Oleh: Ariel Muhammad Ghufron*
Industri kelapa sawit merupakan salah satu tulang punggung perekonomian nasional. Kontribusinya terhadap devisa negara, penyerapan tenaga kerja, dan pembangunan wilayah pedesaan tidak dapat disangkal. Namun, di balik besarnya potensi tersebut, industri sawit Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan klasik, mulai dari produktivitas tenaga kerja, konflik ketenagakerjaan, hingga isu keberlanjutan. Dalam konteks ini, peran manajemen sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor kunci yang kerap diabaikan, padahal justru menentukan arah dan daya saing industri sawit ke depan.
Selama ini, pembahasan industri sawit lebih sering terfokus pada aspek lahan, teknologi, dan kebijakan ekspor. Padahal, manusia adalah penggerak utama seluruh proses produksi. Tanpa pengelolaan SDM yang baik, modernisasi teknologi dan perluasan lahan hanya akan menghasilkan pertumbuhan semu tanpa kualitas. Manajemen SDM bukan sekadar urusan administrasi tenaga kerja, melainkan strategi jangka panjang untuk menciptakan industri sawit yang produktif, adil, dan berkelanjutan.
Salah satu tantangan utama industri sawit adalah rendahnya kualitas kompetensi tenaga kerja, terutama di tingkat operasional. Banyak pekerja sawit masih mengandalkan pengalaman turun-temurun tanpa dibekali pelatihan yang memadai. Akibatnya, produktivitas tidak optimal dan risiko kecelakaan kerja tetap tinggi. Di sinilah manajemen SDM berperan penting melalui perencanaan tenaga kerja, pelatihan berbasis kompetensi, serta sertifikasi keahlian yang terstandar.
Selain kompetensi, aspek kesejahteraan pekerja juga menjadi isu krusial. Konflik ketenagakerjaan di sektor sawit sering kali dipicu oleh ketidakjelasan status kerja, upah yang tidak layak, serta minimnya perlindungan sosial. Manajemen SDM yang profesional seharusnya mampu menciptakan sistem pengupahan yang adil, transparan, dan sesuai dengan beban kerja.
Manajemen SDM juga memiliki peran strategis dalam menjawab tuntutan global terhadap praktik industri sawit berkelanjutan. Saat ini, pasar internasional semakin menuntut penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Dalam aspek sosial, pengelolaan tenaga kerja menjadi indikator utama.
Lebih jauh, transformasi industri sawit menuju era digital dan mekanisasi menuntut kesiapan SDM yang adaptif. Penggunaan teknologi membutuhkan tenaga kerja yang melek teknologi. Manajemen SDM harus mampu menjembatani perubahan ini melalui program reskilling dan upskilling.
Tidak kalah penting, peran manajemen SDM juga berkaitan dengan pengembangan kepemimpinan di industri sawit. Sistem kaderisasi yang lemah menyebabkan minimnya inovasi. Dengan manajemen talenta yang baik, perusahaan dapat mencetak pemimpin-pemimpin baru yang profesional dan berintegritas.
Pada akhirnya, masa depan industri sawit Indonesia tidak hanya ditentukan oleh luas lahan atau besarnya produksi, tetapi oleh kualitas manusia yang mengelolanya. Manajemen SDM harus ditempatkan sebagai pilar strategis, bukan sekadar fungsi pendukung.
*) Ariel Muhammad Ghufron adalah mahasiswi Program Studi Manajemen, Universitas Muhammadiyah Malang.
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.


