Anggota DPR RI Komisi IV, Riyono : Harga Solar Non Subsidi Rp 15.000 per Liter, Stok dan Pasokan Harus Lancar

  • Bagikan
Anggota DPR RI Komisi IV Fraksi PKS, Riyono

Jakarta, Harianjatim.com – Anggota DPR RI Komisi IV Fraksi PKS, Riyono menyampaikan kepada media bahwa Harga solar non subsidi di Rp 15.000 per liter untuk stok dan pasokan harus aman dan tidak ada kata telat. Karena Presiden Prabowo Subianto memberikan harga khusus Bahan Bakar Minyak (BBM) Solar khusus bagi pengusaha nelayan sebesar Rp 15.000 per liter.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto juga menjelaskan, bahwa harga BBM non-subsidi sempat melonjak hingga Rp 21.300 per liter. Sementara untuk BBM nelayan di bawah 30 GT sudah diberikan harga BBM subsidi sebesar Rp 6.800 per liter.

Airlangga menjelaskan harga BBM non-subsidi ini dipatok berdasarkan harga rata-rata produksi Solar di dalam negeri yaitu Rp 18.600 per liter. Artinya dengan harga khusus Rp 15.000 per liter, pemerintah memberikan subsidi sebesar Rp 3.600 per liter.

Sementara itu, Anggota DPR RI Komisi IV Fraksi PKS, Riyono mengapresiasi atas keberpihakan Presiden Prabowo kepada nelayan, karena jeritan lonjakan harga didengarkan.

“Pertama tentu kebijakan ini kita apresiasi dan berikan point keberpihakan Presiden kepada nelayan, jeritan lonjakan harga di dengarkan oleh Presiden Prabowo,” ungkapnya.

Menurut Riyono Caping Susbidi 3600 rupiah per liter harus diterima dan dimanfaatkan sebaik – baiknya demi kehidupan dan kelancaran usaha sektor perikanan yang menopang PNBP dalam jumlah yang besar.

Adapun, kebijakan harga khusus bagi pengusaha nelayan ini diberikan dengan kuota sebesar 400.000 ton untuk enam bulan ke depan.

“Kuota 400.000 ton dengan subsidi 3600 harus di amankan oleh Pertamina mulai dari stok sampai rantai pasoknya betul – betul sampai kepada nelayan yang memiliki kapal 30 – 200 GT,” terang Riyono Caping.

Sebelum keputusan diambil oleh Presiden terkait harga BBM kondisi zona penangkapan sejak April 2026 sepi dan menurun aktivitasnya. Zona di laut Natuana Utara, Maluku, Laut Jawa sampai Papua terlihat sepi dan tentu berpengaruh kepada pendapatan mulai buruh kapal dan ekonomi pesisir.

“BBM adalah 60% modal bagi nelayan dan juga pemilik kapal untuk bisa bekerja, kita harus memastikan sektor hulu berupa penangkapan ikan sampai pengolahan dan ekspor perikanan harus terus tumbuh,” jelasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
For me, coding and music production are two sides of the same coin : it’s all about creating something impactful from scratch.