Reporter: harian jatim
Malang-harianjatim.com. Di tengah geliat industri pariwisata berbasis alam, konsep ekowisata dinilai perlu dikembalikan pada tujuan awalnya: menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.
Ketua Program Studi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Awan Setia Dharmawan, mengatakan ekowisata tidak boleh dipahami sebatas aktivitas wisata yang menawarkan keindahan alam. Lebih dari itu, ekowisata merupakan pendekatan pembangunan yang mempertemukan kepentingan konservasi, edukasi lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.
“Ekowisata memiliki keterkaitan erat dengan keberlanjutan lingkungan, pendidikan lingkungan, serta pengelolaan destinasi yang berbasis pada kearifan lokal. Ketiga unsur tersebut merupakan fondasi yang tidak boleh diabaikan,” ujar Awan.
Menurut dia, meningkatnya tren wisata alam memang membuka peluang ekonomi baru bagi daerah. Namun, perkembangan tersebut harus diiringi dengan tata kelola yang memastikan alam tetap menjadi prioritas utama.
Sebab, ketika ekowisata hanya ditempatkan sebagai produk ekonomi, ada risiko nilai konservasi yang menjadi ruh utama justru terpinggirkan.
“Hindari ekowisata dari praktik kapitalisasi. Marwah ekowisata harus dikembalikan pada esensinya, yakni menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus menjadi media pendidikan lingkungan bagi masyarakat dan wisatawan,” tegasnya.
Awan menuturkan, ukuran keberhasilan ekowisata tidak semata dilihat dari tingginya angka kunjungan wisatawan maupun peningkatan pendapatan. Ada ukuran yang lebih mendasar, yakni terjaganya kualitas lingkungan, keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan, serta tumbuhnya kesadaran bersama untuk merawat sumber daya alam.
“Jangan sampai masyarakat sekitar hanya menjadi penonton dalam perkembangan pariwisata di wilayahnya sendiri,” katanya.
Ia menjelaskan, keterlibatan masyarakat lokal menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan sebuah kawasan ekowisata. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat ekonomi, tetapi juga aktor utama yang memiliki peran menjaga nilai budaya dan lingkungan.
Sementara itu, Pemerintah Kota Batu melalui Dinas Pariwisata terus mendorong pengembangan pariwisata berbasis eco-tourism dengan mengedepankan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan.
Pengembangan desa wisata diarahkan untuk memperkuat konservasi alam, pengelolaan sampah, edukasi lingkungan, serta peningkatan kapasitas masyarakat agar manfaat sektor pariwisata dapat berlangsung dalam jangka panjang.
Kolaborasi antara akademisi dan pemerintah tersebut menunjukkan bahwa masa depan ekowisata tidak hanya ditentukan oleh daya tarik destinasi, tetapi juga oleh kemampuan seluruh pemangku kepentingan menjaga keseimbangan antara ekonomi, sosial, dan ekologi.
Dengan prinsip tersebut, ekowisata diharapkan tidak sekadar menjadi tempat rekreasi, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran lingkungan dan menciptakan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.
(Rls/Red)


