Etika Literasi Digital Mahasiswa dalam Menghadapi Hoaks Bencana Alam

  • Bagikan
Dian Nova Azaroh

Oleh : Dian Nova Azaroh*

Di era banjir informasi, mahasiswa bukan sekadar penuntut ilmu, tetapi juga garda terdepan dalam pertarungan melawan misinformasi. Situasi ini menjadi semakin krusial ketika bencana alam melanda, seperti gempa, banjir, atau gunung meletus yang kerap terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Jawa Timur.

Sayangnya, momen rentan ini justru dimanfaatkan untuk menyebarkan hoaks berita bohong yang dapat memperparah kepanikan, menghambat evakuasi, dan merusak koordinasi penanganan.

Sebagai generasi yang melek teknologi, mahasiswa memiliki akses dan kemampuan lebih dalam mengelola informasi digital. Namun, kecakapan teknis saja tidak cukup. Di sinilah etika literasi digital menjadi fondasi yang wajib ditegakkan. Etika ini melampaui kemampuan mengoperasikan gadget; ia adalah kompas moral dalam bermedia sosial.

Pertama, etika memeriksa fakta (check and re-check). Sebelum membagikan informasi terutama yang menyangkut lokasi pengungsian, jumlah korban, atau permintaan bantuan mahasiswa harus menjadi “penyaring pertama”. Gunakan fitur penelusuran gambar untuk memverifikasi foto, baca berita dari sumber resmi seperti BPBD, PVMBG, atau portal berita terpercaya. Ingat, satu klik “share” pada informasi keliru bisa menyesatkan banyak nyawa.

Kedua, etika empati dan tidak mengeksploitasi. Bencana bukan ajang untuk konten sensasional. Hindari menyebarkan gambar atau video korban yang mempermalukan atau melukai harga diri mereka. Prioritaskan informasi yang bersifat membangun dan solutif, bukan yang hanya mengejar likes dan shares.

Empati digital berarti menempatkan diri sebagai korban: informasi seperti apa yang saya butuhkan jika saya di posisi mereka?
Ketiga, etika bertanggung jawab atas opini.

Komentar dan analisis di kolom komentar atau grup diskusi harus didasari data, bukan emosi semata. Menyebarkan teori konspirasi tentang penyebab bencana tanpa dasar ilmiah hanya akan menambah kebingungan publik. Mahasiswa, dengan bekal keilmuan yang dimiliki, seharusnya menjadi pencerah, bukan penyebar keraguan.

Keempat, etika menjadi relawan digital. Selain turun langsung ke lokasi, mahasiswa dapat berperan dengan menyebarkan informasi resmi dari pihak berwenang, melaporkan akun-akun penyebar hoaks, atau membuat konten edukatif tentang mitigasi bencana. Kolaborasi dengan komunitas anti hoaks dan lembaga kampus seperti UKM jurnalistik atau unit TI juga dapat memperkuat dampak positif ini.

Menghadapi hoaks bencana alam, mahasiswa harus menjadi “pahlawan digital” yang tidak hanya pintar, tetapi juga berintegritas. Kampus, melalui kurikulum maupun pelatihan, perlu lebih serius menyisipkan pendidikan literasi digital yang beretika. Sementara media seperti Harian Jatim dapat menjadi mitra strategis dengan menyediakan ruang khusus untuk verifikasi fakta dan kampanye literasi.

Di tengah duka dan ketidakpastian pascabencana, informasi yang akurat adalah pertolongan pertama. Mahasiswa, dengan etika literasi digital yang kuat, bisa memastikan bahwa yang beredar adalah bantuan, bukan bahaya baru berupa hoaks. Karena melawan hoaks bukan hanya tentang teknologi, tapi tentang kemanusiaan.


*) Dian Nova Azaroh adalah mahasiswa Pendidikan Agama Islam, FAI, Universitas Muhammadiyah Malang


Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.

Download sekarang!.

  • Bagikan

Respon (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
This cookie includes no personal data and simply indicates the post id of the article you just edited. The north face men's vectiv eminus trainers / black / rrp £115.