|| Penulis : Sapa Redaksi*
Kenaikan harga Pertamax pada 10 Juni 2026 menjadi salah satu penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Harga Pertamax melonjak dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter atau naik 32,1 persen. Pada saat yang sama, Pertamax Green meningkat dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Sebaliknya, harga Pertalite tetap bertahan di level Rp10.000 per liter dan Biosolar subsidi Rp6.800 per liter.
Perubahan ini menciptakan kesenjangan harga yang sangat lebar. Jika sebelumnya selisih antara Pertamax dan Pertalite hanya Rp2.300 per liter, kini mencapai Rp6.250 per liter. Bagi pengguna kendaraan yang menghabiskan sekitar 100 liter BBM setiap bulan, perpindahan dari Pertamax ke Pertalite dapat menghemat hingga Rp625.000. Dalam kondisi daya beli yang belum sepenuhnya pulih, penghematan sebesar itu tentu menjadi pertimbangan rasional bagi banyak rumah tangga.
Karena itu, sulit menghindari kemungkinan bahwa Pertalite akan kembali menjadi tumpuan utama masyarakat. Kenaikan harga yang terlalu jauh hampir selalu mengubah perilaku konsumsi. Ketika pendapatan tidak bertambah secepat kenaikan biaya hidup, konsumen akan mencari pilihan yang paling murah dan paling mudah dijangkau.
Persoalannya, perpindahan konsumsi tersebut berpotensi menghadirkan konsekuensi fiskal yang tidak ringan. Data pemerintah menunjukkan biaya subsidi energi, listrik, dan pupuk pada Mei 2026 melonjak hingga 208 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Lonjakan itu terjadi bahkan sebelum dampak penuh kenaikan Pertamax terhadap pola konsumsi masyarakat terlihat.
Apabila migrasi pengguna Pertamax ke Pertalite berlangsung dalam skala besar, tekanan terhadap anggaran negara berpotensi semakin meningkat. Pemerintah memang mempertahankan harga Pertalite, tetapi menjaga harga tetap rendah ketika harga energi global dan biaya impor energi meningkat membutuhkan ruang fiskal yang tidak sedikit.
Kenaikan Pertamax juga menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi kerentanan struktural pada sektor energi. Harga BBM domestik tetap dipengaruhi oleh dua faktor utama yang sulit dikendalikan, yakni harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah. Ketika harga minyak internasional naik atau rupiah melemah terhadap dolar AS, biaya pengadaan energi ikut meningkat. Pada titik tertentu, pemerintah harus memilih antara menaikkan harga, memperbesar subsidi, atau membiarkan badan usaha energi menanggung beban lebih besar.
Dari sisi makroekonomi, pemerintah memperkirakan dampak inflasi akan relatif terbatas karena Pertamax bukan bahan bakar utama transportasi umum. Namun, dampak psikologisnya tidak dapat diremehkan. BBM merupakan salah satu komoditas yang paling cepat memengaruhi persepsi publik mengenai biaya hidup. Ketika harga BBM naik, kekhawatiran terhadap kenaikan harga barang dan jasa biasanya ikut menguat. Sementara itu, inflasi nasional pada Mei 2026 telah mencapai 3,08 persen, tertinggi dalam delapan bulan terakhir.
Hal lain yang perlu dicermati adalah fakta bahwa BBM yang mengalami kenaikan harga hanya mencakup sekitar 7 persen dari total penjualan BBM domestik. Artinya, sebagian besar konsumsi energi transportasi nasional masih bertumpu pada BBM yang harganya diatur pemerintah. Ketergantungan yang tinggi terhadap energi bersubsidi inilah yang membuat isu subsidi energi selalu menjadi persoalan strategis dalam pengelolaan APBN.
Pada akhirnya, kenaikan Pertamax bukan sekadar soal perubahan harga di SPBU. Ia mencerminkan tantangan ekonomi yang lebih luas: daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, ketergantungan terhadap energi bersubsidi yang masih tinggi, serta ruang fiskal pemerintah yang semakin sempit di tengah tekanan global.
Selama selisih harga antara Pertamax dan Pertalite tetap lebar, perpindahan konsumsi hampir tidak terhindarkan. Dan ketika Pertalite kembali menjadi pilihan utama jutaan pengguna kendaraan, pertanyaan yang muncul bukan lagi apakah beban subsidi akan meningkat, melainkan seberapa besar anggaran negara mampu menanggungnya.
||* Tim Kreator HarianJatim.Com
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.


