi NAPZA.

Kesimpulan

Ketika pandemi ini semakin parah, banyak dari kalangan individu yang mengalami kesulitan. Tidak hanya pada kondisi duniawi saja, namun merambat hingga jasmani dan mental seseorang. Hal tersebut tentu membawa dampak yang lebih signifikan pada individu , seperti stress, depresi, dan gejala mental lainnya. Di mana, stress ini tidak hanya merambat ke satu kalangan saja. Ketika seseorang mengalami stress, ada beberapa cara bagi individu untuk menguranginya atau mencegahnya. Seperti coping, relaksasi, mengatur pola makan.

Daftar Pustaka
Aufar, A. F., & Raharjo, S. T. (2020). KEGIATAN RELAKSASI SEBAGAI COPING STRESS DI MASA PANDEMI COVID-19. Jurnal Kolaborasi Resolusi Konflik, 2(2), 157-163.
Cui, J., Li, F., & Shi, Z.-L.(2019). Origin and evolution of pathogenic coronaviruses. Nature Reviews Microbiology, 17(3), 181-192. https://doi.org/10.1038/s41579-018-0118-9
In The Know. 2014. A Professional Growth Module: Stress Management Skills
Mayangsari, M. D. (2016). Motivasi Berprestasi Mahasiswa Ditinjau dari Penerimaan Orangtua. Jurnal Ecopsy, 1(1).
Muslim, M. (2020). MANAJEMEN STRESS PADA MASA PANDEMI COVID-19. ESENSI: Jurnal Manajemen Bisnis, 23(2), 192-201
Mustika, F. A. (2019, November). Terapi-terapi untuk menurunkan depresi. In Prosiding Seminar Nasional Magister Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (pp. 305-309).
Puspitawati, N. M. D., & Atmaja, N. P. C. D. (2020). PENGARUH KOMPENSASI TERHADAP STRES KERJA DAN KEPUASAN KERJA KARYAWAN. Jurnal Bakti Saraswati (JBS): Media Publikasi Penelitian dan Penerapan Ipteks, 9(2), 109-117.
Robbins, Stephen P. 2001. Perilaku Organisasi: Konsep, Kontroversi, Aplikasi, Jilid I, Edisi 8, Prenhallindo Jakarta
Susilowati, T. G., & Hasanat, N. U. (2015). Pengaruh terapi menulis pengalaman emosional terhadap penurunan depresi pada mahasiswa tahun pertama. Jurnal psikologi, 38(1), 92-107.
Torales, J ., O’Higgins, M., Castaldelli-Maia, J.M.,& Ventriglio, A.(2020). The outbreak of COVID-19 coronavirus and its impact on global mental health. The International Journal of Social Psychiatry, 66(4), 317-320. https://doi.org/10.1177/0020764020915212
U.S. Department of Veterant Affairs. 2014. Manage Stress Workbook
WARMANSYAH ABBAS, E. R. S. I. S. (2020). Menulis di Era Covid-19: Memanage Trauma Psikologis Menghindari Psikosomatis. Menulis di Era Covid-19: Memanage Trauma Psikologis Menghindari Psikosomatis.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
Booking todo incluido ofertas al caribe.