|| Penulis : Sapa Redaksi*
Pergantian tahun dalam kalender Masehi sering dirayakan dengan pesta dan hitung mundur. Namun dalam tradisi Islam, Tahun Baru Hijriah hadir dengan nuansa yang berbeda. Ia bukan sekadar penanda bergantinya waktu, melainkan pengingat terhadap sebuah peristiwa yang mengubah arah sejarah: hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.
Peristiwa itu terjadi pada tahun 622 Masehi. Dalam sejarah Islam, hijrah bukan hanya perpindahan geografis. Hijrah merupakan titik balik lahirnya sebuah komunitas yang kemudian berkembang menjadi peradaban besar yang memengaruhi dunia hingga hari ini.
Karena itulah ketika para sahabat pada masa Khalifah Umar bin Khattab menyusun sistem penanggalan Islam, mereka tidak memilih tahun kelahiran Nabi atau tahun turunnya wahyu pertama sebagai awal kalender. Mereka memilih peristiwa hijrah.
Pilihan itu bukan tanpa alasan.
Hijrah dianggap sebagai momentum ketika Islam tidak lagi hanya menjadi ajaran yang diperjuangkan dalam tekanan, melainkan mulai membangun tatanan sosial, politik, dan ekonomi yang lebih teratur. Di Madinah, Nabi Muhammad SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, menyusun kesepakatan hidup bersama lintas kelompok, serta meletakkan fondasi masyarakat yang berkeadilan.
Dari kota itu pula Islam berkembang melampaui batas-batas kabilah dan wilayah.
Mengapa Muharram Menjadi Awal Tahun?
Menariknya, hijrah Nabi Muhammad SAW tidak berlangsung pada bulan Muharram, melainkan sekitar Rabiul Awal. Namun para sahabat menetapkan Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah.
Sejarawan mencatat, keputusan tersebut berkaitan dengan posisi Muharram sebagai awal siklus tahun yang telah dikenal masyarakat Arab saat itu. Selain itu, bulan Muharram juga menjadi masa dimulainya tekad dan persiapan menuju hijrah.
Dengan demikian, Muharram tidak hanya menjadi awal penanggalan, tetapi juga simbol dimulainya perubahan.
Makna Hijrah di Masa Kini
Lebih dari 14 abad berlalu, makna hijrah tetap relevan.
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, hijrah dapat dimaknai sebagai keberanian melakukan transformasi diri. Bukan berpindah tempat, melainkan berpindah dari kebiasaan buruk menuju perilaku yang lebih baik, dari sikap apatis menuju kepedulian, dan dari perpecahan menuju persatuan.
Semangat hijrah juga mengajarkan bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari kekuatan yang besar. Sejarah menunjukkan bahwa peradaban sering lahir dari keberanian mengambil langkah pertama ketika situasi tampak tidak berpihak.
Refleksi Pergantian Tahun
Tahun Baru Islam pada akhirnya bukan sekadar pergantian angka dalam kalender.
Ia adalah undangan untuk merenungkan perjalanan hidup, mengevaluasi apa yang telah dilakukan, dan menyusun harapan baru untuk masa depan. Sebagaimana hijrah menjadi titik awal kebangkitan umat Islam, setiap pergantian tahun semestinya menjadi momentum untuk memperbaiki diri dan memperkuat kontribusi bagi masyarakat.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa, pesan hijrah tetap relevan: perubahan tidak lahir dari keluhan, melainkan dari keberanian mengambil langkah menuju keadaan yang lebih baik.
Para sahabat tidak memilih kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai awal kalender Islam. Mereka memilih hijrah, karena peradaban tidak lahir dari sebuah peristiwa, melainkan dari keberanian untuk berubah
||* Tim Kreator HarianJatiam.Com
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.


