Probolinggo.HarianJatim.Com — Lakpesdam Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Paiton menggelar program Go to School di MAN 1 Probolinggo Putri, Selasa (14/07/26). Kegiatan bertema Mengenal, Memahami & Membentengi Generasi Muda ini bertujuan memberikan edukasi tentang paham Ahlussunnah Wal Jamaah an-Nahdliyah (Aswaja) kepada para pelajar sebagai upaya membentengi mereka dari pengaruh pemikiran ekstrem.
Pembina kegiatan, Masruroh, menegaskan bahwa pemahaman Aswaja an-Nahdliyah sangat mendesak diberikan kepada generasi muda. “Saat ini banyak paham-paham yang menyimpang dari ajaran Rasulullah SAW,” ujarnya kepada para peserta.
Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton sekaligus sebagai pemateri , Ponirin Mika, menjelaskan bahwa program ini merupakan agenda rutin lembaganya untuk mendatangi sekolah dan madrasah di wilayah Paiton. “Kita ingin pelajar selamat dari pemikiran ekstrem,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, para siswi mendapatkan materi sejarah Aswaja yang dimulai sejak masa Rasulullah SAW hingga kodifikasinya oleh Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi pada abad ke-9 Masehi. Peserta juga diperkenalkan dengan empat pilar utama Aswaja, yakni tawassuth (moderat dan tidak ekstrem), tawazun (seimbang antara dunia dan akhirat), i’tidal (tegak lurus, adil, dan konsisten), serta tasamuh (toleran dan menghargai perbedaan tanpa mengorbankan prinsip).
Materi dilanjutkan dengan pengenalan Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia yang didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada 31 Januari 1926 di Surabaya, dengan lebih dari 100 juta warga NU yang tersebar di seluruh Indonesia. Para siswi juga dipaparkan tiga pilar ajaran utama NU, yaitu akidah Asy’ariyah-Maturidiyah, fikih dengan mazhab dominan Syafi’i, serta tasawuf yang mengikuti tradisi Al-Ghazali dan Al-Junaid.
Tak hanya itu, peserta juga dibekali kemampuan mengenali aliran-aliran yang dinilai menyimpang dari Aswaja, seperti Wahabi/Salafi ekstrem yang menolak mazhab dan mengkafirkan tradisi NU, Hizbut Tahrir (HTI) yang menolak NKRI dan demokrasi, hingga kelompok Takfiri yang membenarkan kekerasan atas nama jihad. Pengenalan ini, ditegaskan dalam materi, bukan untuk membenci, melainkan untuk meningkatkan kewaspadaan.
Pelajar juga diingatkan tentang ancaman nyata di era digital. Video dan meme provokatif yang mengkafirkan tradisi NU seperti tahlilan, ziarah, dan maulid kini tersebar luas di WhatsApp dan YouTube. Selain itu, kelompok radikal diketahui aktif merekrut anggota baru melalui grup Telegram dan Discord dengan konten yang dikemas menarik bagi kalangan muda. Pengisi kajian tanpa latar belakang pesantren yang dikenal sebagai “ustaz tanpa sanad” juga disebut sebagai salah satu ancaman yang perlu diwaspadai.
Kegiatan ini ditutup dengan ajakan kepada pelajar untuk menjalankan enam peran penting: mempelajari dan mengamalkan Aswaja, menerapkan prinsip saring sebelum sharing dalam konsumsi konten keagamaan, menjadi duta NU di lingkungan sebaya, aktif bergabung di organisasi IPNU, IPPNU, atau Ansor, melaporkan konten radikalisasi kepada guru atau pihak berwenang, serta bangga menjadi muslim yang moderat, toleran, dan cinta tanah air.
Kegiatan ditutup dengan p sabda Nabi Muhammad SAW: “Barangsiapa berpegang teguh kepada sunnahku di saat umatku rusak, maka baginya pahala seratus syuhada.” (HR. Abu Dawud & At-Tirmidzi).


