|| Penulis : Sapa Redaksi
Hari Raya Iduladha selalu menghadirkan suasana yang khas di Indonesia. Takbir menggema dari masjid dan musala, masyarakat berkumpul di halaman-halaman pemotongan, sementara sapi, kambing, dan domba disiapkan untuk dikurbankan. Di balik suasana religius itu, terdapat fakta besar yang jarang benar-benar direnungkan: Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah hewan kurban terbesar di dunia.
Data Kementerian Agama mencatat, pada Iduladha 2025 jumlah hewan kurban nasional mencapai sekitar 1,85 juta ekor. Jumlah tersebut terdiri atas lebih dari 627 ribu sapi dan kerbau serta sekitar 1,2 juta kambing dan domba. Angka itu bukan sekadar statistik tahunan. Ia menggambarkan besarnya skala pengorbanan, perputaran ekonomi, sekaligus kekuatan solidaritas sosial masyarakat Indonesia.
Jika seluruh hewan kurban tersebut dijajarkan dengan panjang rata-rata sekitar 1,5 meter per ekor, maka barisannya dapat membentang lebih dari 2.700 kilometer. Jarak itu hampir setara perjalanan dari Surabaya menuju Papua. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa Iduladha bukan hanya ritual keagamaan biasa, melainkan peristiwa sosial berskala nasional yang melibatkan jutaan orang dan jutaan hewan dalam satu momentum yang sama.
Namun, di balik besarnya angka penyembelihan itu, Iduladha sejatinya tidak sedang merayakan kematian hewan. Islam menempatkan kurban sebagai simbol ketakwaan dan keikhlasan manusia dalam berbagi. Al-Qur’an menegaskan bahwa yang sampai kepada Tuhan bukanlah darah dan daging hewan kurban, melainkan ketakwaan orang yang melaksanakannya.
Karena itu, semakin besar jumlah hewan yang dikurbankan, seharusnya semakin besar pula nilai kemanusiaan yang lahir darinya. Daging kurban dibagikan kepada masyarakat luas, terutama kelompok yang jarang menikmati kecukupan pangan. Dalam konteks sosial, Iduladha menjadi bentuk redistribusi dan solidaritas yang berlangsung serentak di hampir seluruh wilayah Indonesia.
Di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis, tradisi kurban memperlihatkan bahwa budaya berbagi masih hidup di tengah masyarakat. Jutaan orang rela mengeluarkan sebagian hartanya bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk membantu sesama. Nilai inilah yang menjadikan Iduladha tetap relevan dari tahun ke tahun.
Meski demikian, besarnya jumlah hewan kurban juga menghadirkan tanggung jawab moral yang tidak kecil. Hewan-hewan tersebut merupakan makhluk hidup yang dalam ajaran agama harus diperlakukan secara baik hingga proses penyembelihan dilakukan. Tata cara pemotongan yang manusiawi, higienis, dan tidak menyiksa menjadi bagian penting dari nilai ibadah itu sendiri.
Selain itu, Iduladha juga perlu menjadi momentum refleksi tentang makna pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari. Pengorbanan tidak selalu berbentuk penyembelihan hewan, tetapi juga kesediaan manusia menahan ego, membantu sesama, serta mendahulukan kepentingan bersama di tengah situasi sosial yang semakin kompetitif.
Pada akhirnya, jutaan hewan kurban yang disembelih setiap Iduladha bukan sekadar angka besar yang mengesankan. Di baliknya terdapat pesan tentang keikhlasan, kepedulian, dan tanggung jawab sosial. Sebab, makna terbesar dari kurban bukan terletak pada banyaknya hewan yang disembelih, melainkan pada seberapa jauh ibadah itu mampu menghadirkan empati dan memperkuat rasa kemanusiaan di tengah masyarakat.
||* Tim Kreator HarianJatim.Com
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.


