|| Penulis: Sapa Redaksi*
Ada kegelisahan yang perlahan kembali hadir di banyak rumah tangga Indonesia. Ia tidak datang melalui pidato ekonomi atau layar pergerakan pasar keuangan, melainkan lewat percakapan sederhana di meja makan: harga beras kembali naik, uang belanja terasa semakin cepat habis, biaya sekolah bertambah, sementara penghasilan tetap berjalan di tempat.
Ketika nilai tukar rupiah terus melemah hingga bergerak di kisaran Rp17.600 per dollar AS, yang sesungguhnya sedang diuji bukan hanya stabilitas ekonomi nasional, melainkan juga daya tahan hidup masyarakat kecil.
Bagi sebagian kalangan, pelemahan rupiah mungkin hanya dipahami sebagai gejolak pasar global yang bersifat teknis dan sementara. Namun bagi jutaan keluarga di Indonesia, perubahan kurs dollar memiliki arti yang jauh lebih nyata. Ia perlahan masuk ke kehidupan sehari-hari melalui kenaikan harga barang, biaya transportasi, kebutuhan pokok, hingga meningkatnya ongkos hidup secara keseluruhan.
Dampaknya memang tidak selalu terasa dalam sehari. Tetapi pelan-pelan, tekanan itu mengubah cara masyarakat menjalani hidup.
Indonesia masih memiliki ketergantungan terhadap berbagai kebutuhan impor, mulai dari bahan baku industri, energi, hingga sebagian komoditas pangan. Ketika rupiah melemah, biaya impor meningkat. Dunia usaha menghadapi kenaikan ongkos produksi yang pada akhirnya ikut memengaruhi harga barang di tingkat konsumen.
Di titik itulah masyarakat kecil menjadi kelompok yang paling cepat merasakan dampaknya.
Bagi keluarga berpenghasilan rendah, kenaikan harga sekecil apa pun dapat mengganggu keseimbangan ekonomi rumah tangga. Sebab sebagian besar pendapatan mereka habis untuk kebutuhan dasar. Tidak banyak ruang tersisa untuk menabung, menghadapi keadaan darurat, atau memenuhi kebutuhan di luar kebutuhan pokok.
Karena itu, ekonomi bagi masyarakat kecil bukan sekadar soal pertumbuhan atau inflasi. Ekonomi adalah soal rasa aman dalam menjalani hari-hari.
Pasar tradisional sering kali menjadi ruang paling jujur membaca keadaan. Pedagang mulai mengeluhkan pembeli yang semakin berhitung. Banyak warga membeli kebutuhan dalam jumlah lebih sedikit dibanding sebelumnya. Tidak sedikit keluarga akhirnya menunda kebutuhan tertentu demi memastikan dapur tetap bertahan hingga akhir bulan.
Yang perlahan berubah sebenarnya bukan hanya pola konsumsi masyarakat, tetapi juga kondisi psikologis sosial.
Masyarakat menjadi lebih cemas menghadapi masa depan. Anak muda mulai merasa hidup semakin mahal. Kelas menengah perlahan ikut merasakan tekanan biaya hidup yang terus meningkat. Banyak keluarga menjadi lebih hati-hati membelanjakan uang karena khawatir keadaan ekonomi akan semakin sulit dalam beberapa waktu ke depan.
Dalam situasi seperti itu, rasa aman ekonomi perlahan menjadi sesuatu yang mahal.
Di sisi lain, pemerintah memang menghadapi tantangan global yang tidak ringan. Ketidakpastian ekonomi dunia, konflik geopolitik, fluktuasi harga energi, hingga penguatan dollar AS menjadi tekanan yang dirasakan hampir seluruh negara berkembang, termasuk Indonesia. Di tengah situasi tersebut, stabilitas ekonomi nasional relatif masih terjaga dibanding sejumlah negara lain.
Namun pertumbuhan ekonomi makro tidak selalu otomatis menghadirkan ketenangan di level rumah tangga.
Pembangunan memang terus berjalan. Infrastruktur tumbuh di berbagai daerah, investasi bergerak, kawasan industri berkembang, dan aktivitas ekonomi tetap hidup. Tetapi di saat yang sama, banyak masyarakat kecil justru merasa ruang hidup ekonominya semakin sempit.
Kesenjangan antara pertumbuhan dan rasa aman itulah yang hari ini mulai dirasakan publik.
Karena itu, pembangunan ekonomi semestinya tidak berhenti pada pencapaian statistik. Stabilitas harga pangan, perlindungan terhadap pekerja informal, penguatan UMKM, serta penciptaan lapangan kerja yang lebih luas perlu menjadi perhatian utama agar pertumbuhan benar-benar terasa hingga lapisan masyarakat paling bawah.
Negara perlu memastikan bahwa pembangunan bukan hanya menghadirkan angka pertumbuhan, melainkan juga menghadirkan ketenangan bagi rakyat kecil.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan ekonomi sebuah bangsa tidak hanya terlihat dari kuatnya investasi atau tingginya pertumbuhan industri. Ukuran yang paling nyata justru tampak dari kehidupan sehari-hari masyarakat: apakah mereka masih dapat menjalani hidup tanpa rasa cemas yang berlebihan.
Dan ketika kecemasan itu mulai tumbuh kembali di meja makan, sesungguhnya ada persoalan yang jauh lebih besar sedang dihadapi bangsa ini.
||* Tim Kreator HarianJatim.Com
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.


