Sumenep dan Jati Diri yang Terus Dicari

  • Bagikan
Tugu keris "mini" yang dibangun di area Taman Bunga Pottre Koneng Sumenep. (foto: harianjatim).

Penulis : Arif*

Dalam pembangunan daerah, identitas bukan sekadar slogan. Ia adalah kesepakatan kolektif yang memberi arah: dari mana daerah ini bertumpu, dan ke mana ia ingin melangkah. Tanpa itu, pembangunan mudah terjebak pada pergantian simbol, bukan penguatan makna.

Pertanyaan itu relevan untuk Sumenep.

Dalam beberapa dekade terakhir, daerah ini dikenali melalui sejumlah penanda: Sumekar, Bumi Sumekar, Kota Keraton, Kota Keris, hingga The Soul of Madura. Sebelumnya, pernah pula diperkenalkan slogan The Heart Purity. Semuanya lahir dari niat yang sama: membangun citra daerah.

Namun, banyaknya identitas justru memunculkan persoalan lain: tidak terbentuknya satu narasi utama yang konsisten dan mudah dikenali publik.

Padahal, Sumenep memiliki modal historis dan kultural yang tidak kecil. Wilayah ini membentang di daratan dan kepulauan dengan lebih dari seratus pulau, memiliki Keraton Sumenep sebagai penanda sejarah politik dan budaya, tradisi keris yang masih hidup, jaringan pesantren yang kuat, serta potensi ekonomi berbasis pertanian, perikanan, dan sumber daya alam.

Kombinasi ini seharusnya cukup untuk membangun satu identitas yang kokoh.

Masalahnya, kekayaan itu justru tersebar dalam banyak narasi yang berjalan sendiri-sendiri. Akibatnya, branding daerah lebih sering tampak sebagai pergantian istilah administratif ketimbang penguatan identitas jangka panjang.

Fenomena ini bukan hanya terjadi di Sumenep. Banyak daerah terjebak pada anggapan bahwa setiap periode kepemimpinan harus melahirkan slogan baru. Padahal, pengalaman menunjukkan bahwa identitas daerah yang kuat justru lahir dari konsistensi, bukan perubahan.

Yogyakarta tetap dikenal sebagai kota budaya dan pendidikan. Bali bertahan dengan identitas pariwisata dan kebudayaan. Keduanya tidak bergantung pada perubahan slogan, melainkan pada keberlanjutan narasi.

Di titik ini, Sumenep menghadapi persoalan yang lebih mendasar: belum adanya konsensus tentang apa yang menjadi inti identitas daerah.

Jika ditarik benang merah, seluruh penanda yang pernah muncul sesungguhnya berasal dari satu akar yang sama: sejarah peradaban. Sumekar berbicara tentang kerajaan. Kota Keraton tentang pusat kekuasaan masa lalu. Kota Keris tentang warisan budaya. The Soul of Madura tentang posisi Sumenep dalam lanskap Madura.

Semua itu tidak saling bertentangan. Namun juga belum disatukan dalam satu gagasan besar yang bekerja sebagai arah pembangunan.

Di saat yang sama, Sumenep menghadapi tantangan nyata: kesenjangan wilayah daratan dan kepulauan, keterbatasan konektivitas, serta tekanan sosial-ekonomi yang berubah cepat. Dalam situasi seperti ini, identitas seharusnya tidak berhenti sebagai alat promosi, tetapi menjadi kompas kebijakan.

Tanpa itu, slogan mudah menjadi ornamen yang tidak memengaruhi arah pembangunan.

Sumenep tidak kekurangan cerita. Yang kurang adalah keberanian untuk memilih cerita utama, lalu menjadikannya fondasi bersama.

Sebab pada akhirnya, daerah tidak dikenang karena banyaknya slogan yang pernah dibuat, melainkan karena satu jati diri yang berhasil dijaga dan dipercaya bersama.

Dan bagi Sumenep, jati diri itu masih menunggu untuk ditegaskan.


||* Aktivis


Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.

Download sekarang!

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
Nordicnodes | professional saas tools for everyone.