Menjaga Kualitas Ibadah di Tengah Arus Konten TikTok

  • Bagikan
Syahdan Muzzaky

Oleh: Syahdan Muzzaky*

Sebagaimana perkembangan teknologi pada saat ini, muncullah aplikasi yang diciptakan untuk menyediakan berbagai informasi dan hiburan secara online, yaitu TikTok. Berdasarkan data, Indonesia merupakan negara dengan pengguna TikTok terbanyak, mencapai sekitar 180,11 juta pengguna. Secara tidak langsung, anak-anak hingga remaja zaman sekarang sudah sangat mengenal aplikasi ini, bahkan sejak usia dini, karena diperkenalkan oleh orang tua mereka. Di era modern, beberapa orang tua memilih memberikan ponsel kepada anak sebagai bagian dari cara mengasuh, dengan alasan agar anak tetap tenang ketika ditinggal melakukan pekerjaan rumah. Tanpa disadari, perlakuan tersebut justru dapat menjadi kesalahan fatal karena dapat menyebabkan gangguan penglihatan sejak kecil.

Seiring bertambahnya usia, anak-anak mulai beradaptasi dengan aplikasi TikTok yang tidak sepenuhnya menyediakan informasi dan hiburan edukatif. Sering kali, terdapat konten negatif yang secara tidak sengaja muncul di beranda (FYP), seperti video wanita yang tidak menutup aurat atau melakukan gerakan tidak senonoh, yang dapat mengundang perhatian negatif. Konten viral semacam ini dapat memengaruhi cara berpikir remaja yang masih dalam tahap perkembangan, sehingga pemikirannya dapat ternodai sejak dini. TikTok pada dasarnya menampilkan konten sesuai dengan aktivitas pengguna. Dengan kata lain, aplikasi ini sebenarnya berada di bawah kendali penggunanya. Jika kita memilih untuk menonton konten positif, maka dampaknya akan positif pula. Sebaliknya, jika yang ditonton adalah konten yang mengarah pada kelalaian, maka itu akan membentuk kebiasaan buruk pada diri pengguna.

Selain persoalan waktu dan pengaruh moral, penggunaan TikTok yang berlebihan juga dapat menurunkan tingkat konsentrasi dan ketenangan batin seseorang. Kebiasaan menikmati tayangan cepat dan instan membuat pengguna terbiasa berpikir singkat, sehingga sulit mempertahankan fokus saat beribadah, terutama dalam sholat yang membutuhkan kekhusyukan dan ketenangan hati. Bahkan, tidak sedikit orang yang masih memikirkan konten viral atau bahkan merencanakan membuat konten baru ketika sedang melaksanakan ibadah. Fenomena ini menunjukkan bahwa aplikasi tersebut bukan hanya mengambil waktu, tetapi juga mencuri perhatian serta ruang batin yang seharusnya ditujukan untuk Allah SWT.

Lebih parahnya, penggunaan TikTok hingga larut malam menjadi penyebab banyak remaja yang terlambat bangun untuk sholat Subuh. Kebiasaan scrolling sebelum tidur menjadikan mereka tidur terlalu malam, sehingga tubuh kurang istirahat dan sulit bangun tepat waktu. Hal ini bukan hanya soal kedisiplinan tetapi juga mencerminkan terbaliknya skala prioritas antara kenyamanan diri dan kewajiban spiritual. Saat seseorang lebih bersemangat membuka TikTok setelah bangun tidur dibandingkan mengambil air wudhu, itu menunjukkan bahwa hiburan duniawi telah menggeser posisi ibadah yang seharusnya utama.

Tidak hanya memengaruhi ibadah individu, TikTok juga berdampak pada hubungan sosial dan lingkungan keluarga. Banyak remaja yang lebih memilih menghabiskan waktu di kamar bersama ponsel dari pada berinteraksi dengan keluarga. Padahal, dalam Islam, menjaga silaturahmi dan berkomunikasi dengan baik merupakan bagian dari ibadah. Akibatnya, nilai kebersamaan semakin pudar dan kepekaan terhadap lingkungan menurun. Kondisi ini semakin memperlemah kualitas ibadah sosial seperti tolong-menolong, peduli sesama, dan menjaga adab terhadap orang tua.

Permasalahan semakin kompleks ketika literasi digital belum dimiliki secara baik oleh anak dan remaja. Kurangnya bimbingan dari orang tua dan minimnya kontrol diri menyebabkan mereka tidak mampu membedakan konten yang layak ditonton dan yang harus dihindari. Orang tua seharusnya tidak hanya mengenalkan teknologi, tetapi juga membimbing anak bagaimana menggunakannya dengan bijak. Sayangnya, sebagian besar orang tua justru tidak memahami risiko dari penggunaan TikTok tanpa pengawasan.

Di sisi lain, jika dibandingkan dengan generasi sebelum era digital, kualitas ibadah masyarakat pada masa lalu cenderung lebih baik. Mereka hidup tanpa distraksi berlebihan dan fokus menjalani aktivitas harian dengan menyeimbangkan kebutuhan dunia dan akhirat. Kini, kebiasaan rebahan sambil bermain TikTok sering kali menggantikan momen berkualitas untuk bermuhasabah, membaca Al-Qur’an, atau berdzikir. Tidak jarang pula waktu senggang yang seharusnya dimanfaatkan untuk ibadah sunah malah dihabiskan untuk mengejar tren viral.

Selain itu, kurangnya kesadaran akan dampak jangka panjang menjadi penyebab remaja terus menggunakan TikTok tanpa batasan. Dalam jangka waktu lama, kebiasaan mengonsumsi konten instan dapat melemahkan kemampuan berpikir kritis dan mengurangi rasa takut kepada Allah SWT. Untuk menjaga kualitas ibadah, perlu adanya regulasi diri berupa pembatasan waktu penggunaan media sosial, khususnya menjelang waktu sholat atau saat malam hari sebelum tidur. Pemerintah dan lembaga pendidikan juga dapat berperan dengan memberikan edukasi literasi digital berbasis spiritual melalui seminar, kampanye anti scroll berlebihan, atau program “digital detox Ramadan”. Kemudian, remaja dapat membiasakan diri melakukan refleksi harian untuk mengevaluasi sejauh mana penggunaan teknologi memengaruhi kedekatan mereka dengan Allah.

Namun demikian, kita tidak dapat menyalahkan teknologi sepenuhnya. TikTok juga menyediakan konten edukatif dan keagamaan yang bermanfaat, seperti kajian singkat, motivasi Islam, dan dakwah kreatif. Sayangnya, konten positif sering kali tenggelam oleh konten hiburan yang sifatnya viral dan lebih menarik perhatian. Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran dari pengguna untuk memilih konten yang memberikan nilai tambah spiritual, bukan sekadar hiburan sementara.

Menurut pandangan saya dapat disimpulkan bahwa TikTok merupakan hasil inovasi digital yang dapat membawa manfaat maupun mudarat, tergantung bagaimana pengguna memanfaatkannya. Jika tidak dikendalikan, kebiasaan menggunakan TikTok secara berlebihan dapat mengikis nilai ibadah, menurunkan kekhusyukan, mengganggu kedisiplinan waktu, serta menjauhkan seseorang dari kesadaran religius. Oleh karena itu, sangat penting bagi generasi muda untuk menerapkan pengendalian diri, mengatur waktu penggunaan media sosial, serta menjadikan ibadah sebagai prioritas utama. Orang tua dan lembaga pendidikan juga harus berperan aktif dalam memberikan bimbingan digital yang sesuai dengan nilai agama. Sebab, hiburan duniawi akan berakhir, tetapi ibadah kepada Allah SWT adalah bekal abadi untuk kehidupan akhirat.


*) Syahdan Muzzaky adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.


Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.

Download sekarang!.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
All users can see, edit, or delete their personal information at any time (except they cannot change their username). Nike mens dallas mavericks luca doncic basketball vest jersey / blue / rrp £100.